Bab 62

1627 Words

Pintu rumah tertutup pelan setelah Jelita dan Vania masuk. Suasana sore itu sebenarnya biasa saja. Lampu ruang tengah sudah menyala, aroma teh hangat masih menggantung tipis di udara. Jevan duduk di sofa dengan tablet di tangan, tubuhnya santai, kaki bersilang, seolah tidak ada beban apa pun di kepalanya. Tapi begitu langkah Vania terdehngar dan bayangannya jatuh di lantai marmer, fokus Jevan langsung terangkat. Mata mereka bertemu. Hanya sesaat. Tidak lebih dari dua detik. Namun di dalam tatapan singkat itu, ada terlalu banyak hal yang tidak bisa diucapkan. Ada sisa ketegangan dari siang tadi, ada kelegaan karena Vania sudah pulang dengan selamat, dan ada kekhawatiran yang sengaja disembunyikan Jevan di balik wajah tenangnya. Vania menunduk sedikit. “Aku ke kamar dulu, Pa.” Nada sua

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD