Sore itu suasana rumah sudah jauh lebih ringan dibanding beberapa hari terakhir. Setelah semua ketegangan, ancaman, dan drama yang datang bertubi-tubi, akhirnya rumah itu kembali diisi suara kecil yang lebih normal—atau setidaknya mendekati normal. Di ruang keluarga, Vania duduk di sofa dengan posisi setengah bersandar. Perutnya yang besar terlihat jelas, dan satu tangannya terus mengusapnya pelan seperti kebiasaan yang tidak pernah ia sadari. Di depannya, Jelita duduk di karpet sambil memainkan ponselnya. Awalnya sunyi. Sampai tiba-tiba… “Jelita…” Suara Vania pelan. Jelita tidak langsung menoleh. “Hm?” “Aku mau sesuatu.” Jelita menghela napas. “Nah, mulai.” Vania tersenyum kecil. “Ambilkan ya…” Jelita menatapnya. “Apa?” Vania berpikir sebentar. Lalu wajahnya berubah cerah
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


