Bab 02

781 Words
Keesokan harinya. Sesuai perkataan Livia, hari ini Callista akan bertemu dengan sahabatnya untuk kelanjutan pekerjaan yang ditawarkan padanya. Callista sudah siap dengan penampilannya yang rapi dan elegan. Apapun pekerjaannya akan ia terima. “Semangat Callista!” gumamnya sembari tersenyum Callista keluar kamar. Sebuah taxi sudah menunggunya di depan rumah. Ia akan melakukan perjalanan ke rumah Livia. “Apapun pekerjaannya yang penting bisa menghidupi keseharianku.” Beberapa menit kemudian. Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya taxi yang ditumpangi Callista sampai di tempat tujuan. “Terima kasih, Pak.” ucapnya sembari memberi uang pada sang sopir. Callista berdecak kagum menatap bangunan rumah Livia. “Ternyata kamu semakin sukses, Livia. Aku bangga sama kamu.” Ting tong Ceklek “Pagi, Livia!” sapa Callista sembari tersenyum “Callista, kok kamu udah si sini?” “Kamu lupa, Liv? Bukannya kamu menjanjikan pekerjaan padaku!?” “Astagaa. Aku lupa memberitahu Callista kalau pekerjaan itu dilakukan di malam hari.” ucap Livia dalam hati “Em.. masuk dulu, yuk! Nanti aku jelaskan.” Livia mengajak Callista masuk ke dalam rumah. Ia akan menjelaskan secara detail tentang pekerjaan yang ia tawarkan. “Callista!” panggil Livia “Iya, Liv!” “Kamu yakin menerima pekerjaan yang aku tawarkan?” Callista mengangguk yakin. Bahkan tidak ada keraguan sedikitpun di wajahnya. “Em.. Aku punya sebuah club, dan pekerjaan yang aku tawarkan di tempat itu. Apa kamu…” “Jadi kamu mau menawarkanku pada laki-laki malam, Liv?” “Enggak-enggak. Bukan seperti itu, Callista.” jawab Livia sembari menggelengkan kepalanya cepat “Maksud aku kamu bisa jadi barista di club itu. Bagaimana?” Callista terdiam sejenak. Ia tidak punya pilihan selain menerimanya. Lagipula hanya sebagai pelayan, tidak lebih. Callista yakin sahabatnya tidak mungkin membawanya ke dunia malam yang buruk. “Baiklah.” jawab Callista “Kamu mau?” “Hmm.. Aku tidak punya pilihan lain. Lagipula hanya sebagi barista, bukan?” Livia mengangguk sebagai jawaban Malam harinya Mobil Livia berhenti di parkiran tempat khusus. Ia mengajak Callista masuk ke dalam club untuk memulai pekerjaannya di hari pertama. Seketika terdengar kerasnya suara alunan music. Callista melihat banyak seseorang menikamti hidupnya dengan berbagai kesenangan. “Astaga. Apa aku yakin bisa bekerja di tempat ini?” batin Callista berucap “Enggak. Lo nggak boleh ragu, Callista. Lagipula lo hanya jadi barista, tidak lebih dari itu. Setidaknya dengan pekerjaan ini bisa membiayai kehidupan lo.” lanjutnya Livia memperkenalkan Callista pada pegawainya yang lain. Ia harap mereka bisa bekerja sama dengan baik. Setelah selesai Livia pamit meninggalkan club tersebut. Banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Livia menepuk bahu Callista pelan. “Kalau ada apa-apa kasih tahu gue, ya. Gue pulang dulu!” Callista mengangguk sebagai jawaban. “Hati-hati!” Setelah kepergian Livia, Callista mencoba bersosialisasi dengan pegawai yang lain. Ia mencoba untuk beradaptasi dengan dunianya yang baru, meskipun terasa kesulitan. Di sisi lain, terlihat seseorang memasuki sebuah club tempat di mana Callista bekerja di hari pertamanya. Dengan langkah tegap dan angkuhnya ia menuju bar tender untuk memesan minuman. Laki-laki adalah Reynand Mahendra! Reynand duduk di sebuah kursi lalu memesan minuman. “Minuman satu!” Seorang pegawai meminta Callista untuk memberikan minuman yang dipesan oleh Reynand. Tanpa banyak membantah Callista menurut dan langsung memberikan pesanan itu pada sang pemilik. “Ini minumannya!” ujar Callista dengan nada lembut Reynand terdiam melihat Callista. Ia belum pernah melihat perempuan itu sebelumnya. Reynand menelisik penampilan Callista yang terlihat cantik dan elegan. Ia tersenyum smirk tanpa disadari perempuan itu. “Barista baru?” tanya Reynand Callista mengangguk kaku. “I-iya.” dan setelah itu Callista langsung pergi meninggalkannya. Reynand meminum pesanannya sembari terus menatap ke arah Callista. Terbesit rasa ketertarikan pada perempuan itu. “Cantik!” gumamnya Di sebrang tidak jauh dari tempat Reynand duduk terlihat seorang laki-laki yang tengah menatapnya sembari tersenyum smrik. Sejak tadi ia menatapnya dengan tatapan penuh arti. Tanpa Reynand sadari ia telah masuk dalam jebakan musuh kerjanya. “Gue mau lihat sejauh mana lo bisa bertahan, Reynand.” ucapnya sembari tersenyum smirk Tiba-tiba tubuh Reynand terasa panas. Ia merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. “s**t! Apa yang terjadi dengan tubuhku?” ucapnya Reynand beralih menatap minumannya. “Sialan. Apa yang wanita itu campurkan ke dalam minumanku?” Reynand beranjak pergi meninggalkan bar tender tersebut. Ia menuju ke arah kamar mandi untuk melakukan sesuatu. Sialnya ia tidak bisa menahan gejolak yang terjadi dalam tubuhnya. Minuman itu telah merasuk ke dalam tubuhnya. Di satu sisi, Callista baru saja keluar dari kamar mandi. Dan tepat di saat itu juga ia bertemu dengan Reynand. Reynand menatap tajam sekaligus penuh arti membuat Callista ketakutan. Tanpa berpikir yang tidak-tidak Callista berlalu pergi meninggalkan Reynand. Namun baru dua langkah tiba-tiba pergelangan tangannya ditahan oleh Reynand. Deg.. deg.. deg.. To be continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD