“Abang cuma mau bantu kamu —” Suara denting pintu terbuka. Sosok lelaki bertubuh tegap berdiri tepat di depannya. Sorot cahaya dari jendela, memperlihatkan siluet yang sangat dikenal oleh Indira. Tanpa basa-basi, satu tendangan mendarat di perut lelaki muda itu. Tendangan yang membuatnya terhuyung ke belakang dengan kepala membentur dinding ruang persegi itu. Indira membelalakkan matanya. Tendangan kuat itu bahkan membuat lelaki muda bertubuh kerempeng itu tak sadarkan diri. “Lucas, jangan!” tahan Indira saat melihat lelaki berahang tegas itu menghampiri, hendak memberikan tendangan berikutnya. “Aku nggak mau kamu ditahan hanya karena dia.” Lucas menurunkan kakinya. Ia menatap perempuan cantik di hadapannya dengan cemas. “Kamu nggak papa, kan?” Indira menggigit bibirnya lagi. Ras

