"Keluar Mahkota belok kiri, mobil merah depan optik Prima." Sambil berjalan keluar, Suci membaca pesan Arif dengan tangan yang tremor. Hawa dingin yang menyelimutinya selama di ruang VIP bersama Deswita perlahan luruh, berganti rasa panas yang menjalar ke seluruh tubuh. Meski begitu, debaran jantungnya belum juga terasa normal. Begitu keluar dari toko perhiasan, Suci menarik napas dalam-dalam. Ia berusaha keras menjernihkan kembali pikirannya yang masih kacau, pasca percakapan menegangkan dengan Deswita. Suci tersentak saat ponsel di tangannya bergetar dan berdering. Melihat nama Arif muncul di layar, ia buru-buru menerima panggilan itu sambil berjalan mengikuti petunjuk dari pesan yang tadi dikirim pria tersebut. “Aku otewe, Mas,” ucap Suci cepat. Ia menyusuri deretan ruko sambil men

