Selvi datang di hari yang Ayu kira akan berjalan biasa saja. Hari di mana puskesmas tidak terlalu ramai, matahari tidak terlalu terik, dan pikiran Ayu masih sibuk memproses kalimat Pramasta semalam, tinggal buat lagi aja yang entah kenapa terus terngiang seperti lelucon yang terlalu serius untuk ditertawakan. Ia baru saja melepas sarung tangan medis ketika seorang perawat memanggil namanya. “Ayu, ada yang nyariin.” Ayu menoleh. Detik itu juga, udara di lorong puskesmas berubah. Selvi berdiri dengan rapi dan anggun untuk sekadar berkunjung. Blus pastel yang jatuh pas di bahu, tas branded disampirkan santai, rambut lurus terurai tanpa satu helai pun berantakan. Wajahnya membawa senyum yang… terlatih. Bukan senyum canggung. Bukan juga senyum sungkan. Senyum orang yang datang dengan tuj

