Kedatangan Tamu Menyebalkan

1547 Words
Naura sedang merayu Pak Gio untuk meminta izin membantu Dimas membuat sketsa kebun milik Oma-nya. Sejak membuka mata gadis itu tak henti-hentinya merengek. Hingga membuat jengah Papanya yang sedang berolahraga. Bukan Naura jika kehabisan akal. Tidak mendapatkan respon, dia pun tidur terlentang diatas matras, saat papanya sedang melakukan push up. Kedua mata bulatnya berkedip-kedip, senyumnya mengembang lebar, Naura saat ini terlihat sangat cantik. Kalau kata Bundanya mirip boneka barbie. “Kak— jangan mengganggu Papa! Sana kembali ke kamar dan siapkan buku yang akan dibawa ke kampus,” usir Pak Gio saat mulai kehilangan kesabaran. “Gak mau! Pokoknya kasih izin dulu. Ntar Naura baru pergi dari sini,” tolaknya sembari menopang kepala dengan satu tangan. Pak Gio menyerah, Naura adalah cerminan dirinya. Tidak hanya wajahnya yang sama, tapi kelakuannya juga. Untuk itu, istrinya selalu memintanya bersabar. Karena apa yang dilakukan oleh Naura pernah beliau lakukan ketika mengejar gadis yang kini menjadi pendamping hidupnya. Pagi, siang dan malam menumpang makan dengan alasan di rumahnya makanannya tak enak. Kadang juga memaksa menginap hingga mendapatkan surat cinta dari ketua RT. Kini gantian Naura yang selalu datang ke toko cat milik Dimas. Nongkrong disana dengan alasan ingin membantu berjualan. “Buat apa Kakak bantuin Dimas? Dia itu sudah biasanya mengerjakan proyek seperti itu. Kalau pun membutuhkan bantuan pasti bukan Kakak yang dimintai tolong.” “Naura ‘kan cucunya Opa— nah, Dimas bisa kapan saja tanya jika ada pekerjaan yang kurang dimengerti. Papa tahu sendiri Opa setiap hari sibuk di toko roti dan minimarket.” “Alasan yang Kakak buat tidak masuk akal!” “Bagian mana yang tidak masuk akal, Pa? Meskipun Dimas pandai. Ada kemungkinan dia mengalami kesulitan saat proses pembuatan kebun sayur.” Pak Gio menarik nafas dalam-dalam. Gadis di depannya memiliki sifat keras kepala turunan darinya. Jadi otaknya di putar sejak tadi untuk mencari kalimat yang tepat agar dapat diterima dengan lapang. “Biarkan Dimas bekerja tanpa beban. Kakak memang pandai menggambar namun bidang yang digelutinya tak hanya sekedar gambar bagus saja. Banyak sekali faktor-faktor yang harus diperhatikan untuk membuat sebuah desain taman. Dan, hal itu pasti Kakak tidak mengerti.” “Tujuan Naura tuh bukan menjadi beban Dimas, Papa— Naura beneran pengen bantuin dia.” “Iya, Papa paham. Tujuan Kakak memang baik. Namun, niat baik itu bisa berubah tak baik jika yang ditolong merasa keberatan.” Naura mengerucutkan bibirnya. Ucapan sang papa barusan memang benar. Dimas sering menolak bantuannya. Dengan alasan bisa mengerjakan pekerjaan sendiri. Selain itu, Naura harus fokus belajar agar nilainya tidak merosot. “Papa itu sayang sama Dimas. Pasti Kakak tahu itu— sejak mengenalnya keluarga kita langsung dekat dengannya. Selain anak angkat Om Restu, dia tipe menantu idaman Papa dan Bunda.” Naura memukul lengan Papanya, kebiasaan jika sedang salah tingkah. Wajahnya pun memerah seperti tomat matang. Bahkan hidungnya ikut berubah warna mirip hidung badut ulang tahun. “Alah— gak usah sok-sokan jadi gadis pemalu. Kakak kejar Dimas aja sudah malu-maluin. Jadi percuma cosplay kayak gini,” cibir Pak Gio. Decakan kesal Naura dibarengi cubitan kecil pada perut kotak-kotak sang papa. Sikap layaknya gadis desa yang pemalu langsung menghilang. Tergantikan dengan sikap aslinya yang bar-bar. “Seharusnya Papa mendukung anaknya berubah. Eh— malah dipatahkan dengan kalimat sarkas,” omel gadis itu. Tiba-tiba Pak Gio mengapit kepala putrinya diantara lengan dan ketiak. Kemudian menjitak pelan keningnya dengan gemas. Naura berteriak kencang. Hingga suaranya terdengar nyaring di kedua telinga Papanya. “Aduh, Papa, lepaskan! Kepala Naura bisa putus kalau dipiting kayak gini.” “Kakak ini anak siapa sih?! Kelakuannya semakin hari makin tak jelas. Bikin Papa naik darah kerjaannya.” “Dih, Papa sendiri yang suka naik darah. Orang Naura gini-gini aja sejak dulu. Buktinya Bunda makin sayang tuh sama putri sulungnya.” “Kayaknya kamu anak Bunda bukan anaknya Papa.” “Lah— kok malah hilang ingatan. Atau Papa betulan gak ingat saat menciptakan Naura. Bisa-bisanya malah nyalahin Bunda. Anyway, by the way busway … Naura juga agak menyesal mirip dengan Papa. Andai saja mirip Bunda, bueh— pasti cantik ngalahin miss universe.” Tak! Satu jitakan mendarat pada kening Naura. Teriakannya terdengar lagi. Kali ini bertepatan dengan kedatangan peri baik hati yang ada di kediaman mewah itu. Bu Siva datang membawakan jus tomat untuk kedua kesayangannya. Untungnya beliau memiliki kesabaran tak terhingga. Sudah biasa melihat pertikaian antara Papa dan Putrinya setiap kali bersama. Melihat kedatangan Bundanya, Naura langsung meminta tolong, memasang wajah teraniaya dan tubuhnya tiba-tiba lemas. “Bunda, tolong! Naura dicekik sama Papa.” Pak Gio memutar bola matanya. Drama menyebalkan telah dimulai. “Gak usah lebay! Lihat— betapa longgarnya tangan Papa,” ujarnya sambil memperlihatkan posisi tangannya. “Bunda, sini. Bantuin Naura.” Rengekan Naura membuat Bu Siva menatap kesal ke arah sang suami. Pagi-pagi bukannya olahraga malah mengajak putrinya duel. Lalu Bu Siva duduk di depan suami dan putrinya setelah menaruh nampan berisi gelas ke atas meja. Meminta Pak Gio melepaskan Naura. Sudah waktunya mereka bersiap dan sarapan. Setelah itu, berangkat ke kantor dan kampus. “Kalian ini hobi sekali membuat keributan!” “Papa tuh Bun. Nakal banget deh! Masak gak ingat kalau Naura ini darah dagingnya.” Bibir gadis itu maju kedepan saat mengadu pada Bundanya. Masalah yang selalu diperdebatkan selalu itu-itu saja. Bu Siva sampai bosan membahasnya. Ujung-ujungnya putrinya akan menangis. Sementara sang suami ikut tantrum karena tak mau disalahkan. “Siapa suruh gangguin Papa olahraga. Biasanya bantuin Bunda masak ini malah rebahan diatas matras.” “Naura nyusul karena ada hal penting yang harus dibicarakan. Jika tidak ada males banget masuk ruang gym. Mendingan aku di dapur atau nyiram bunga.” “Apa ‘Caper’ dengan Dimas itu salah satu hal penting dalam hidup Kakak?” Naura melotot galak. Bisa-bisanya Papanya berkata seperti itu. “Astaghfirullah, fitnah keji baru saja menimpaku,” ujarnya sembari mengelus d**a. Setelah Naura lulus dari pondok pesantren, kediaman orang tuanya kembali penuh warna, yang tadinya terasa sunyi kini ramai di setiap gadis itu membuka mata. Mungkin Bu Siva belum siap ditinggal oleh putri sulungnya lagi. Kalaupun Naura memutuskan menikah muda tentunya akan tetap tinggal di rumahnya. “Sudah-sudah, minum dulu jus-nya setelah itu kembali ke kamar masing-masing untuk bersiap. Bunda akan menyiapkan sarapan untuk kalian,” ujar Bu Siva dan kedua kesayangannya langsung terdiam. Naura yang lebih dulu mengambil gelas, lalu menenggak isinya hingga tanda. Kemudian disusul oleh Pak Gio yang melakukan hal yang sama persis. Ah— mereka memang mirip dalam segala hal, bukan hanya wajahnya saja. Terkadang membuat Bu Siva iri. Karena kedua putrinya duplikat sang suami. *** Naura pagi ini tampil cantik memakai pakaian syar'i pemberian Si Ayang. Wajahnya terlihat berseri-seri ketika memamerkan outfit-nya pada sang papa. Katanya Pak Gio kurang perhatian. Tidak pernah menemaninya belanja, atau membeli pakaian untuknya. Beda dengan Dimas yang selalu bersikap hangat bak mentari pagi, juga penuh perhatian. “Kalau begitu nanti malam kita belanja. Kakak boleh ambil seluruh pakaian yang ada di mall. Keluarkan isi lemari dan ganti dengan yang baru,” putus Pak Gio dengan kesal. Tak terima dibandingkan dengan idola putrinya. Naura langsung menggeleng cepat. Menolak ajakan Papanya karena merasa terlalu berlebihan. Bukan itu yang dia mau. “Papa temani Naura keliling mall aja. Hanya jalan-jalan dan beli beberapa barang. Tidak harus memborong semuanya,” terangnya. “Nanti malam?” Tanya Pak Gio memastikan. “Boleh— kayaknya Ayang bakal sibuk jadi aku gak bisa gangguin.” Jawaban Naura menambah kekesalan hati Pak Gio. Dijadikan opsi kedua oleh putrinya membuat sifat posesif dan cemburuan Pak Gio muncul. Hingga akhirnya beliau membatalkan rencana jalan-jalan. “Papa kenapa sih, Bun? Tiba-tiba ngambek.” Suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring terdengar nyaring. Menu sarapan pagi ini nasi goreng rawut. Seharusnya meja makan tak seheboh saat ini. Kelakuan Pak Gio ketika cemburu sungguh luar biasa. Sebelum Bu Siva sempat menjawab, Pak satpam datang mengatakan jika ada tamu yang ingin bertemu dengan Naura. “Siapa yang datang, Pak?” “Teman Mbak Naura. Namanya Mas Astar.” Pak Gio menyipitkan kedua matanya. Menatap ke arah putrinya yang terlihat mengernyitkan kening. Selain Dimas tidak ada yang berani datang ke kediaman Abraham. Baru kali ini ada yang datang dan gadis itu tak memberitahu Papa dan Bundanya. “Dia bukan teman Naura— Semalam baru ketemu dan dia lagaknya sok kenal dan sok dekat," terang Naura tanpa diminta. “Ketemu dimana?” Pak Gio masih ngambek tapi harus tetap bertanya tentang tamunya. “Saat menemani Opa menonton sendratari di Prambanan. Kata Dimas, Astar itu mondok di pesantren yang sama dengan Naura. Tapi, kami tidak pernah ketemu,” jawabnya. Pak Gio kini mengerti apa yang harus dilakukan. Beliau meminta Pak satpam kembali ke depan dan mempersilahkan tamunya menunggu di teras. “Kakak lanjutkan sarapan sama Bunda. Biar Papa yang menemui tamu itu,” ujar Pak Gio sebelum beranjak dari tempat duduknya. Bu Siva memberikan kode pada putrinya agar melanjutkan sarapan. Senyum teduhnya membuat keresahan hati Naura menghilang dalam sekejap. Kedatangan Astar sebagai pertanda jika lelaki itu serius ingin mendekati Naura. Seperti yang dikatakan oleh Dimas kemarin malam. Jika, Astar menganggap keluarganya sudah dekat dengan keluarga Abraham, maka dari itu berani datang berkunjung. Helaan nafas Naura membuat Bundanya sedikit khawatir. Bu Siva langsung menaruh sendok ke atas piring. “Sayang, ada apa?” Tanyanya kemudian. “Naura takut Dimas berpikir macam-macam, Bun,” jawabnya dengan wajah cemas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD