Bab 4. Tidak Gratis

1219 Words
Kedua bola mata Zena membulat. Wanita itu berusaha mendorong kuat d**a Justin, namun usahanya sia-sia. Yang ada pria itu semakin menahan tengkuknya agar tidak bisa melepaskan diri. Jantung Zena berdegup kencang. Selain kaget, dia juga takut kelakuannya ini dilihat oleh Emma atau Geraldy. Kalau sampai mereka melihat, penjelasan apa yang harus Zena berikan? Sedangkan dirinya harus mengumpulkan buti perselingkuhan kekasihnya. Justin mengangkat tubuh mungil Zena, lalu mendudukkannya di atas meja. Pria itu berbisik, “mau di mana aja, saya ngga akan pernah takut, Zena.” “Om gila, ya?!” “Yups. Saya gila karna kamu.” Justin menjilat daun telinga Zena, membuat tubuh wanita itu merinding bukan main. Tangan Zena kembali mendorong tubuh Justin. Tatapan keduanya kini beradu. Justin yang terlihat santai, sedangkan Zena sudah menahan amarah. Bisa-bisanya dia diperlakukan tidak baik seperti ini. Zena ingin turun, namun Justin kembali menahan. “Saya saranin kamu jangan lanjutkan pernikahan sama Gerald,” ujar Justin dengan suara rendah. Zena mematung. Larangan itu sangat sama dengan keinginan dirinya saat ini. Zena kembali menatap Justin, kali ini dengan bingung. Demi apapun dia tidak mengerti maksud tujuan pria dihadapannya itu apa. Selagi Zena menatap Justin, tangan pria itu membelai lembut pipi Zena. “Dia ngga sebaik yang kamu kira. Kalau kamu tetap melanjutkan, saya jamin nantinya kamu akan menyesal.” Justin kembali berujar. “Lebih baik kamu sama saya. Hidup akan terjamin, semuanya juga sama terjaminnya,” lanjut pria itu masih sambil membelai pipi Zena. Mendengar itu Zena semakin diam. Kenapa sekarang dia berfikir kalau sebetulnya Justin tahu sesuatu? Tetapi pria itu tidak mau memberitahu secara gamblang padanya. Saat Justin mendekatkan wajahnya kembali, Zena memalingkan wajahnya. “Apa yang sebenarnya Om tau tentang Gerald?” tanya Zena. “Cukup banyak,” jawab Justin dengan santai. Benar dugaan Zena, pria di depannya memang tahu sesuatu. Apa dia tahu soal perselingkuhan Geraldy dengan Revinka? “Apa, Om? Apa yang Om tau? Coba kasih tau aku.” Tawa Justin terdengar renyah di telinga Zena. “Kalau saya kasih tau, bayarannya apa? Saya ngga mau kasih berita secara cuma-cuma. Kalau kamu mau membayar, saya siap kapan aja kasih tau. Gimana?” Bayaran. Zena sangat tahu bayaran apa yang dimaksud oleh Justin. Wanita itu mendengus, lalu mendorong d**a Justin. Zena langsung turun, dan berlari kecil kembali ke ruang tamu. Lagi-lagi dia melupakan niat awal yang ingin ke kamar mandi. “Udah, Zen?” tanya Emma, saat Zena sudah berada di ruang tamu. Zena menganggukan kepalanya. Tak lama Zena kembali, Justin datang. Pria itu melewati Zena, pas sampingan Justin mengedipkan sebelah matanya. Zena yang melihat itu benar-benar tidak habis fikir. Karena tidak mungkin duduk di samping Emma yang ada Justin, maka dari itu Zena memutuskan duduk di samping Geraldy. Wanita itu memamerkan senyumannya saat Geraldy meraih kedua tangannya lagi. “Jadi, apa yang mau Mama bicarain sama Zena? Padahal Zena hari ini mau istirahat karna capek. Tapi berhubung Mama ingin bertemu, Zena bela-belain datang,” ujar Geraldy membuka obrolan. “Soal pernikahan kalian. Kalian kapan mau menikah? Ralat, kapan mau tunangan? Rencana tunangan kalian selalu diundur dari bulan lalu. Kalau terus begini, bisa-bisa ngga akan terlaksana sampai kapanpun.” Emma menatap sang anak dan calon menantunya satu per satu. Lagi-lagi soal pernikahan. Sungguh, Zena sudah tidak excited. Jangankan excited, mendengarnya saja malas. “Kalau aku siap kapan aja, semua tergantung Zena sekarang. Kemarin diundur juga karna Zena ada pemotretan, ‘kan? Gimana, Zen? Kapan kamu siapnya? Lusa juga aku siap.” Geraldy bertanya, pria itu menatap Zena yang duduk di sampingnya. Sejenak Zena terdiam. Otaknya sedang bekerja keras memikirkan jawaban yang sekiranya masuk logika. Pasalnya mengumpulkan bukti Zena membutuhkan banyak waktu, tidak bisa instan. Melihat kekasihnya melamun Geraldy mengerutkan keningnya. Ini benar-benar aneh, benar bukan Zena yang seperti biasanya. Entah apa yang terjadi pada wanita itu selama di Tokyo, Geraldy jadi menebak-nebak sendiri. “Kayaknya ada yang ragu. Kalau emang ragu, ngga baik dilanjutin.” Semua mata kini menatap Justin. Tentu Geraldy dan Emma bingung kenapa Justin bisa berkata seperti itu. “Maksudnya, kalau emang masih ada yang ragu, ya jangan diburu-buruin gitu. Bukannya ngga baik?” Sebelah alis Justin terangkat menatap kakak dan keponakannya. Pandangan Emma kembali beralih ke Zena. Apa yang Justin katakan ada benarnya sedikit. “Kamu … masih belum yakin?” Tanpa fikir panjang Zena menganggukan kepalanya. “Aku masih banyak pekerjaan, masih banyak jadwal pemotretan. Aku takut, dengan adanya ikatan pernikahan, pekerjaan aku akan berantakan. Itu yang jadi pertimbangan aku sekarang. Maka dari itu aku mau minta waktu buat mikirin semuanya.” Jawaban Zena benar-benar di luar dugaan Geraldy. Padahal sebelumnya, Zena lah yang selalu menyinggung soal pernikahan. Tetapi kenapa sekarang berbeda? Padahal juga, Zena pernah bilang kalau dia siap meninggalkan karirnya setelah menikah. Sungguh, ini benar-benar ada yang salah. “Zen?” “Kasih aku waktu, Ger,” jawab Zena cepat. Jawaban Zena benar-benar jawaban yang Justin harapkan. Pria itu tersenyum puas, punggungnya bersandar pada sofa sambil menaikan satu kakinya. Tatapan Justin masih tertuju kepada Zena, dia juga melihat Zena yang berusaha melepaskan tangannya dari Geraldy. Andai situasi bisa Justin balik sekarang, ingin sekali dia menarik Zena menjauh dari keponakannya. Tapi sayang, untuk mencapai ke sana masih ada beberapa step. Kalau sudah seperti ini Emma tidak bisa memaksa. Walaupun ya, sebetulnya dia ingin sekali anaknya cepat menikah dengan Zena. Tapi apa daya, Zena masih memikirkan karirnya sebagai model. “Maaf ya, Mah, aku masih butuh waktu. Mama tau sendiri gimana aku membangun karir, masa dengan mudah aku udahin. Jadi model itu cita-cita aku sejak dulu, dan aku baru berkecimpung selama dua tahun,” ujar Zena, menatap Emma. Emma tersenyum, kepalanya mengangguk. “Mama ngga bisa paksa kamu, Zena. Mungkin ngga menikah dalam waktu dekat, tapi apa bisa tunangan dulu? Supaya kalian ada ikatan.” “Itu juga aku butuh waktu, Mah. Pokoknya nanti kalau aku udah siap, aku akan kasih tau Geraldy dan Mama. Janji.” Zena tersenyum manis menatap Emma. Sebisa mungkin dia meyakinkan wanita itu agar percaya dengan dirinya. “Yaudah kalau begitu. Sekarang kamu sama Geraldy mau ke mana lagi?” “Aku mau pulang, Mah. Aku capek, semalam juga tidurnya agak pagi. Nanti sore aku ada rapat sama perusahaan. Kalau emang Gerald mau ke kantor, aku pulang naik taksi aja. Nan—” “Aku antar,” potong Geraldy cepat. “Bukannya kamu ada meeting, Ger?” tanya Emma. “Habis antar Zena aku ke kantor, Mah. Ak—” “Kalau gitu biar Paman aja yang antar Zena. Sekalian Paman mau pulang, mau ambil laptop di rumah.” Geraldy menatap Justin. Dirinya memang ada meeting, baru banget tadi dikabari. Tapi membiarkan kekasihnya pulang dengan sang paman, apa itu ide bagus? Geraldy menatap Zena, wanita itu hanya diam. “Emang ngga ngerepotin Paman?” Justin menggelengkan kepalanya. “Kamu ini kayak sama siapa aja, Ger. Zena akan aman Paman antar sampai rumah. Gimana?” “Engga usah, Om, aku bisa pulang sendiri naik taksi. Ngga perlu repot,” tolak Zena halus. Aseli, ia tidak mau pulang bersama Justin. Bukan apa-apa, Zena takut ada kejadian lain. Tidak menghiraukan penolakan Zena, Justin berdiri, menghampiri Zena sembari mengulurkan tangannya. “ Ayo sama saya aja, jauh lebih aman, biar Gerald juga tenang.” “Yaudah, Zen, kamu diantar Pamanku aja. Gapapa, ngga usah canggung. Toh kalian udah kenal lama,” kata Geraldy, mengusap lengan Zena. Ya Tuhan, kesialan model apa lagi ini?! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD