Bab 19 Meja makan Panas

1042 Words

Rumah orang tua Pramasta terlihat terlalu tenang untuk sebuah malam yang jelas-jelas tidak akan berjalan damai. Lampu ruang makan menyala terang. Meja panjang sudah tertata rapi, terlalu rapi. Piring porselen putih, sendok garpu mengilap, taplak tanpa lipatan. Suasana yang biasanya hanya muncul saat ada tamu penting.atau sidang keluarga berkedok makan malam. Ayu berdiri di samping Pramasta saat pintu dibuka. Ia agak gugup, tangannya berkeringat tapi Pramasta selalu berusaha membuatnya kuat. Ibu Pramasta menyambut dengan senyum tipis yang rapi. Senyum perempuan yang terbiasa menjaga citra, bahkan saat pikirannya sudah menyusun daftar penilaian. Ini bukan pertama kali mereka bertemu. Jelas, ini kedua kalinya dia di sana. Pertama sebagai calon Dimas, sekarang sebagai calon Pramasta. “Ay

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD