Bab 85

1420 Words

Pagi itu ruang makan terasa lebih terang dari biasanvya. Sinar matahari masuk lewat jendela besar, jatuh tepat di atas meja kayu panjang yang sudah terisi beberapa piring sarapan. Jelita duduk sajmbil membuka tablet, kebiasaan paginya sebelum berangkat ke kampus. Di seberangnya, Vania duduk dengan sebuah piring besar berisi buah-buahan asam. Irisan mangga muda, kedondong, belimbing, bahkan jeruk nipis yang diperas dan dicampur garam serta cabai halus. Jelita menghentikan gerak jarinya di layar. Matanya terangkat perlahan, menatap piring itu, lalu berpindah ke wajah Vania. Vania makan dengan lahap. Bukan sekadar lahap, tapi seperti benar-benar menikmati setiap gigitan asam itu tanpa satu pun ekspresi meringis atau wajah menahan rasa kecut. Jelita mengernyit. Selama bertahun-tahun ber

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD