"Hai, Sesil?" Jo malah menyapaku tanpa rasa bersalah. Mataku menatap curiga, "Kenapa kamu mengikutiku?" "Tidak. Aku hanya sedang kebetulan saja. Tadi aku lihat kamu sedang jalan sendirian." Jo menjawab dengan tenang. "Tidak mungkin. Kamu pasti disuruh seseorang untuk mengawasiku kan?" tanyaku lagi. "Sudah aku bilang, aku hanya kebetulan kok. Lagi pula, aku suka melihat kamu. Jadi aku ikuti saja." "Apa? Kamu sudah gila." "Bukan gila, Sesil. Tapi hanya mengikuti kata hati saja." "Kenapa kamu pakai topi? Setahuku kamu gak pernah pakai topi." Si Jo tersenyum malu, "Ini hadiah dari seseorang." "Suti?" Aku menebak. "Kamu sudah tahu?" Jo nampak terkejut. "Ck, sudah ketebak. Sekarang kamu jujur deh, siapa yang nyuruh kamu buat ngikutin aku?" Aku masih mendesaknya. Ya kan aneh saja, mas

