1. Antara Bodoh dan Bucin

1313 Words
Vania menekan tombol samping jam tangannya, layar digital itu menyala, 30 menit terlewat dari satu jam yang lalu saat dia datang. Yang artinya dia sudah menunggu selama satu setengah jam lamanya. Jari-jarinya dingin, padahal ruangan restoran berpendingin normal. Di atas meja, kotak kue tart berwarna krem masih terikat rapi oleh pita emas. Happy First Anniversary. Tulisan itu seolah mengejeknya. Matanya beralih ke ponsel yang terbaring diam di sisi piring kosong. Tanpa notifikasi. Tanpa suara. Padahal sejak tadi pagi dia sudah mengirim tiga pesan dan satu panggilan tak dijawab. Jarak jempol ke layar terasa berat setiap kali dia membuka obrolan mereka, centang biru tak kunjung muncul. Vania menarik napas, membiarkan dadanya naik turun. Kukunya menggurat pinggiran kotak kue, lambat, seperti ingin menahan sesuatu yang sudah terlalu sering ditahan. Mulai kehabisan kesabaran, dia bangkit berdiri dan membawa kue tartnya, bukan untuk dibawa pulang tapi dia membuangnya di kotak sampah depan restoran itu. Jari-jarinya membuka tutup kotak, melihat sejenak kue tart ukuran kecil dengan taburan cokelat dan satu lilin berbentuk angka satu yang ikut terselip. Dia membalikkan kotak. Isinya jatuh dengan bunyi yang pelan. Pita emas tersangkut sebentar di tepi tempat sampah, lalu ikut terlepas. Vania menutup tempat sampah, lalu mengusap kedua telapak tangannya. Di luar, angin malam menyentuh lengannya yang terbuka. Dia memesan taksi dan memilih untuk pulang. Taksinya tiba. Pintu terbuka, Vania masuk tanpa berkata apa-apa pada sopir. Mobil merayap di jalanan malam Minggu. Lampu-lampu kota berpendar redup di kaca samping. Dia mulai membuka aplikasi pesan instan, lalu mengetik dengan cepat tanpa keraguan. [Kita putus!] Dua kata itu diketik dengan diiringi air mata Vania yang menetes. Tangannya mengusap pipinya kasar, matanya memerah. Bukan sekali ini saja Eric tidak tepati janji, pria itu sering kali telat, bahkan mendadak membatalkan janji mereka dan lebih mengutamakan kliennya. Vania bukannya egois, dia sudah sering kali mengalah, tapi Eric seperti masa bodoh. Dan sekarang dia lelah, lelah hati dan pikiran. Jadi dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Di luar, jalanan padat. Klakson berbunyi dari kejauhan. Tapi di dalam mobil, yang terdengar hanya suara napasnya yang tertahan. Ponsel di pangkuannya bergetar. Getaran itu terasa sampai ke tulang pahanya. Layar menyala nama Eric muncul di sana. Satu getaran. Dua. Tiga. Vania menatap nama itu sampai layar kembali gelap. Getaran berikutnya datang lima detik kemudian. Lagi-lagi dia hanya menatap, sambil jari-jarinya tanpa sadar menggenggam ujung sweaternya lebih erat. Di luar, lampu lalu lintas berubah hijau. Mobil mulai melaju lagi. Dan di pangkuannya, ponsel itu kembali bergetar untuk ketiga kalinya. Taksi merayap pelan di jalan kompleks, suara mesin menurun seiring mobil mulai melambat. Vania menekan tombol kaca, membiarkan udara malam masuk ke dalam kabin. Begitu mobil berhenti tepat di depan pagar rumahnya, dia keluar, dan pintu taksi tertutup dengan bunyi pelan di belakangnya. Di luar, udara terasa lebih dingin dari yang dia ingat. Atau mungkin dia baru menyadarinya sekarang. Vania menghela napas, membiarkan beban di dadanya keluar sedikit. Tangannya meraih gagang pagar, saat jari-jarinya menyentuh besi dingin itu, tiba-tiba cahaya putih menyilaukan matanya. Ssssstt ... suara ban berhenti mendadak di aspal. Dia mengernyit, mengangkat satu tangannya untuk melindungi mata dari sorot lampu mobil yang baru saja parkir di depan rumahnya. Pintu mobil terbuka. Sepatu pantofel menghantam aspal dengan langkah tergesa. Vania menoleh. Sosok itu masih mengenakan jas hitam, kemeja putih di dalamnya, dasi masih terpasang rapi meskipun jam sudah menunjukkan lewat sembilan malam. Rambutnya sedikit berantakan, tapi tidak terlalu, seolah dia sempat menyisirnya cepat sebelum turun. "Vania, maafkan aku," ucap Eric, napasnya tersengal meski baru berjalan beberapa langkah. Vania mengalihkan pandangan ke sisi lain. Matanya menatap pagar rumahnya sendiri, tapi tidak benar-benar melihatnya. Telinganya menangkap suara langkah Eric yang mendekat, bau parfum samar yang dikenalnya, parfum yang biasa dia belikan untuk ulang tahun pria itu. Tangan Eric menyentuh pergelangan tangannya. Hangat. Tapi Vania tidak membalas. "Aku ada ketemu klien, Van. Aku lupa kabari kamu. Aku baru baca pesan kamu yang tadi pagi, maaf." Suara Eric terdengar terburu-buru, seperti ingin segera menutup celah sebelum dia bicara lebih banyak. Vania menarik tangannya perlahan. Selalu seperti itu. Kini jari-jarinya terkepal di sisi tubuh. "Kamu terlalu sibuk," katanya. Suaranya terdengar datar, tapi ada getar di akhir kalimat. "Gak pernah ada waktu untuk aku. Lebih baik kita bubaran. Karena enggak ada gunanya juga kita pacaran, kamu gak pernah ada buat aku." "Van, please, jangan mutusin sendiri." Eric melangkah maju, bayangannya jatuh menutupi tubuh Vania dari lampu jalan. "Aku gak mau kita putus. Maafkan aku karena .…" "Kamu gak tau kan hari ini hari apa?" Vania memotong, menatap Eric sekarang. Matanya memerah, tapi dia menahan. "Makanya kamu sok sibuk dengan semua kerjaan kamu. Gak peduli dengan aku yang sudah nungguin kamu berjam-jam tanpa kabar." Dia berhenti, menelan ludah. "Gak masalah, sekarang kamu bebas bisa abaikan aku semaumu." "Vania." Eric kembali meraih tangannya. Kali ini jari-jari pria itu menggenggam lebih erat, seolah takut dilepaskan. "Kamu harus mengerti, aku … pekerjaan aku penting." Vania tertawa kecil. Tidak lucu. Hanya hembusan napas yang keluar pahit. "Ya, aku tau. Pekerjaan kamu penting, dan aku gak penting, makanya aku mau kita udahan aja agar kamu fokus sama kerjaan kamu." Dia menatap lurus ke mata Eric. "Puas?" Eric membisu. Rahangnya mengeras. Perlahan, dia melepas genggamannya. Jari-jarinya bergerak ke saku celana, merogoh sesuatu. Saat tangannya keluar lagi, ada kotak beludru berwarna hitam di telapak tangannya. Vania menatap kotak itu. Pupilnya melebar sedikit. Eric membuka kotaknya. Di dalam, cincin emas dengan batu kecil bersinar di bawah lampu sorot mobil yang masih menyala. Vania tidak bisa mengalihkan matanya. "Aku berniat untuk lamar kamu." Kata-kata itu terdengar jelas, tapi Vania merasa seolah baru saja disiram air dingin. Dia mengerjap, sekali, dua kali, mencoba mencerna. Eric menurunkan satu lututnya ke aspal. Jas hitamnya mengikuti gerakan itu, sedikit mengumpul di lutut yang menapak aspal kasar. "Ngapain kamu?" Suara Vania keluar lebih tinggi dari yang dia inginkan. "Vania, maukah kamu nikah sama aku?" ucap Eric tanpa beban. Pintu rumah di belakangnya terbuka. Suara engsel berderit diikuti cahaya teras yang menyala. "Vania sedang apa di luar?!" Itu suara ayahnya. Vania menoleh ke belakang. Ayah dan ibunya berdiri di ambang pintu, ibunya memegang kardigan di lengan, ayahnya masih dengan piyamanya. "Pa." Vania memutar kepalanya bolak-balik, dari orang tuanya yang tampak terkejut, ke Eric yang masih berlutut di depan pagar. Rini, ibunya, membawa telapak tangan ke mulut. Matanya membulat melihat posisi Eric yang mirip seperti orang yang sedang melemar. "Ya ampun, Eric." Dia langsung melangkah keluar, sandal jepitnya berdecit di lantai teras. "Ayo, Vania, tunggu apalagi. Terima aja!" Vania merasakan dadanya sesak. Jari-jarinya mengepal di sisi tubuh. Dia menatap Eric, pria yang tadi siang tak membalas pesannya, pria yang membuatnya membuang kue tart ke tempat sampah, pria yang kini berlutut di hadapannya dengan cincin di tangan. "Vania, kamu mikirin apa sih, cepat terima lamarannya." Sang ibu terus mendorong pelan lengannya. Suara tetangga mulai terdengar samar dari kejauhan menambah semarak di malam yang dingin itu. Vania memejamkan mata. Dalam gelap kelopaknya, dia melihat kue tart yang jatuh ke tempat sampah, pita emas yang tersangkut, panggilan tak dijawab yang berulang kali. Dengan embusan napas panjang, akhirnya dia mengangguk. Sekali. Perlahan. Seolah keputusan mengakhiri hubungan dengan pria itu tadi hanya angin lalu. Eric menghela napas lega dan tersenyum. Tangannya yang sedikit gemas memasangkan cincin ke jari manis Vania. Logam dingin itu melingkar di jari yang beberapa jam lalu masih memegang ponsel dengan pesan putus. Dari dalam rumah, seorang tetangga bertepuk tangan. Ibu Vania ikut bertepuk dengan mata berkaca-kaca. Ayahnya hanya tersenyum sambil menggeleng kecil. Vania berdiri diam. Jari-jarinya menyentuh cincin yang kini melingkar di jari manisnya. Eric kembali berdiri tegak di sebelahnya. "Kamu nyebelin tau!" Eric tersenyum tipis. "Aku tau." Vania tersenyum memperhatikan cincinnya, lalu dia menyelipkan tangannya pada lengan Eric, tapi tiba-tiba saja Eric, melepaskan tangannya. "Kamu kenapa deh?" tanya Vania, matanya menatap penuh curiga. "Maaf, ada panggilan telepon, Van," ucapnya beralasan seraya mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Di kejauhan, lampu sorot mobil Eric masih menyala. Vania memandangi punggung belakang Eric yang sedang menerima panggilan telepon.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD