Puri akhirnya menceritakan duduk perkara permasalahan yang kini terjadi di Knator pada Ibunya.
Ibu Puri mengusap lembut punggung putri semata wayangnya itu penuh kasih sayang.
"Sebel kan Bu, Kalau begini terus," ucap Puri mengerucutkan bibirnya karena kesal.
"Kesel juga sih, Ibu dengernya. Tapi, Itu kan emang udah jadi resiko yang harus kamu terima, Puri. Karena kalian berdua itu menikah secara diam -diam. dari awal, Ibu kan sudah bilang untuk meramaikan acara pernikahan kalian agar semua orang itu tahu hubungan kalian, status kalian juga saat ini. Jadi gak ada masalah selama di Kantor," titah Ibu Puri menasehati.
Puri mengangguk kecil. Kedua kakinya bersila dan masih memegang gelas berisi minuman hangat. Pikiran Puri masih kacau.
"Puri mau resign aja," ucap Puri lirih.
"Lhooo ... Kok nyerah. Mlaah mau resign? Ini baru beberapa hari aja. Kamu udah gak kuat mental. Seharusnya kamu itu malah bisa menunjukkan sisi kuat kamu. Kuping kamu itu di biarkan tuli biar gak dengar apapun," ucap Ibu menasihati.
"Tapi Bu ... Puri gak sanggup kalau setiap hari harus begini," ucap Puri lirih.
"Puri ... Aji kan satu kantor sama kamu. Ibu sangat yakin sekali. Kalau Aji tidak akan meninggalkan kamu di saat tahu, Kamu di perlakukan tidak baik oleh rekan kerja kamu yang sudah pasti iri pada kamu," ucap Ibu Puri terus memberikan nasihat positif untuk Puri.
Ibu Puri pun langsung merangkul Puri untuk memberikan kekuatan pada putrinya.
"Jenny juga berubah Bu. Awalnya Jenny mendukung. Tapi, Hari ini Jenny malah marah -marah gak jelas," ucap Puri dengan nada melemah.
"Udahlah Puri. Gak uh mikirin apa kata orang. Ibu cuma mu berpesan sama kamu. Tindakan kamu ini salah sebagai istri, " ucap Ibu pada Puri menasehati.
"Terus?" tanya Puri pelan.
"Pulang ke tempat suami kamu. Kalian itu menikah bukan karena cinta. Kalau kalian tidak sering komunikasi atau saling bertikar pengalaman. Yakin sama Ibu. Cinta itu tidak akan pernah tumbuh di antara kalian sampai kapan pun," ucap Ibu Puri langsung beranjak dari kasur Puri saat mendengar bel berbunyi dari arah pintu depan.
Puri masih terdiam dan meletakkan gelas yang masih terasa hangat di tangannya. Tepat di saat yang sama ponselnya berdering nyaring. Sebuah nomor muncul di layar ponselnya tanpa ada nama kontak. Tanpa pikir panjang. Puri langsung mengangkatnya.
"Haloo .." sapa Puri dengan suara ramah.
"Haiii Puri ..." sapa kembali seseorang yang ada di sambungan seberang.
"Siapa ya?" tanya Puri ragu. Ia seperti tak asing dengan suara yang bicara padanya. Tapi, Suara itu tetap tak di ingat Puri.
"Kamu lupa? Atau kamu pura -pura lupa?" tanya seseorang itu dengan suara berat.
"Siapa sih? Gue lagi gak mau main teka teki. Lagi pula gak usah sok pakai bahasa formal segala!!" ucap Puri dengan suara begitu ketus.
"Gue Arka!!" ucap Arka lantang di balik suara yang masuk ke ponsel Puri.
"Arka? Ngapain lo muncul lagi!!" ucap Puri penuh emosi.
Kalau ingat akan pengkhiatan Arka. Rasanya Puri ingin menusuk -nusuk Arka dengan bambu runcing milik Akinya di Kampung.
"Huhh ... Ngapain gue muncul lagi. Itu pertanyaan yang sangat bagus sekali. Gue cuma mau mastiin lo masih baik -baik saja. Gue harap lo udah move on dari gue," ucap Arka dengan angkuhnya.
Puri hanya mendengus kesal dan menutup kesal ponselnya secara sepihak.
Sungguh membuat emosi Puri naik pitam kalau begini caranya.