LC 11

693 Words

Perut Reya terasa mual tiba-tiba, meski dia berusaha tetap tenang dia sudah tau dengan jelas. Hanya mengangguk kecil dan menunduk lagi. Ada rasa tak nyaman yang muncul, tapi dia hanya simpan dalam hati. Barat berdiri, mengambil jaketnya dari sandaran kursi. "Kamu jangan ke mana-mana. Waktu saya pulang harus lihat kamu di sini." Reya menarik napas, lalu mengumpulkan keberanian. "Kalau saya mau ke rumah sakit sebentar, boleh?" Barat menghentikan gerakannya. Menatapnya. "Boleh. Tapi pulang sebelum jam delapan malam. Jangan lebih." Reya tersenyum memaksakan diri. "Terima kasih, Pak." Barat mendekat, lalu menunjuk ke arah meja makan. "saya udah pesan makanan. Harusnya datang sebentar lagi. Kamu makan dulu sebelum pergi. Kamu juga bisa bungkus, bawa buat ayah kamu." Reya terdiam menatap Ba

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD