“Bukan gitu maksudku, Indy.” “Lalu apa? Apa kalau kamu yang makan, lalu bisa buat aku kenyang? Atau … kamu yang sakit, lalu aku yang dioperasi biar penyakit kamu sembuh, gitu?” Marcel menghela napas, seolah sedang menahan emosinya yang hampir meledak. “Maksud aku, mereka itu cuma pelampiasan buatku. Mereka alat yang kupakai, tanpa cinta,” jelasnya, “karena … kamu satu-satunya perempuan yang aku cintai, Indy.” “Oh,” sahut Indira singkat. Marcel menghela napas. Ia merasa lega seolah penjelasannya bisa diterima dengan baik oleh Indira. Lelaki itu menghentikan langkahnya. Ia menunjuk ke sebuah kursi ayunan yang sekitarnya dipenuhi oleh bunga lavender. “Kamu ingat, saat kita masuk ke rumah ini. Kamu pernah menginginkan kursi ayunan, kan,” ucap Marcel dengan bangga, “aku sudah mewuju

