Begitu semua duduk di meja makan restoran itu, suasana berubah. Bukan sunyi tegang kayak film mafia lebih ke sunyi kikuk. Ayu merasa campur aduk, rasanya dia pengen kabur dari sana tapi tidak mungkin karena bagaimanapun, ketiga orang tuanya tidak akan bisa berlari sekencang dirinya. Pelayan datang. Menu dibuka. Air putih dituangkan. Belum ada satu pun yang benar-benar fokus ke makanan. Papa Pramasta meletakkan sendoknya dengan gerakan pelan. Terlalu pelan untuk sekadar basa-basi. “Pram,” katanya akhirnya. “Kamu bilang mau memperkenalkan keluargamu dengan calonmu.” “Iya, Pa,” jawab Pramasta santai. “Sekalian ngomongin tanggal.” Ayu yang sedang minum air… langsung tersedak. Khoek! Ibu kandung Ayu refleks menepuk punggungnya. “Pelan-pelan, Yu!” “Tanggal?” ulang Ayu, matanya melotot ke

