Perjalanan pulang dari gym terasa jauh lebih sunyi dari perjalanan berangkat. Musik di mobil diputar pelan, namun tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar mendengarkannya. Vania duduk tegak di kursi penumpang, menatap lurus ke depan, tetapi pikirannya berlari ke mana-mana.
Setiap tatapan singkat Jevan di gym itu nyata.
Bukan tatapan ayah.
Bukan tatapan pria yang sama sekali tidak terpengaruh.
Dan itu membuat Vania semakin berani… sekaligus semakin takut.
Sesampainya di rumah, Jevan memarkir mobil dan langsung turun lebih dulu. Vania mengikuti dari belakang. Ia memperhatikan punggung Jevan yang lebar, langkahnya yang mantap, dan tiba-tiba saja muncul rasa bersalah yang menusuk.
Kenapa aku senang saat dia menatapku?
Kenapa aku berharap lebih?
Masuk ke dalam rumah, suasana kembali terasa besar dan kosong. Jelita belum terlihat. Jam menunjukkan masih pagi, rumah itu kembali seperti milik mereka berdua saja.
Jevan berhenti di ambang dapur.
“Kamu mau sarapan sekarang?” tanyanya, suaranya kembali datar, seolah ingin menormalisasi segalanya.
Vania mengangguk pelan.
“Iya, Pa..”
Sebutan itu kembali meluncur.
Dan kali ini Jevan tidak langsung merespons.
Dia menoleh perlahan.
Tatapannya dalam. Terlalu dalam.
“Vania,” panggilnya lebih serius dari biasanya.
“Kamu… nyaman tinggal di sini, kan?”
Pertanyaan itu sederhana, tapi membuat jantung Vania berdegup tidak karuan.
Ia mengangguk cepat.
“Sangat nyaman.”
Jevan menghela napas pelan.
“Kalau ada hal yang bikin kamu bingung… atau tidak enak hati… kamu bisa bilang.”
Vania menunduk.
“Papa pikir… aku kenapa?”
Jevan terdiam cukup lama sebelum menjawab.
“Tidak apa-apa. Mungkin Papa cuma terlalu khawatir.”
Kata “khawatir” itu membuat d**a Vania terasa hangat sekaligus perih. Ia ingin berkata jujur, ingin mengeluarkan semua yang ada di kepalanya. Tapi keberanian itu anjlok saat ia melihat raut wajah Jevan—wajah pria dewasa yang sedang berusaha keras menjaga jarak.
Mereka sarapan dalam keheningan yang aneh.
Tidak dingin.
Tidak hangat.
Tapi penuh hal yang tidak diucapkan.
Setelahnya, Vania naik ke kamarnya. Tubuhnya lelah, pikirannya lebih lelah lagi. Ia duduk di tepi ranjang, melepas sepatu olahraga, lalu menatap kosong ke lantai.
Aku melewati bataskah?
Atau hanya salah berharap?
Di lantai bawah, Jevan berdiri lama di ruang kerja. Ia menatap berkas-berkas tanpa benar-benar membacanya. Wajah Vania dengan pakaian olahraganya tadi terus terngiang—cara gadis itu tersenyum, cara memanggilnya, cara matanya berbinar saat ia menatap balik.
Jevan mengusap wajahnya dengan kasar.
Ini salah, pikirnya.
Dia terlalu muda.
Dia anak temanku.
Dia tinggal di rumahku.
Namun ada satu fakta yang tidak bisa ia abaikan: Vania bukan anak kecil lagi. Dan menyadari itu membuatnya gelisah.
Siang datang dengan lambat. Jelita pulang dengan penuh energi, bercerita panjang lebar tentang kampus, tanpa menyadari ketegangan tak kasatmata antara ayahnya dan sahabatnya. Vania ikut tertawa, berpura-pura semuanya normal.
Tapi malam itu, saat rumah kembali sepi, Vania berdiri lama di depan jendela kamarnya. Ia memeluk lengannya sendiri, memandangi halaman yang diterangi lampu temaram.
Dia tahu satu hal dengan pasti sekarang.
Perasaannya tidak akan hilang begitu saja.
Dan semakin dia menekan, semakin sakit rasanya.
Sementara itu, di kamar sebelah bawah, Jevan tidak juga terlelap. Ia duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke dinding.
Rumah itu terlalu besar.
Terlalu sunyi.
Dan kehadiran Vania justru membuat segalanya terasa lebih rumit dari sebelumnya.
Keduanya terjaga di malam yang sama.
Dipisahkan lantai, usia, peran, dan batas yang rapuh.
Sama-sama menahan sesuatu yang tidak boleh tumbuh…
namun sudah terlanjur berakar.
***
Jevan mengambil keputusan itu dengan kepala dingin, meski hatinya berantakan. Ia tidak mau semakin terperosok ke pikiran-pikiran yang seharusnya tidak pernah muncul. Ia tahu, semakin sering ia melihat Vania, semakin sulit batas itu dijaga. Maka sejak pagi itu, ia menghilang dari ritme rumah. Berangkat sebelum matahari naik, pulang saat rumah sudah senyap. Mengurung diri di ruang kerja, menghadiri rapat di luar kota, menenggelamkan diri dalam pekerjaan sampai lelah menjadi alasan yang paling masuk akal.
Tiga hari berlalu dengan pola yang sama.
Dan bagi Vania, tiga hari itu terasa seperti hukuman yang tidak pernah ia minta.
Hari pertama, Vania masih menunggu dengan perasaan setengah santai. Ia bangun pagi, turun ke dapur, berharap mendengar suara langkah Jevan atau mencium aroma kopi yang selalu dibuat pria itu. Tidak ada. Dapur sunyi. Kursi favorit di meja makan kosong. Vania berusaha berpikir positif, mungkin Jevan hanya sibuk.
Hari kedua, senyumnya mulai memudar. Ia duduk berlama-lama di ruang tengah, memandangi pintu, berharap Jevan muncul dengan kemeja kerja dan wajah tenang itu. Jelita pergi ke kampus, rumah kembali terasa terlalu besar. Vania membersihkan ruangan yang sebenarnya sudah bersih, hanya untuk mengisi waktu dan menenangkan gelisah yang makin menguat.
Hari ketiga, rasa kesal itu muncul dengan terang.
Vania berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya dan menghela napas kesal. “Serius,” gumamnya pelan, “kemana sih dia?”
Ia mulai merasa ditinggalkan. Bukan karena status atau janji apa pun, tapi karena perhatian Jevan tiba-tiba terputus begitu saja. Pria itu seperti menghapus keberadaannya dari hidup Vania—tidak menyapa, tidak menegur, tidak menanyakan kabar. Hanya pesan singkat di grup keluarga: pulang terlambat, rapat, dinas.
Vania menjatuhkan diri ke sofa. Tangannya meremas bantal. Di kepalanya, pertanyaan berputar tanpa henti. Apa dia melakukan sesuatu yang salah? Apakah Jevan jijik? Apakah kehadirannya membuat pria itu tidak nyaman? Atau… apakah Jevan takut?
Ketika sorenya menjelang, Vania mendengar suara mobil masuk ke halaman. Jantungnya langsung berdentum. Ia bangkit, melangkah cepat ke arah pintu. Namun yang masuk hanya sopir yang memarkir mobil—tanpa Jevan. Harapan itu jatuh, lagi.
Malam datang. Vania berputar-putar di lantai atas, melewati lorong panjang. Pintu ruang kerja Jevan tertutup rapat. Tidak ada cahaya di bawah celah pintu. Tidak ada suara. Pria itu benar-benar menghindar.
Di sisi lain lantai, Jevan duduk di kamar hotel, menatap layar laptop yang menyala dengan laporan yang tidak ia baca. Kopi di sampingnya sudah dingin. Ia menarik napas panjang, mengusap tengkuk, mencoba menenangkan pikirannya. Bayangan Vania beberapa hari lalu muncul sendiri. Senyum, suara memanggil papa, tatapan itu.
Ia menutup mata keras-keras. Ini bukan tentang keinginan, katanya pada diri sendiri. Ini tentang tanggung jawab. Tentang menjaga agar tidak ada yang rusak. Tentang memastikan Vania aman—termasuk aman dari dirinya sendiri.
Namun alasan yang terdengar benar itu tidak sepenuhnya mengusir rasa bersalah. Ia tahu, menghilang tanpa penjelasan juga bukan pilihan yang adil.
Keesokan paginya, Vania bangun dengan tekad yang rapuh tapi nyata. Ia tidak mau terombang-ambing oleh ketidakpastian. Jika Jevan memilih menjauh, ia ingin tahu alasannya. Ia turun ke dapur dan menulis catatan kecil, meletakkannya di tempat Jevan biasa meletakkan kunci.
Aku mau bicara. Kapan pun Papa sempat.
Sederhana. Tidak menuntut. Tapi jujur.
Hari itu terasa lebih panjang dari biasanya. Vania beberapa kali menatap jam, menahan keinginan untuk mengecek layar ponselnya setiap menit. Jelita pulang sore, membawa cerita kampus dan tawa. Vania ikut tersenyum, namun pikirannya melayang.
Malam itu, pintu depan berbunyi lebih awal dari tiga hari terakhir. Vania langsung menahan napas. Langkah kaki itu dikenal. Ritmenya. Beratnya.
Jevan masuk, menutup pintu pelan. Wajahnya lelah, dasinya sedikit longgar. Ia melihat catatan itu. Membacanya. Menghela napas.
Vania berdiri di ujung lorong. Tidak mendekat. Tidak menyapa dulu. Menunggu.
Pandangan mereka bertemu.
Hening. Bukan hening yang dingin, tapi penuh hal yang tertahan.
“Aku pulang,” kata Jevan akhirnya. Suaranya rendah.
“Iya,” jawab Vania singkat. Ia berusaha terdengar biasa, meski dadanya bergetar.
Jevan melepas sepatunya, menaruh kunci. “Maaf, beberapa hari ini… Papa banyak di luar.”
Vania mengangguk pelan. “Aku tahu.”
Ada jeda lagi. Panjang.
“Besok pagi,” ucap Jevan, “kalau kamu sempat, kita bicara.”
Kata-kata itu sederhana, namun cukup membuat d**a Vania terasa lebih ringan dan lebih berat sekaligus. Ringan karena akhirnya ada kepastian. Berat karena ia tidak tahu apa yang akan ia dengar.
“Iya,” jawab Vania. “Aku sempat.”
Jevan menatapnya sejenak, lalu mengangguk dan melangkah menuju ruang kerjanya. Pintu tertutup pelan.
Vania menyandarkan punggung ke dinding. Tangannya gemetar sedikit. Setidaknya ia tahu sekarang: Jevan tidak pergi. Ia hanya menahan diri.
Dan besok, semua yang tertahan itu akan keluar. Entah dalam bentuk jarak yang lebih tebal… atau kejujuran yang selama ini mereka hindari.