Lucas terdiam, ia bahkan sampai menahan napas saking takutnya Indira akan mendengar debaran jantungnya yang tidak lagi normal. Hingga denting suara pintu, membuat napasnya kembali lega. “Kamu sudah sampai,” ujarnya sembari menatap panel lift sementara tangannya menekan tanda agar pintu tetap terbuka. Ia sengaja melakukan itu, karena tak sanggup menatap mata perempuan yang diam-diam mulai menguasai hatinya. Indira mengedikkan pundaknya. Ia sadar posisinya hanyalah seorang pasien bagi Lucas. Namun perhatian Lucas membuatnya serakah dan menginginkan sesuatu yang lebih. Dengan langkah gontai, ia keluar dari dalam ruangan sempit itu. “Besok, kami akan meninggalkan hotel ini. Pengambilan gambar sudah selesai,” ucap Indira tanpa menoleh sedikitpun. “setelah malam ini, kita hanya bisa ber

