Marisa memandangi taman belakang rumah orangtuanya siang menjelang sore itu. Perasaan hatinya masih belum stabil, meski dia berusaha untuk baik-baik saja. Dia juga sudah bertemu pengacara yang akan mengurus gugatan perceraiannya dengan Agastya. Marisa hanya ingin memperjuangkan hak asuh anak dan harta gono-gini untuk menunjang kehidupan dia dan anaknya di masa depan nanti. Beruntung Marisa memiliki keluarga yang sangat baik, Farel tengah sibuk bermain dengan beberapa sepupunya sehingga tidak perlu mengetahui apa yang sedang terjadi pada orangtuanya. Belum saja, karena putranya masih terlalu kecil untuk bisa memahami masalah orang dewasa. Dan lagi, Marisa tidak mau jika Farel mengetahui betapa b******k papanya. “Ca.” Marisa menoleh ke arah sampingnya di mana sang ibu datang menemuinya