1

723 Words
Malam ini, Elvara berdandan dengan sangat cantik sekali. Ia memakai gaun marun pemberian Altair, kekasihnya yang baru dua tahun ini ia pacari. Altair adalah pemuda yang baik dan sangat sayang dengan Elvara dan keluarga Elvara. Kedua orang tua Elvara merestui hubungan Elvara bersama Altair. Selain tampan, Altair juga mapan dan sukses. Altair sudah menunggu Elvara di sofa mewah yang ada di ruang tamu rumah Elvara. Kebetulan kedua orang tua Elvara sedang tidak ada dirumah. Elvara menuruni anak tangga dan tersenyum lebar menatap Altair yang juga memandangnya tanpa berkedip. "Bagus gak, Mas?" tanya Elvara sambil menunjukkan tubuhnya yang langsing dalam balutan gaun marun yang sangat simpel itu. "Sempurna sekali ..." jawab Altair dnengan senyum lebar dan berdiri dari sofa lalu berjalan mendekati Elvara. "Kita mau ketemu siapa sih?" tanya Elvara penasaran. "Sahabat lamaku, Vara," ucap Altair dengan senyum yang terus merekah memuji kecantikan Elvara. "Sepenting itukah sahabatmu? Sampai kamu meluangkan waktu dan membelikan gaun khusus untukku? Dan semua persiapan ini? Dia pasti perempuan?" ucap Vara dengan manyun. Vara pura-pura cemburu. Padahal sampai detik ini, ia tidak pernah punya alasan untuk cemburu. Atau memang hatinya belum sepenuhnya untuk Altair. Altair meraih pinggang Vara dan mengecup pipi Vara dengan lembut. "Kamu cemburu?" bisik Altair pada Vara. "Menurutmu?" jawab Elvara dengan nada rendah. "Cemburu. Kamu gak pernah merajuk seperti ini," jawab Altair. "Hmm ... Ayo, nanti kita telat. Kasihan sahabatmu pasti sudah menunggu," ucap Vara sambil mencubit hidung Altair dengan gemas. "Oke. Ayo," jawab Altair menggandeng Elvara keluar dari rumah menuju mobil sport mewahnya. Keduanya sudah berada di dalam mobil menuju restoran bintang lima yang sudah dipesan secara privat oelh Altair. Entah kenapa, malam ini, Vara merasa tidak tenang. Dad4nya bergemuruh dan jantungnya berkali-kali berdegup dengan kencang. Setiap debaran itu datang, Vara menarik napas panjang dan dalam lalu ia hembuskan perlahan. Wajahnay nampak gugup sekali. Altair melirik ke arah Elvara, "Kamu kenapa, Sayang? Kayak gak tenang gitu?" Altair menggenggam tangan sang kekasih dan mengeratkan agar Vara semakin tenang. Tangan itu begitu dingin. "Entah Mas. Ini gak biasanya. Padahal, setiap kamu ajak pergi, aku selalu biasa saja. Tapi, kali ini kayak gimana gitu ... " jawab Vara dengan suara serak. "Kamu lagi gak enak badan?" tanya Altair mengecup punggung tangan Vara. "Enggak. Aku baik -baik saja kok," jelas Vara. "Oke," jawab Altair lembut. Hubungan Altair dan Elvara memang serius. Tapi, Altair memang tidak ingin diburu-buru soal menikah. Begitu juga dengan Elvara. Padahal kedua orang tua Elvara sudah mengultimatum keduanya agar cepat menikah. Mobil mewah Altair sudah sampai di depan restoran dan keduanya sudah turun lalu bergandengan tanagn menuju ke dalam restoran. Kebetulan sekali, ruang privat yang dipesan oleh Altair masih ksoong. Ternyata sahabatnya belum datang. Elvara ikut memandang ruangan privat itu dan hanya melihat ada meja bulat di tengah ruangan dnegan tiga kursi. "Temanmu hanya satu, Mas?" tanya Vara lirih berbisik. "Iya Sayang," jawab Altair mengajak Elvara masuk dan menutup pintu ruangan privat itu. Alunan musik jazz membuat Altair berbisik pada Elvara, "Kita berdansa sambil menunggu sahabatku, Vara?" Elvara mengangguk dan meletakkan tas kecilnya di atas meja dan mereka langsung mengambil posisi untuk berdansa. Altair dan Elvara saling menatap. Wajah mereka saling mendekat dan hanya berjarak beberapa senti meter saja. Altair semakin menarik pinggang Elvara dan merapatkan tubuh mereka menjadi menempel satu sama lain. Bibir Altair menyentuh bibir Elvara yang berwarna merah karena liptik. Elvara tidak menghindar. Ia selalu diam dan menikmati setiap kali Altair menciumnya. Walaupun perasaannya masih hambar sampai detik ini. Saat mereka berciuman, pintu ruangan itu terbuka dan seorang laki-laki masuk ke dalam sambil menatap lekat ke arah dua sejoli yang sedang berdansa sambil berciuman dengan mesra itu. "Ekhem ..." Suara lelaki itu begitu keras terbatuk dnegan sengaja membuat kedua sejoli itu agar tahu ada dirinya ditengah-tengah mereka. Dunia bukan milik mereka berdua. Apalagi ia sedang menjomblo tingkat tinggi. Elvara menyadari ada seseorang. Ia melepas ciuman dari bibir Altair dan menjauhkan tubuhnya dari pelukan Altair. Elvara langsung menunduk tanpa melihat ke arah sahabat Altair. Elvara malu bukan kepalang. Wajah Vara terasa panas dan pasti merah sekali. "Tidak pernah berubah. Selalu mesra-mesaran di tempat yang tidak sepantasnya," jelas lelaki itu yang kemudian duduk di salah satu kursi yang kosong. "Hmmm ... Kamu yang datang tanpa aba-aba, Lio," ucap Altair dnegan suara tegas. Kalimat Altair dengan imbuhan sebutan nama Lio langsung membuat dad4 Vara berdegup dnegan keras. Vara langsung mengangkat wajahnya dan benar saja lelaki itu dia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD