Keputusan

1193 Words
Karpet merah yang mewah menelan setiap langkah Alya, tetapi tidak bisa menelan degup jantungnya yang berdebar kencang. Udara di lobi Hotel Rosetta terasa berat, meski beraroma parfum mahal. Dia diantar oleh seorang pria berkacamata hitam ke lift khusus yang membawanya langsung ke suite teratas. Pintu kayu berukir terbuka, dan di sanalah Ratri berdiri, membelakangi pemandangan kota yang mulai ditinggali gemerlap lampu. Kali ini tanpa mutiara, hanya mengenakan setelan linen putih yang sederhana namun tetap memancarkan wibawa. "Silakan masuk, Alya." ucap Ratri tanpa menoleh. Suaranya datar, tapi punya rasa memaksa yang tak tertolak. Alya melangkah pelan. Suite itu luas, berlapis marmer dan emas, tapi terasa seperti sangkar yang mewah. Ratri akhirnya berbalik. Matanya menyapu Alya dari ujung kepala hingga kaki, seperti seorang kolektor yang menilai barang antik. "Kamu lihat ini?" Ratri mengangkat secarik foto lama yang diletakkan di atas meja marmar. Alya mendekat. Foto itu menunjukkan seorang gadis kecil berambut lurus, dengan mata yang bersinar dan senyum yang merekah. Dadanya sesak. Gadis itu... mirip dengannya saat kecil. "Itu Chloe." bisik Ratri, suaranya tiba-tiba lunak oleh kenangan. "Sahabat kecil Axton sampai remaja. Dia tewas karena menyelamatkan nyawa anak saya." Ratri menatap Alya. "Kematiannya merenggut lebih dari sekadar seorang gadis. Tapi juga merenggut kewarasan putraku." Ratri meletakkan foto kedua. Sebuah foto pernikahan Axton dan Nadira. "Dan ini Nadira. Lihatlah kemiripannya dengan Chloe. Cukup untuk memikat Axton yang sedang terluka." Lalu dengan gerakan dramatis, Ratri menggeser sebuah tablet. Di layarnya, terpampang video CCTV yang jelas, menunjukkan Alya menabrak mobil Rolls-Royce-nya dari belakang. "Dan ini kamu." ujarnya, kini suaranya seperti baja. "Pilihan ada di tanganmu, Alya. Hidupmu bisa hancur karena video ini. Atau..." dia berjalan mendekat. "Kamu bisa membantu saya memperbaiki keluarga saya." "Apa yang harus saya lakukan?" tanya Alya, suaranya bergetar. "Axton terjebak dalam sebuah ikatan yang sakit. Dia menderita Attachment Disorder yang parah. Dia terobsesi pada Nadira bukan karena cinta, tapi karena penyakitnya. Nadira memanfaatkan itu. Dia mengisolasi Axton, bahkan dari saya. Dia meracuni kehidupan putra saya. Dia memperlakukan saya dan Axton seperti sampah! Seperti b***k! Dia wanita jahat!" Ratri menatap Alya dalam-dalam. "Tapi kamu... bagiku kamu berbeda. Wajahmu bukan hanya mirip. Kamu adalah potongan jiwa Chloe yang hilang. Axton tidak akan bisa menolakmu." "Saya harus... menggoda suami orang?" Alya merasa mual. "Saya menyuruhmu menyelamatkan dia!" bantah Ratri dengan tajam. "Tugasmu sederhana, dekati Axton, buat dia melihat bahwa ada cahaya yang lebih baik daripada Nadira. Buat dia berani melepaskan diri dari cengkeraman wanita itu." "Tapi..." "Apa pantas, seorang ibu harus berlutut di hadapan menantunya? Seorang ibu ditindas? Jika bukan karena khawatir dengan mental Axton, mungkin Saya sudah lama pergi. Tolong Alya, Saya akan memberiku gaji yang sangat besar. Melunasi semua hutang dan cicilanmu. Bagaimana?" Ratri mengambil sebuah dokumen dan sebuah kunci mobil dari tasnya. "Ini kontraknya. Gajimu akan sepuluh kali lipat dari standar. Apapun yang kamu minta akan Saya beri. Asal kamu berhasil membuat Axton lepas dari Nadira." Dia mendorong kontrak itu ke arah Alya. Ratri melanjutkan, suaranya rendah dan mengancam. "Kamu bisa menolak. Tapi ingat, saya punya kuasa untuk memastikan kamu akan menghirup udara penjara untuk tahun-tahun ke depan." Alya menatap dokumen itu. Tangannya gemetar. Di satu sisi, ada bayangan jeruji. Di sisi lain, ada sebuah peran yang kotor. Dia menarik napas dalam, matanya tertuju pada foto Chloe yang tersenyum polos. Dengan tangan yang masih gemetar, dia mengambil pulpen. "Saya... setuju." Kata itu keluar seperti desahan. Dia menatap Ratri, ketakutan dan keraguan jelas terbaca di matanya. "Tapi... saya tidak mengenal anak Anda. Dan umur kami berbeda jauh, apa saya bisa mengimbangi percakapannya nanti? Dia pasti lebih dewasa, lebih berpengalaman. Sedangkan saya hanya anak umur 20an yang belum berpengalaman. Termasuk dalam hubungan." Ratri tersenyum, senyum yang penuh perhitungan dan keyakinan. "Percayalah pada Tante, Sayang. Tante sudah menyiapkan semuanya." Dia menggeser sebuah tablet lain yang berisi dokumen digital yang sangat detail. "Ini semua tentang Axton. Mulai dari musik favoritnya, buku yang dia baca, traumanya, hingga pola pikirnya. Kamu akan mengenalnya lebih baik daripada siapa pun, bahkan lebih baik daripada Nadira." Wajah Ratri berkerut saat menyebut nama itu. "Dan ingat, Nadira itu sangat licik. Dia bukan lawan sembarangan. Dia pintar memainkan psikologi dan sangat memahami kelemahan Axton. Kamu harus berhati-hati, jangan sembarangan melawannya secara langsung. Hadapi dia dengan kecerdikan." "Tapi..." Alya masih ragu, hatinya berontak. "Lalu andaikan ini berhasil. Apa yang harus saya lakukan setelahnya? Setelah Nadira pergi?" Ratri mendekat, lalu dengan gerakan yang hampir seperti seorang ibu, dia mengusap kepala Alya dengan lembut. "Menjadi menantuku tidak buruk juga, kan?" bisik Ratri, suaranya merayu. "Tante tahu segalanya tentang latar belakangmu. Tante sudah menyelidiki. Aku senang kamu bersih, kamu kuat, dan kamu mandiri melewati semua kesulitan hidupmu. Anggap saja ini... kamu sedang memperjuangkan masa depanmu yang lebih baik!" "Saya..." Alya ingin protes, tapi kata-katanya tersangkut. "Jangan terlalu formal lagi dengan Tante." sela Ratri, senyumnya semakin manis, namun matanya tetap tajam. "Kamu tentu ingin hidup lebih bahagia, kan? Tidak seperti ibumu yang tidak bertanggung jawab itu? Kamu ingin membuktikan pada dunia bahwa kamu bisa meraih sesuatu yang besar?" Ratri memandangnya dalam-dalam, melempar umpan yang paling menggoda. "Jika kamu berhasil menyingkirkan Nadira, kamu akan menjadi Nyonya Axton! Kamu akan memiliki segalanya yang tidak pernah kamu impikan!" Suaranya berbisik, penuh dengan janji kekuasaan. "Bahkan jika kamu mau menghancurkan orang yang pernah merendahkanmu, hanya dengan menjentikkan jari saja! Menginginkan sesuatu? Mobil? Permata? Kekuasaan? Tinggal berkedip, dan hal itu akan ada dalam genggamanmu." ***** Pintu apartemen kecilnya yang lembap dan sempit itu tertutup dengan bunyi klik. Alya bersandar di balik pintu, menghirup napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Bau parfum mewah Ratri masih melekat di bajunya, kontras dengan aroma sederhana rumahnya. Dia melepas sepatu dan berjalan pelan ke sofa bututnya. Tablet yang diberikan Ratri tergeletak di atas meja, bagai sebuah peti mati digital yang berisi takdirnya. Dengan hati yang berat, dia menyalakannya. Cahaya layar menyinari wajahnya yang tegang saat dia mulai membaca. File demi file, dokumen rahasia tentang Axton Harstone. Suka musik jazz klasik, terutama Miles Davis. Membenci orang yang berbohong atau berpura-pura. Tidak suka percakapan basa-basi, lebih memilih kesunyian. Menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, loyalitas, ketulusan. Salah satu pengecualian itu semua adalah, orang yang mirip dengan cinta masa kecilnya. Alya terus membaca semuanya, Hobi, alergi, semua hal kecil dituliskan. Tak lupa, ia juga mempelajari calon lawannya, Nadira! Alya pun meletakkan tablet, matanya beralih ke baju seragam maid yang tergantung rapi di balik pintu. Hitam-putih, roknya sedikit pendek, persis seperti baju penggoda yang ia lihat di film-film. "Entah apa yang akan terjadi besok." bisiknya, mencoba memandang sisi positifnya. "Tapi setidaknya, aku nggak perlu mikirin utang lagi. Walau rasanya seperti menjual jiwa untuk membayar utang-utangnya." Dia berjalan ke cermin kecil di dinding. Wajahnya yang masih polos terpantul dengan jelas. Dengan tangan sedikit gemetar, dia mengambil lipstik mewah berwarna nude yang diselipkan Ratri ke dalam tasnya. Dia mengoleskannya perlahan. Warna yang natural, tapi terasa seperti topeng pertama yang dia kenakan. Dia menatap bayangannya sendiri di cermin, matanya mencoba menatap lebih dalam, seolah mencari sisa-sisa dirinya yang asli di balik keputusan gila ini. "Besok, kamu akan masuk ke dalam... entahlah. Kandang singa? Neraka? Atau ini justru akan menjadi surga yang tak pernah kamu bayangkan?" Dia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. "Yang pasti, semuanya adalah ketidakpastian. Tapi ingat, Alya... menang atau kalah, kamu yang akan menentukannya." ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD