Bab 2. Jerat Kecantikan Anak Majikan

1442 Words
“Emm … Mama enggak apa-apa, Sayang. Cuma … salah posisi tidur. Kamu kenapa pulang enggak bilang-bilang? Mama, kan, bisa jemput,” kata Melisa mencari alasan. Wanita itu kemudian maju sejengkal dan mengajak sang putri duduk di sofa yang ada di luar kamarnya. Tentu saja, agar Anna tidak tahu jika saat ini ada pria lain yang sedang tidur di ranjangnya. Anna tidak boleh tahu ia tengah menikmati belaian pria selain Sanjaya. “Iya, Ma. Sengaja kasih surprise. Kirain Mama udah tidur. Soalnya pesawatku delay tadi,” kata Anna. Keduanya mengempaskan tubuh di sofa cokelat itu dan melanjutkan percakapan. Melisa sebisa mungkin terlihat biasa, walaupun sejujurnya ia begitu berdebar-debar. Bagaimana mungkin sang anak tiba-tiba pulang. Untung saja, ia dan Rahes telah menyelesaikannya. Jika tidak, Melisa tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. “Mama udah ngantuk, sih, tadi. Kamu pasti capek juga, kan?” “Iya, sih. Tapi aku kangen sama Mama,” jawab Anna seraya memeluk wanita itu. Anna memejam ketika melakukan itu dan tanpa sengaja menghidu aroma parfum lain selain yang biasa digunakan sang mama. Namun, ia mengabaikannya dan tetap memeluk Melisa dengan erat. “Mama juga kangen banget sama kamu. Tapi sekarang, kamu mandi dulu, gih. Nanti kita bicara lagi,” ucap Melisa. “Oke, Ma. Aku ke kamar, ya,” kata Anna kemudian. “Iya, Sayang. Mandi yang bersih. Nanti kita ngobrol lagi. Mama enggak sabar nunggu cerita kamu,” jelas Melisa. “Siap, Ma.” Anna berlalu dari hadapan Melisa dengan riang. Gadis itu berjalan ringan menuju ke kamarnya yang berseberangan dengan kamar Melisa. Sementara wanita itu membuang napasnya dengan kasar. Melisa benar-benar merasa ada di ujung jurang. Untung saja ia bergerak cepat tadi. Setelah Anna masuk ke kamarnya, Melisa buru-buru kembali ke ruangan pribadinya demi menemui Rahes yang masih terlelap. Saat ia masuk, pria itu tampak sudah bergerak dan mengurut keningnya dengan jari tangannya. “Rahes,” panggil Melisa kemudian. Pria itu terkejut setengah mati. Otaknya mendadak tumpul karena teringat dengan apa yang tadi ia lakukan dengan wanita yang telah membuat keluarganya hancur. “Nyonya, apa yang sudah kita lakukan?” tanya pria itu terbata-bata usai melihat dirinya yang ada di ranjang majikannya tanpa busana. Melisa tersenyum, lalu mendekati pria itu dengan perlahan. “Emm … apa kamu lupa dengan apa yang terjadi, Rahes? Kamu … telah memberikan yang terbaik untukku,” jawab Melisa. Rahes makin gusar. Ia menggeleng kasar karena merasa jika ini semua adalah salah. Mana mungkin ia bisa menikmati malam dengan orang yang telah mencelakai kedua orang tuanya. Tidak. Melisa pasti berbohong. “Nyonya jangan bercanda. Saya tadi hanya merasa ….” Rahes ingat semua yang ia rasakan. Tadi, setelah menenggak minuman yang diberikan oleh sang majikan, tubuhnya mendadak panas dan hasratnya meningkat. Melisa sengaja membuka dirinya agar Rahes bisa makin terangsang. “Apa yang kamu rasakan? Kenikmatan? Aku juga Rahes. Kamu benar-benar perkasa,” puji Melisa. Kali ini Rahes yakin, jika wanita di hadapannya memang sangat licik. Bagaimana mungkin ia bisa begitu saja terpedaya. Padahal ia sudah tahu dan paham bagaimana dulu Melisa dan Sanjaya membuat keluarganya berantakan. Rahes buru-buru menyibak selimut dan memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Gegas ia menggunakannya dan hendak berlalu dari kamar sang majikan. Sudah cukup. Ini adalah hal paling gila yang bisa Rahes pikirkan mengenai Melisa. “Kamu mau ke mana, Rahes?” tanya Melisa kemudian. “Saya harap Nyonya tidak melakukan ini lagi,” kata Rahes. “Kamu tenang saja. Aku akan melebihkan gajimu jika kamu mau melakukannya lagi,” ucap Melisa. Rahes tak peduli dengan ucapan wanita itu. Buru-buru ia memakai pakaiannya dengan lengkap dan keluar dari kamar Melisa. Sementara wanita itu hanya bisa tersenyum kecil. Ia merebah di ranjang yang tadi ia gunakan bergulat dengan Rahes hingga puas, lalu tertawa lirih. “Rahes benar-benar membuatku candu,” bisiknya. Sementara itu, Rahes yang kembali ke kamar segera masuk ke kamar mandi. Ia menyalakan shower dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin di ruangan lembap itu. “Aah … sialan!” Rahes berkali-kali mengumpat kasar karena merasa geram. Bagaimana mungkin ia bisa kecolongan hingga tidur dengan Melisa. “Dasar wanita sialan!” Lagi ia berteriak. Rahes tak peduli ada yang mendengarnya. Sampai akhirnya, ia mulai mewaraskan diri. Baiklah, Rahes akan menganggap jika ini adalah permulaan dari pembalasan dendamnya. Ya, Melisa telah jatuh hati padanya. Jadi, apakah ia bisa memanfaatkan situasi itu? *** “Pagi, Ma.” Anna turun dari kamarnya pagi itu setelah semalaman ia mengobrol dengan sang mama. Gadis ceria itu mengambil duduk di depan Melisa yang juga tampak sangat bahagia pagi ini. “Pagi, Sayang. Mau sarapan apa?” tanyanya. “Roti aja, Ma,” jawabnya. “Oke.” Melisa melayani gadis itu dengan sangat baik. Sampai akhirnya pintu utama terbuka. Sanjaya pulang dengan wajah kuyu setelah seharian berada di luar kota kemarin. “Papa ….” Anna meninggalkan meja makan dan memeluk Sanjaya dengan erat. Pria itu juga terkejut karena ia pikir, anak gadisnya akan kembali minggu depan. “Sayang, kok, kamu sudah ada di rumah?” tanyanya. “Surprise,” jawab Anna. Keduanya saling berpelukan demi melepas rindu yang tertahan selama 2 tahun Anna di luar negeri. Kali ini, karena ia memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di Indonesia saja, jadi ia pulang di awal semester ini. “Papa pasti capek. Papa mandi dulu, terus istirahat. Emm … jangan lupa makan. Anna mau pergi ke kampus hari ini,” jelas gadis itu. “Iya, Sayang. Minta sopir antar. Kamu masih belum hafal daerah sana,” kata Sanjaya. “Siap, Bos. Nanti di sana, Anna dibantu senior, kok, Pa. Kakak kelas dulu pas sekolah. Jadi, Papa tenang aja,” jelas gadis itu. “Iya.” Sanjaya mengusap ubun-ubun anak gadisnya itu dengan lembut. Lantas, pamit untuk naik ke kamar. Anna sedikit merasa heran karena sang mama tampak acuh terhadap Sanjaya. Namun, ia tak banyak bertanya karena mungkin saja mereka memang sedang bertengkar. “Jadi, kamu mau pake sopir?” tanya Melisa. “Iya, Ma. Mama enggak pergi, kan, hari ini?” tanya Anna. “Enggak, Sayang. Ya, udah. Mama minta sopir siapkan mobil dulu, ya.” Anna mengangguk lantas menyelesaikan makannya. Sementara Melisa pergi ke garasi. Rahes sudah selesai mencuci mobil dan sedang mengelapnya. “Rahes,” panggil wanita itu. Pria itu menoleh, lalu menunduk dalam. “Iya, Nyonya.” “Siapkan mobilnya. Kamu harus mengantar Anna pagi ini ke kampus,” jelas Melisa. “Iya, Nyonya,” jawabnya. Melisa lantas mengamati situasi. Kemudian mengikis jarak dengan Rahes yang tampak enggan. “Jangan marah soal semalam, ya. Aku minta maaf. Aku terpaksa melakukan itu karena aku enggak tahan lihat tubuh kamu, Rahes. Tapi sesuai janjiku, aku akan memberikan uang tambahan untukmu,” bisik Melisa. Rahes tak menjawab. Ia sudah mencoba menahan diri untuk tidak melakukan kekerasan pada wanita di hadapannya. Jadi, ia berharap Melisa tak lagi mengganggunya. “Ma, aku udah siap.” Tiba-tiba suara Anna menarik perhatian keduanya. Melisa menoleh, lalu mendekati anak gadisnya yang sudah siap dengan tas selempangnya. Sementara Rahes mendadak terdiam. Tatapannya tertuju pada sosok gadis yang sejak datang ke kediaman ini beberapa waktu lalu, baru hari ini ia lihat. Anak gadis Sanjaya yang rupawan. “Itu, Rahes juga udah siap,” kata Melisa. “Loh, Pak Darman ke mana?” tanya Anna. “Lagi cuti. jadi Rahes yang gantikan. Sudah sana. Nanti temanmu nungguin,” kata Melisa. “Iya, Ma.” Anna melempar senyum ketika mendekati Rahes. Sementara pria itu mendadak jadi kaku. Rahes tersentak baru kemudian membukakan pintu untuk anak majikannya. “Silakan, Nona,” katanya. “Terima kasih.” Refleks Rahes menggunakan tangannya untuk menjaga kepala Anna agar tidak terantuk. Bagaimanapun, ia harus bekerja dengan profesional. Walaupun pada kenyataannya, debar dalam dadanya tak bisa begitu saja ia abaikan. Aah … ia harus ingat komitmennya untuk tidak memakai perasaan dalam misi balas dendam ini. Mobil kemudian melaju ke arah kampus yang Anna sebutkan. Sepanjang perjalanan, Anna sibuk mengawasi sekitar, sedangkan Rahes sesekali melihat anak majikannya dari spion dalam. Entahlah, rasanya wajah Anna begitu sayang untuk dilewatkan. Sampai akhirnya, mereka sampai di halaman kampus. Buru-buru Rahes keluar dan membukakan pintu untuk Anna. “Terima kasih, ya, Rahes,” kata Anna. “Sama-sama, Nona,” jawabnya. Keduanya bersirobok cukup lama. Sampai akhirnya seseorang memanggil gadis itu. “Kak, maaf, ya, aku telat,” kata Anna. “Enggak masalah. Mau masuk sekarang?” tanya Vano. “Iya.” Anna berjalan menuju ke kampus bersama Vano. Sementara Rahes hanya bisa menatap punggung gadis itu menjauh. Ada perasaan yang entah bagaimana ia menjelaskannya. Namun, tak lama, Anna menoleh dan melambai ke arah Rahes. “Rahes, terima kasih, ya,” katanya. Tiba-tiba hati pria itu menghangat. Sejenak, ia mulai terlena, tapi kemudian menggeleng lemah. “Jangan, Rahes. Dia anak musuhmu,” bisiknya pada diri sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD