24~Sweet Dreams

1206 Words

Muak. Deswita benar-benar muak melihat kedekatan Suci dan putranya di depan mata saat makan malam tiba. Di mana Suci berada, di situlah Arif menempel dengan eratnya. Dan bagi Deswita, semua hal yang dilihatnya saat ini hanyalah sandiwara. “Arif,” panggil Deswita datar. “Bunda mau tanya.” “Ya, silakan,” ucap Arif sambil menikmati makan malam yang sudah disiapkan Suci. Gadis itu bahkan mengambilkannya nasi, lauk, dan menyiapkan air yang sudah dituang di gelas. Suci benar-benar memainkan perannya sebagai istri dengan baik. “Kapan Suci ulang tahun?” tanya Deswita tanpa melepas tatapan dari Arif untuk mengamati ekspresi putranya. “Suci, diam! Jangan bicara!” serunya sebelum gadis itu membuka mulut. Gerakan tangan Arif terhenti seketika. Sendok yang baru terangkat, perlahan turun kembali

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD