Sah.
Satu kata itu baru saja mengubah hidup Suci.
Ijab kabul selesai, disusul sesi foto singkat yang terasa seperti formalitas. Setelah itu, suasana kembali tenang di unit apartemen tempat ia dan Arif akan tinggal selama satu tahun ke depan. Atau, mungkin kurang dari itu jika Arif ingin menyudahi kontraknya lebih cepat.
Penghulu sudah pulang. Sahli juga sudah pergi setelah bicara empat mata dengan Arif. Kedua teman pria Arif yang menjadi saksi pun telah meninggalkan unit sejak beberapa saat yang lalu.
Kini, Suci berdiri canggung di samping sofa, jemarinya saling bertaut tanpa sadar. Kebaya putih sederhana yang masih ia kenakan menjadi bukti nyata, bahwa yang dilaluinya barusan bukanlah mimpi.
Di sisi lain, Arif berdiri tidak jauh darinya. Melepaskan jasnya dengan gerakan tenang, lalu meletakkannya di sandaran sofa. Ekspresinya datar, seolah pernikahan yang baru saja terjadi bukan sesuatu yang berarti.
Tidak ada ucapan selamat.
Tidak ada senyum.
Hanya dua orang asing yang kini terikat dalam satu status, dengan dua tujuan yang berbeda.
“Sudah siapkan surat-surat yang aku minta?” tanya Arif sembari duduk di sofa. Ia merentangkan satu tangan ke arah Suci, lalu meminta gadis itu duduk pada sofa tunggal di sampingnya. “Karena besok pernikahan kita langsung diurus di KUA.”
“Suratnya sudah siap, Pak,” jawab Suci tetap terpaku di tempatnya, “Bapak mau ambil sekarang–”
“Besok pagi aja,” putus Arif lalu menghela panjang, “dan segera urus pengunduran dirimu sama Mila. Tapi, jangan bilang kalau kamu berhenti karena menikah. Biarkan dia tahu semuanya dari orang lain.”
“Ohh …” Suci tidak punya pilihan selain mengangguk. Namun, sebenarnya ia sudah memiliki sebuah alasan untuk mengundurkan diri. Bahkan, Suci juga sudah mencari pengganti dirinya. “Beres, Pak.”
“Jangan lagi panggil Bapak. Apalagi nanti, kalau kita ketemu ibuku.”
Suci menggaruk lehernya. “Jadi, saya panggil Mas?”
“Boleh.” Arif mengangguk. “Dan nggak usah pake saya.”
“Iya, Mas.” Suci balas mengangguk meski semakin dilanda kecanggungan yang luar biasa. “Tapi … kapan kita ketemu sama ibunya Mas Arif.”
“Emm …” Arif mengetuk-ngetuk sandaran sofa sembari berpikir. “Begitu buku nikah keluar, kita temui ibuku. Tapi, kalau dia mendadak ngajak makan malam, kita datang!”
Suci menyentuh dadanya dengan kedua tangan. Merasakan debaran jantung yang mendadak bertalu kencang, sehingga napasnya terbuang begitu panjang.
“Tapi, Mas … Mas Arif mau saya, maksudnya … aku harus seperti apa waktu ketemu dengan ibunya Mas?”
“Cukup jadi dirimu sendiri,” jawab Arif tenang. “Tapi, aku minta siapkan mentalmu baik-baik karena semua omongan ibuku nggak akan ada yang enak didengar dan pasti bikin kamu sakit hati”
Suci tersenyum hambar. “Kalau yang gitu-gitu, sudah biasa. Jadi, nggak ada masalah.”
Mulut Arif terbuka, tetapi, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Di satu titik, ada rasa bersalah karena harus melibatkan Suci dalam “pembalasan” sakit hatinya. Namun, semua sudah terjadi dan Arif tidak ingin mundur meski ia bisa membatalkan kontrak secara sepihak.
Entahlah. Arif hanya berharap Deswita bisa berubah menjadi lebih baik lagi setelah mendapat “pelajaran” darinya nanti. Ibunya itu juga harus belajar untuk menghargai dan menghormati orang lain, tanpa memandang status sosialnya.
“Kamu bisa istirahat sekarang,” ujar Arif ingin segera mengakhiri pembicaraan mereka. Semakin lama, ia semakin merasa canggung ketika hanya berada berdua di satu ruangan dengan Suci. “Masuklah ke kamar.”
Sepertinya, Arif harus mulai membiasakan diri dengan hal ini agar mereka bisa bekerja sama dengan baik ke depannya.
“Iya, Mas … permisi.”
💙💙💙💙💙💙💙
“Pagi,” sapa Arif, langkahnya terhenti di sudut kitchen island. Matanya mengikuti gerak-gerik Suci yang sedang berkutat dengan kompor. Gadis itu sepertinya tengah menghangatkan sisa sajian tadi malam.
Pagi ini adalah pagi pertama bagi Arif menempati apartemen yang disewanya. Dan semalam, menjadi malam pertama ia menginap di sana setelah resmi menyandang status sebagai suami Suci.
Semua terasa baru, sekaligus asing. Terlebih dengan statusnya saat ini. Yakni, seorang suami.
Arif membuang napas pelan. Untuk sesaat, muncul rasa sesal karena jalan yang ia pilih memang terdengar tidak masuk akal. Mungkin ucapan Bias benar, ia sudah gila karena memilih menikah kontrak dengan Suci.
Akan tetapi, jika Arif tidak melakukan kegilaan ini, Deswita pasti tidak akan pernah berubah. Ibunya akan tetap arogan dan memandang seseorang hanya dari status sosialnya saja.
“Oh, pagi, Mas.” Suci merespons dan menoleh cepat ke arah suara. Ia tersenyum, meski rasa canggung mulai mendera. “Aku lagi manasin sisa makanan tadi malam. Nasinya juga sudah mateng. Mas mau sarapan? Atau masih kepagian?”
“Maaf kalau merepotkan,” ucap Arif kemudian duduk di stool bar. “Tapi, besok-besok kamu nggak perlu seperti ini.”
“Nggak papa kok, Mas,” ucap Suci kembali fokus pada wajan di kompor. Gerakannya sedikit terburu, mencoba mengalihkan rasa kikuk yang tiba-tiba muncul. “Ini udah kerjaan tiap pagi kalau di rumah. Jadi, saya nggak repot.”
Arif mengangguk pelan, tetapi tatapannya belum juga lepas dari Suci. Seperti biasa, gadis itu mengikat rambut seadanya. Saat sempat menoleh tadi, wajahnya tampak polos, tanpa polesan apa pun. Hanya terlihat sisa kantuk yang masih menggantung di pelupuk mata.
Tampaknya, Suci tidak bisa tidur dengan nyenyak tadi malam. Tidak hanya Suci, tetapi ia pun mengalami hal yang serupa.
“Mas mau kopi atau teh?” tanya Suci setelah mematikan kompor dan berbalik.
“Nggak usah repot-repot,” ucap Arif, “nanti aku bikin sendiri.”
Suci mengangguk pelan, tidak membantah atau memaksa. Ia tahu batasannya, atau mungkin ia sendiri masih bingung bagaimana harus bersikap sebagai seorang istri dalam ikatan kontrak bersama Arif.
Kemudian, jemarinya menunjuk ke sudut meja kitchen set.
“Kopi, teh, sama gulanya ada di sana, Mas,” ujar Suci memberi tahu karena pagi ini adalah pagi pertama Arif tinggal bersamanya.
“Jadi, kamu sudah belanja keperluan dapur?” tebak Arif baru menyadari hal tersebut. Matanya menyapu deretan toples yang tertata rapi di sudut kitchen set.
Suci mengangguk kecil sambil memindahkan bistik ke piring yang sudah disiapkan. “Iya, Mas. Aku sudah belanja dikit buat keperluan dapur. Aku pikir, Mas juga pasti butuh kopi atau teh kalau pagi, jadi aku beli sekalian.”
“Kamu juga beli … wajan?” Arif juga baru menyadari wajan berukuran sedang yang ada di atas kompor.
Suci kembali mengangguk. Meletakkan piring berisi bistik di kitchen island. “Aku cuma beli wajan, air galon, sama magic com. Kalau dispenser di sini sudah ada.”
“Biar aku ganti uangnya, nanti kamu totalin habis–”
“Nggak usah, Mas,” potong Suci cepat, sebelum Arif menyelesaikan kalimatnya.
“Kenapa? Itu kan, keperluan pokok yang harus aku tanggung. Begitu perjanjiannya.”
“Nggak semua harus dijalani sesuai dengan isi kontrak,” balas Suci tersenyum kecil. Ia melipat kedua tangan di atas kitchen island dan sedikit mencondongkan tubuh. “Anggap, kita ini kayak … emm … intinya, transferan Mas Arif kemarin itu kan, lebih. Totalnya 125 juta. Jadi ya, udahlah. Aku buat beliin keperluan di sini.”
“Tapi Ci, dari awal itu semua tanggung jawabku,” ujar Arif sedikit tidak enak hati. “Jadi, jangan pake uangmu.”
“Mas.” Suci menegakkan tubuh. Mencoba menatap tegas, meski terasa kikuk. “Biarkan aku berkontribusi walau cuma sedikit. Karena apa? Karena aku juga tinggal di sini. Aku nggak mau ngerasa …”
Suci menjeda kalimatnya untuk mencari kalimat yang pas.
“Kayak cuma numpang di sini,” lanjut Suci memelankan suaranya.
“Ini bukan soal kamu numpang atau nggak,” balas Arif memberi penjelasan. Ia tidak ingin Suci menjadikan kontrak di antara mereka sebagai beban. “Tapi, ini soal tanggung jawab.”
Suci membuang napas pelan. “Kalau begitu, anggap ini sebagai bagian dari tanggung jawabku juga.”
“Suci–”
“Mas.” Suci kembali memotong dengan berani. Meski, jantungnya mulai berdebar tidak menentu saat melihat tatapan Arif padanya. “Masalah dapur, biar jadi bagianku. Selama satu tahun ke depan, aku mau fokus belajar masak. Karena setelah kontrak kita selesai, aku mau buka usaha kecil-kecilan. Jadi tolong, untuk yang satu ini, jangan didebat!”
💙💙💙💙💙💙💙
NOTE: Ceritanya dilanjut setelah surat cintanya turun, ya~~
Mohon sabar menunggu 🙏🥰💙