“Titip Iresh ya, Zav. Ibu cuma mau pesen, selalu waspada di tempat baru. Jangan mudah percaya sama orang lain,” tutur Aditya, ayah Iresh kepada Zavia.
Sebagai seorang ayah, sebenarnya dia merasa berat untuk melepas putrinya pergi merantau ke ibu kota. Namun, karena Iresh memaksa dengan alasan ingin bekerja dan membuat bangga kedua orang tuanya, dan di tambah lagi ada Zavia akhirnya pria paruh baya itu pun mengizinkannya.
“Iya … Ayah,” jawab Zavia singkat sambil tersenyum.
“Kamu jangan sampai telat makan soalnya kamu punya masalah dengan lambung. Pesan Bunda, jangan sampe ninggalin ibadah ya, Nak,” timpal Hesti, ibu Iresh dengan mata yang tampak berkaca-kaca.
Sebagai orang tua, tentu saja mereka akan berpesan yang baik-baik. Semua itu tentunya demi kebaikan putri sulung mereka. Iresh memang memiliki adik, tapi sudah meninggal sesaat setelah lahir. Oleh karena itu, kenapa Hesti tidak ingin memiliki anak lagi karena dia memiliki trauma tersendiri setelah kepergian putri bungsunya dulu.
Itulah momen ketika Iresh meminta izin kepada orang tuanya di saat ingin berangkat mengadu nasib ke ibu kota. Meskipun Iresh pada awalnya mendapatkan larangan dari ayah dan bundanya, tapi dia tetap kekeh dan tak henti-hentinya membujuk mereka.
Sudah lebih dari seminggu mereka berdua sampai di ibu kota dengan tekad yang bulat ingin bersama-sama membuat bangga orang tua.
“Hari ini takdir benar-benar berpihak kepada kita ya, Resh,” ucap Zavia dengan raut wajah yang terlihat berseri-seri.
Sahabat baik Iresh yang tinggal bersama di rumah kontrakan tampak lega karena ketika baru saja datang ke ibu kota dia segera mendapatkan rumah kontrakan dengan harga yang terjangkau bagi mereka berdua.
Setelah dua hari dia tidak pulang karena ada acara pelatihan di kantornya, kini Zavia sedang berbincang dengan Iresh. Gadis itu tak henti-hentinya bersyukur karena merasa Tuhan sangat mempermudah segala urusan mereka.
Keduanya sama-sama berangkat dari kampung untuk mengadu nasib di kota besar demi mengangkat derajat keluarga mereka yang ada di kampung. Di samping itu, Zavia juga sudah mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan, sedangkan Iresh masih sibuk mencari pekerjaan karena sampai detik ini dia masih belum mendapatkannya.
“Iya kamu enak, Zav. Langsung dapat kerjaan. Lha aku? Udah muter-muter dan tanya sana-sini, tapi semuanya masih belum ada lowongan juga, sedangkan lamaran yang udah aku kirimkan juga masih belum ada yang memanggilku untuk wawancara,” keluh Iresh sambil menyalakan kipas angin.
Selama pindah ke ibu kota, gadis itu sering merasa kegerahan karena perubahan suhu yang sangat signifikan. Di kampungnya terkenal dengan udara yang sejuk cenderung dingin, sedangkan di ibu kota jika tidak menggunakan kipas angin dia tidak bisa tidur. Mungkin karena masih baru, jadi Iresh masih belum beradaptasi dengan baik.
“Kamu jangan nyerah dong, kita berjuang sama-sama dan harus kembali dengan membawa kehormatan untuk membahagiakan orang tua kita,” balas Zavia mengingatkan tujuan mereka jauh-jauh datang merantau ke ibu kota.
Di tengah-tengah pembicaraan mereka, tiba-tiba saja ponsel Iresh berdering dan tampak nomor tak dikenal tertera di layar yang sedang menyala tersebut.
“Halo …,” sapa Iresh setelah menggeser ikon telepon berwarna hijau.
“Apa benar ini dengan Ibu Ireshi Kiana?” tanya seseorang dari seberang.
“Iya benar,” balas Iresh.
Mendengar ada yang mencarinya dengan menggunakan bahasa formal, tentu saja membuat jantung Iresh berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Ia menunggu lawan bicaranya menjelaskannya dengan hati yang penuh harap.
“Saya dari perusahaan Eagle Corporate, ingin memberitahukan kalau Anda telah diterima sebagai anggota tim satu bagian IT yang bertanggung jawab di bagian bisnis market place perusahaan kami. Untuk lebih jelasnya nanti akan kami jelaskan di kantor mengenai detail jobdesk-nya,” tutur lawan bicara Iresh menjelaskan.
“Baik, Bu. Terima kasih atas informasinya,” balas iresh dengan hati yang gembira.
Raut wajah perempuan itu tidak bisa berbohong jika saat ini dia sedang sangat senang. Namun, dia masih belum bisa melampiaskannya karena dia masih berbicara dengan seseorang perwakilan dari perusahaan tersebut.
“Besok pagi Bu Iresh sudah bisa mulai aktif,” lanjut si penelepon memberi tahu.
Setelah mereka sama-sama mengakhiri panggilan, Iresh pun langsung melompat kegirangan. Akhirnya yang dia nanti-nantikan tiba juga. Kini dia sudah mendapatkan perkejaan yang sesuai dengan ilmu pendidikan yang dia tempuh di bangku kuliah dulu.
“Yeeaayyy …! Akhirnya aku dapat kerjaaan juga, Zav,” pungkas Iresh sambil memeluk sahabat yang sudah seperti saudara baginya.
“Makanya jangan suka mengeluh, nggak baik! Selamat, akhirnya kerja kerasmu membuahkan hasil, Resh,” tutur Zavia yang ikut senang dengan kabar gembira yang Iresh terima.
Apa yang dikatakan oleh Zavia memang benar jangan mudah mengeluh karena bisa saja rezeki akan menjauh karena dengan mengeluh secara tidak langsung kita sudah tidak bersyukur.
Ireshi Kiana adalah gadis yang memiliki daya tarik tersendiri. Bola matanya berwarna biru kristal dan bisa membuat orang yang menatapnya langsung terkesima, sedangkan Zavia adalah gadis yatim piatu karena kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan ketika dia masih remaja dulu. Semenjak itu dia hidup sebatang kara dengan bantuan dari orang tua Iresh.
***
“Triad udah berani cari gara-gara sama Black Eagle, kita harus serang balik mereka biar nggak semakin ngelunjak,” tutur Arkan dengan geram.
“Bener apa kata Arkan, aku setuju! Sekarang kita atur startegi untuk formasi penyerangannya,” sahut Lukas dengan tatapan tajam, tapi terkesan dingin.
Ishan masih diam tampak sedang berpikir. Sebagai seorang pemimpin kelompok Black Eagle dia tidak boleh gegabah. Jika mereka menyusun rencana penyerangan untuk pribadi, tentu saja membuat Ishan senang bukan main, karena dia bisa berburu dengan sesuka hatinya. Namun, jika dia berpikir sebagai seorang pemimpin, pastinya pria itu akan berpikir panjang karena dia membawa banyak nyawa di bawah kepemimpinannya.
“Udah jangan terlalu lama mikirnya, nanti mereka ngiranya kita takut karena nggak berani balas serangan mereka,” timpal Arkan lagi.
Pria itu merasa gemas dengan bos yang sekaligus juga sahabatnya yang tampak diam tidak bereaksi. Luka di perut Ishan tidak terlalu parah, karena peluru tidak sampai mengenai organ vitalnya. Jadi setelah mendapatkan perawatan dari dokter pribadinya, pria itu langsung bisa beraktifitas kembali seperti biasanya.
“Kalau kita balas sekarang, tentu mereka masih waspada karena mereka tahu kalau kita nggak akan tinggal diam,” tutur Ishan pada akhirnya.
Arkan dan Lukas tampak terdiam sesaat. Kedua pria itu tampak sedang memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh pemimpinnya tersebut.
“Benar juga, ya. Tapi kita harus tetep balas, karena jangan sampai kita dikira takut,” kekeh Arkan yang sudah tidak sabar ingin menyerang markas kelompok Triad.
“Kita nggak hanya menyerang saja, tapi kita harus ratakan markas mereka dengan tanah. Jadi kita serang lusa jam dua dini hari,” pungkas Ishan sambil menghembuskan asap putih tebal dari mulutnya.
Lukas dan Arkan seketika bernapas lega. Memang dia akui strategi penyerangan Ishan selalu sempurna. Oleh karena itu, kenapa para anggota dan petinggi kelompok Black Eagle memilih pria itu untuk menggantikan pemimpin terdahulu yang memilih untuk pensiun.
“Ingat rencana ini masih bersifat rahasia karena kita tetap harus waspada kalau ada mata-mata yang menyusup,” sambung Ishan memperingatkan kedua tangan kanannya tersebut.
Setelah menyusun rencana serangan balasan, Ishan langsung pergi meninggalkan markas. Dia harus pulang karena masih ada pekerjaan sebagai CEO perusahaan besar yang sedang menunggunya.
Sejak tadi asistennya yang bernama Leo sudah mengingatkan jika ada berkas yang sedang menunggu tanda tangannya. Sebenarnya bisa saja dia bersikap keras sama seperti ketika dia sedang berperan sebagai pemimpin kelompok Black Eagle. Namun, itu tidak dia lakukan karena dua dunianya itu sangat jauh berbeda, meskipun sebenarnya karakternya masih sama-sama dingin dan kejam.
Selama dalam perjalanan pulang, lagi-lagi Ishan teringat dengan tatapan gadis yang menolongnya. Mata indah berwaran biru kristal itu masih melekat jelas di dalam ingatannya. Dia juga masih mengingat bagaimana gadis itu sedang bergoyang mengikuti irama musik dari headset-nya. Bahkan, dia juga ingat bagaimana gadis itu terlihat panik dan ketakutan ketika melihat dia terluka.
“Siapa dia?” gumamnya.