Bab 78

833 Words

Pintu depan rumah tertutup pelan. Suaranya nyaris tak terdengar, tapi cukup membuat Jevan yang duduk di ruang kerja mengangkat kepala. Jam di dinding sudah menunjukkan lewat tengah malam. Ia tahu, itu pasti Jelita. Jelita melepas sepatunya dengan hati-hati, menaruh tasnya di kursi dekat pintu. Wajahnya masih menyimpan senyum kecil yang belum sepenuhnya hilabng. Ada rona berbeda di pipinya malam itu, sesuatu yang hanya muncul ketika seseorang baru saja melewati waktu yang menyenangkan. Ia melirik sekilas ke arah ruang tengah. Lampu menyala redup. Rumah terasa tenang. Terlalu tenang. “Papa?” panggilnya pelan. Tak ada jawaban. Jelita mengangkat bahu kecil. Mungkin Papanya sudah tidur atau masih bekerja. Ia melangkah ringan menuju kamar Vania, seperti kebiasaannya setiap kali pulang malam

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD