4. Lamaran

1419 Words
Vania memegang ponselnya erat-erat, jari-jarinya memutih menekan sisi casing. Di seberang sambungan, suara Eric terdengar datar seperti biasa, tapi kali ini Vania tidak peduli. Dia sudah terlalu kesal. "Aku gak ngerti sama adik kamu," katanya, suaranya naik setengah oktaf. "Dia bilang aku gak boleh nikah sama kamu. Dia gak kasih tau alasannya apa. Dia cuma bilang kalau aku pasti bakal nyesel nikah sama kamu. Kamu kenapa memangnya?" Di seberang sana, Eric menarik napas panjang. Vania bisa mendengar suara hembusan itu jelas, seperti orang yang sedang menahan sesuatu. "Kita besok lamaran, lho," sambung Vania, langkah kakinya mondar-mandir di kamar. Matanya menatap kebaya yang tergantung di lemari, kebaya krem yang akan dia kenakan besok. "Kenapa ada kayak gini coba? Di sini mama aku udah ngurusi macam-macam. Tetangga udah pada tau, keluarga besar udah pada datang besok. Kalau tiba-tiba ada masalah gara-gara adik kamu—" "Vania." Suara Eric memotong, masih datar. "Jangan dengarkan ucapan Dastan. Biar aku yang urus. Kamu fokus saja ke acara besok." "Tapi adik kamu—" "Dastan biar aku yang urus." Kali ini suara Eric sedikit lebih tegas. "Kamu tenang aja." Vania menggigit bibir bawahnya. Jari-jarinya meremas ujung kaus yang dia kenakan. "Dia nyebelin." "Ya, aku tau." Ada jeda. "Sudah dulu, ya, nanti kita bicarakan lagi." Sebelum Vania sempat menjawab, ponselnya bergetar, tanda panggilan berakhir. Vania menatap layar ponsel yang menampilkan durasi panggilan, 2 menit 14 detik. Dua menit. Hanya dua menit untuk membahas adiknya yang datang ke rumah sakit dan mengancamnya. Vania melemparkan ponsel ke atas kasur. Terdengar bunyi pelan di atas selimut. Tangannya menekan pelipis yang mulai berdenyut. *** Eric meletakkan ponsel di meja samping tempat tidur. Layarnya masih menyala sebentar sebelum akhirnya berubah gelap. Dia mengembuskan napas panjang. Udara keluar dari paru-parunya seolah membawa beban yang tidak terlihat. "Sialan, Dastan." Eric berdiri. Jari-jarinya menyisir rambut ke belakang, lalu dia berjalan keluar dari kamar. Langkahnya berat di lorong yang gelap. Dari jauh, aroma masakan ibunya tercium sampai ke hidung. Semur ayam. Harum kecap dan bawang goreng yang dulu selalu membuatnya lapar. Tapi malam ini, perutnya terasa mual. Meja makan sudah tertata. Piring-piring putih bersih, sendok garpu berkilap. Disya duduk di ujung meja, menatapnya dengan senyum saat Eric muncul. Dastan sudah ada di sana. Duduk di sisi kiri meja, punggungnya bersandar di kursi, satu tangan memainkan gagang sendok. Rambutnya yang sedikit lebih panjang dibiarkan tergerai, dan senyum kecilnya, saat sedang berbicara dengan ibunya. Senyum yang sama yang Eric ingat dari masa kecil, terukir di sudut bibir. "Eric, sini makan." Disya menuang air putih ke gelas masing-masing. Suara air jatuh ke gelas terdengar jernih. Eric duduk tanpa bicara. Kursinya berdecit pelan. Dastan tidak bicara. Matanya hanya memperhatikan Eric, seperti sedang membaca sesuatu di wajah kakaknya. Mereka duduk bertiga. Disya di ujung, Eric di kanan, Dastan di kiri. Jarak meja hanya selebar satu meter, tapi rasanya seperti ada lautan di antara dua bersaudara itu. "Sudah hubungi Vania, untuk acara besok?" Disya memulai percakapan sambil mengambil sendok. Semur ayam dituang ke piringnya. "Sudah, Ma," jawab Eric, matanya tertuju pada piring. Tangan kanannya memegang sendok, tapi belum disentuhnya. "Katanya semua sudah hampir siap. Mama ajak siapa besok?" Disya mengunyah pelan, menelan, lalu menjawab. "Mama akan minta Om Arif dan Tante Fatma yang akan temani kita." Eric mengangguk. Sendoknya akhirnya menyentuh nasi. Dia makan, tapi rasanya seperti menelan kapas. Dastan menyimak. Tidak berbicara. Hanya sesekali melihat ke arah Eric, lalu ke ibunya, lalu kembali ke piringnya. Eric tidak menegurnya. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulut Eric tentang Vania, tentang kunjungan Dastan ke rumah sakit, tentang ancaman itu. Dia hanya makan. Dalam diam. Dastan tersenyum kecil. Mungkin hanya bayangan, tapi Eric melihatnya. Senyum itu muncul di sela-sela suapannya, lalu menghilang. Di meja makan, suara sendok menyentuh piring terdengar lebih keras dari biasanya. Sesekali Disya memulai percakapan, tapi Eric menjawab pendek dan Dastan hanya mengangguk. Malam itu, hubungan yang tidak pernah baik di antara dua bersaudara itu semakin terasa. Di atas meja, semur ayam mengeluarkan uap yang semakin tipis. Es batu di gelas mulai mencair. Dan Eric, pengacara yang biasa berbicara dengan tegas di ruang sidang, diam saja di hadapan adiknya. Seolah tidak peduli jika tadi siang Dastan datang mengunjungi calon istrinya dan memberi peringatan. *** Ruangan keluarga di kediaman rumah Vania terasa lebih sempit dari biasanya. Ruangan yang semula dipenuhi dengan sofa kini terbentang permadani, semua orang duduk bersila dan saling berhadapan. Acara berjalan khidmat. Disya duduk bersebelahan dengan kakak iparnya dengan senyum tenang, sesekali mengangguk pada Faris, ayah Vania, yang duduk di hadapannya dengan kemeja batik lengan panjang. Di antara mereka, terhampar kalender, buku catatan, dan beberapa amplop yang belum dibuka. "Tanggal 28," kata Disya, jari telunjuknya menunjuk pada kalender yang dibentangkan Faris. "Menurut perhitungan, itu hari baik." Faris mengangguk pelan. Jarinya mengusap dagu yang mulai beruban. "Bagaimana dengan Eric?" Eric yang duduk di samping Vania, menjawab tanpa ragu. "Semakin cepat, semakin baik." Vania menoleh ke samping. Wajah Eric tidak berubah, datarnya seperti biasa. Tapi ada sesuatu di nadanya yang terdengar berbeda. Terburu-buru. Seperti orang yang ingin menyelesaikan sesuatu secepat mungkin. "Baiklah, kalau begitu," Faris menutup kalender dengan tepukan pelan. "Tanggal 28. Minggu depan. Kita akan adakan private wedding, hanya keluarga inti dan kerabat dekat saja." Rini yang duduk di sisi ruangan mengangguk-angguk, ia tentu saja setuju. "Kami setuju. Semua sudah siap dari jauh-jauh hari kok, Pak." Disya tersenyum lega. "Eric sudah bilang semua biaya pernikahan akan ditanggungnya, jadi kami tidak mau merepotkan keluarga Vania lebih banyak lagi." Vania hanya diam. Jari-jarinya memainkan ujung kebayanya, matanya sibuk menatap pola permadani di bawahnya. Lalu tatapannya tanpa sengaja naik. Di seberang ruangan, Dastan duduk bersila di sudut dekat jendela. Satu tangan memegang ponsel. Dan matanya menatap tepat ke arah Vania. Bukan tatapan biasa. Ada senyum tipis di bibirnya. Senyum yang tidak sampai ke mata. Seolah dia tahu sesuatu yang tidak diketahui orang lain. Vania cepat-cepat mengalihkan pandangan. Dadanya berdebar tidak nyaman. Setiap kali Dastan menatapnya, seperti sedang menelanjangi dirinya. Matanya kembali ke depan pada kalender, pada amplop, pada buku catatan. Tapi di sudut matanya, Dastan masih di sana. ~.~ Setelah pembahasan selesai, suasana berubah menjadi lebih santai. Rini dan beberapa kerabat wanita membawa nampan berisi makanan dari dapur. Menyajikan menu-menu itu di atas permadani. Semua orang tampak menikmati sajian. Disya berbincang dengan Rini tentang resep masakan. Om Arif dan Tante Fatma bercerita tentang pernikahan mereka dulu. Faris ikut terharu dengan kisah mereka. Tapi Dastan tidak menyentuh makanan di hadapannya. Dia hanya duduk, sesekali mengetik di ponsel, sesekali mengangkat pandangan ke sekeliling ruangan. "Ini pasti Dastan, ya, adiknya Eric." Dastan mengangkat kepala. Rini sedikit berdiri dengan lutut di depannya dengan senyum lebar, kedua tangan memegang piring kecil berisi kue lapis. "Benar, Tante," jawab Dastan. Suaranya ramah, bibirnya melengkung membentuk senyum hangat. Senyum yang sangat berbeda dari yang dia berikan pada Vania tadi. "Dinikmati hidangannya," kata Rini, meletakkan piring kue tepat di hadapan Dastan. "Iya, Tante." Dastan mengambil satu potong kue, tapi tidak dimakannya. Hanya dipegang. Rini mengangguk puas, lalu kembali bergerak ke depan untuk menjamu kerabat lainnya. Dastan meletakkan kue itu kembali ke piring. Matanya bergerak melintasi ruangan, mencari. Vania. Dia menemukannya. Duduk bersebelahan dengan Eric yang bersandar pada dinding. Tidak bicara. Hanya duduk. Bahu mereka tidak menyentuh. Jari mereka tidak bertaut. Seperti dua orang asing yang kebetulan duduk bersamaan. Vania merasakan tatapan itu lagi. Matanya bergerak ke kiri, ke kanan, sebelum akhirnya menoleh ke arah Eric. "Kamu sudah bicara dengan adikmu?" bisiknya pelan, hanya cukup untuk didengar Eric. Eric tidak menatapnya. Matanya lurus ke depan, ke arah ibunya yang sedang tertawa dengan Rini. "Ya." Vania menurunkan suaranya lebih pelan. "Apa katanya?" "Dia tidak akan mengganggumu lagi." Vania menatap Eric. Ada sesuatu yang tidak beres. Tapi dia tidak tahu apa. "Sungguh?" tanyanya lagi. "Ya, Vania." Suara Eric terdengar datar. Terlalu datar. "Baguslah kalau begitu." Vania menghela napas, tubuhnya sedikit rileks. "Aku tidak pernah menyukainya sejak bertemu dengan dia, entah mengapa. Kupikir dia aneh. Maafkan aku." Eric akhirnya menoleh. Tatapan matanya bertemu dengan Vania. "Tidak, Vania. Jangan minta maaf, dia memang seperti itu." Lalu jari-jari Eric meraih tangannya. Vania terkejut. Kepalanya menunduk menatap, genggaman itu, jari Eric menggenggam jari-jarinya, lembut, seperti orang yang baru pertama kali belajar memegang tangan orang lain. Dia tidak menariknya. Detak jantungnya berdegup lebih cepat. Ini pertama kalinya. Setahun menjalin hubungan, ini pertama kalinya Eric memulai sentuhan. Hati Vania menghangat. Jari-jarinya membalas genggaman Eric, saling bertautan. Di ruangan yang penuh dengan keluarga dan kerabat, mereka tampak seperti pasangan yang sedang jatuh cinta. Di sudut ruangan, Dastan melihatnya. Matanya menangkap jari-jari Eric yang menggenggam tangan Vania, dan senyum hangat yang tadi dia berikan pada Rini kini memudar. Berubah. "Dasar bajingan."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD