“Saya mau kamu malam ini, Zen.”
“Eughh, om Justin, sadar! Aku Zena, Zena kekasih keponakanmu!”
“I know, maka dari itu saya mau kamu.” Tanpa melepaskan kedua tangan Zena, pria itu membenamkan wajahnya di leher hangat milik Zena.
Demi apapun Zena tidak tahu apa yang diinginkan oleh Justin. Dia juga tidak mengerti kenapa pria itu melakukan ini padanya. Padahal sudah jelas-jelas status dirinya adalah kekasih dari keponakannya. Ya walaupun akan segera jadi mantan, sih. Zena tidak tahu masih bisa melanjutkan kisahnya bersama Geraldy apa tidak.
Ah, sial, mengingat Geraldy dia jadi teringat kejadian tadi. Kejadian yang tidak mau Zena lihat lagi sampai mati. Di saat hatinya sedang bergemuruh, wanita itu dibuat memejamkan mata karena ulah Justin di lehernya. Ini gila, dan ini tidak boleh terjadi. walaupun akan menjadi mantan, tetap saja hal ini tidak boleh terjadi.
Kesadaran Zena kembali, wanita itu memberontak, melepaskan kedua tangannya. Namun hal itu tak membuat Justin menghentikan aksinya. Yang ada dia semakin menjadi-jadi menghisap kuat leher Zena. Zena memekik, sebisa mungkin dia mendorong d**a Justin. Air mata Zena sudah berkumpul di pelupuk matanya. Niat hati ingin menenangkan fikiran, tapi siapa sangka dirinya akan terjebak dengan paman kekasihnya yang sedang dikuasai alkohol.
Tangan Justin menyelusup masuk ke dalam dress Zena, namun dengan cepat wanita itu menahannya. Sejenak tatapan mereka beradu. Justin yang sudah dalam pengaruh alkohol tentu tidak perduli dengan apapun, berbeda dengan Zena yang kesadarannya masih utuh.
“Om? Om lupa sama aku? Aku Zena, Om. Om ini mabuk, tapi dari banyaknya wanita kenapa sasarannya aku?”
Tangan yang awalnya ingin menyelusup masuk seketika membelai pipi Zena. Pria itu menyunjingkan senyumannya menatap sendu Zena. Melihat pria di atasnya sedikit lengah, Zena mendorong kuat tubuh Justin, lalu buru-buru dia bangkit berdiri. Zena membenarkan dressnya yang sudah berantakan karena ulah Justin. Dengan kekesalan yang menumpuk, Zena menendang kaki pria itu.
“Om sama keponakan sama aja! Sama-sama stress!” Setelah mengatakan itu Zena berlari meninggalkan Justin. Tak ada lagi niat cari angin, Zena memilih pergi keluar dari club.
“Andai kamu tau, Zen. Saya cinta sama kamu sudah sejak lama. Dan kamu layaknya sama saya daripada Gerald. Semoga kamu cepat sadar,” kata Justin diikuti dengan kekehan kecil. Ah, ia jadi membayangkan lagi betapa manisnya bibir Zena tadi.
Di sepanjang jalan, Zena terus mendumel. Hari ini dia benar-benar ketiban sial dari segala arah. Entah semalam diam impi apa sampai malam ini banyak diberi kejutan tak terduga. Saking kesalnya, Zena menendang kaleng bekas minuman yang menghalangi jalannya.
“Sialan!” umpat Zena. “Kalau tau begini mending gue ngga usah balik dari Tokyo,” sambungnya masih dengan kekesalan yang ada.
Tapi tunggu dulu. Bagaimana reaksi Geraldy kalau dia tahu pacarnya dicium oleh pamannya sendiri? Apa dia akan marah? Atau masa bodo?
“Ravinka, lo benar-benar iblis!”
***
Pagi harinya Zena harus terbangun karena terus dibanguni oleh sang mama. mata Zena yang masih berat tentu enggan untuk terbuka. Akan tetapi semakin lama dia membuka mata, guncangan di tubuhnya semakin menjadi-jadi. Zena berdecak kesal, lalu dia membalik tubuhnya menjadi terlentang.
“Kamu ini kenapa susah banget dibangunin, sih? Itu di bawah ada Gerald nyariin kamu.”
Zena menatap datar Liana. Apa katanya? Gerald datang ke sini? Tapi tahu dari mana dia kalau dirinya sudah pulang bahkan sampai rumah? apa Justin yang memberitahu? Kalau iya, menyebalkan sekali pria itu. Melihat sang anak melamun Liana memukul pahanya yang masih terbungkus selimut tebal.
“Kamu dengar Mama bicara tidak?! Ada Geraldy di bawah!”
“Dari mana dia tau aku udah sampai, Mah? Bukannya yang dia tau aku take off jam satu siang? Ini masih jam delapan loh.”
Liana menghela napas. “Mama. Semalam Mama yang telepon Gerald buat nanyain kamu lagi sama dia apa engga. Karna Mama tanya, ya otomatis dia tahu. Lagipula tujuan kamu mempercepat kepulangan mau kasih surprise ke dia, ‘kan?”
Mendengar itu Zena tertawa. Ini kalau dia bicara yang sesungguhnya pada Liana, apa wanita itu akan percaya?
“Yaudah bangun, temuin deh.”
Alih-alih manut, Zena justru menarik kembali selimut tebalnya sampai menutupi kepala. Zena tidak siap bertemu pria itu, benar-benar tidak siap. Kesal karena anaknya kembali menarik selimut, Liana ikut menarik selimut itu sampai terbuka kembali.
“Mau turun atau Mama aduin ke ayah?” ancam Liana dengan nada tak main-main.
“Iya, iya!” Dengan kesal Zena menyibak selimut tebalnya. Setelah itu dia memakai sendal, lalu meninggalkan kamar.
Perlahan namun pasti, Zena menuruni anak tangga. Sebisa mungkin dia mengontrol mimik wajahnya. Zena tidak ingin langsung menyemprot, dia ingin mengikuti permainan pria itu. Sejauh apa pria itu akan bermain di belakangnya.
“Zen?” Geraldy berdiri, ia menghampiri Zena. Dipengangnya kedua pundak Zena, tatapan pria itu terlihat khawatir. Ralat, antara khawatir sama takut.
Susah payah Zena menampilkan senyumannya. Sebetulnya dia jijik sekali disentuh pria itu, ingin sekali menepisnya kasar. Sedang saling tatap ponsel di tangan Zena berdering. Zena mengangkat tangan, menatap nama yang tertera di layarnya.
Revinka calling…
Dua penghianat itu kompak sekali mencarinya. Zena tertawa kecil. Tidak menghiraukan panggilan itu, Zena memilih menatap kembali Geraldy. Satu tangan wanita itu terangkat, mengusap wajah Geraldy. “Ada apa, sayang? Tumben pagi-pagi udah datang ke sini? Ada hal penting?”
“Harusnya aku yang tanya, Sayang. Kenapa kamu pulang ngga ngabarin aku sama sekali? Katanya kamu pulang hari ini, tapi ternyata semalam. Lalu semalam kamu ke mana? kok ngga hubungi aku?”
‘Hampir dimangsa pamanmu!’ batin Zena.
Geraldy beralih meraih kedua tangan Zena. “Kenapa kamu pulang mendadak?”
“Kenapa? Gapapa. Niatnya mau kasih surprise buat kamu, tapi aku takut kamu ngga ada di apartemen. Jadi yaudah, niatnya siang ini aku mau datangin kamu. Tapi kayaknya gagal ya?”
Mendengar itu Geraldy langsung menarik, memeluk tubuh Zena. “Aku kira kamu kenapa-napa, Zen.”
Jika dulu ini adalah pelukan ternyaman dan teraman, tapi tidak untuk kali ini. Semuanya sudah terasa hambar, tidak ada rasa apapun. pelukan Geraldy tak Zena balas. Hal itu tentu membuat Geraldy bertanya-tanya. Pelukan pria itu lepas, lalu dia kembali menatap kekasihnya.
“Kamu kenapa sih, Zen? Kok beda banget? Kerjaan kamu ada masalah? Kalau emang iya, kamu bisa cerita sama aku. Ini kamu ngga kayak biasanya loh, aku bisa rasain itu. Ayo sini duduk, ceritain semuanya sama aku.” Geraldy menarik pelan pergelangan tangan Zena, menuntun membawanya duduk ke sofa. Akan tetapi, Zena menepisnya dengan kuat.
Kening Geraldy mengerut. Dia berusaha meraih tangan Zena lagi.
‘Kamu selingkuh, aku jijik!’ teriak Zena di dalam hati.
***