BAB 3

1049 Words
Aroma minyak kayu putih dan sisa-sia bau obat masih tertinggal di kamar utama Bu Nilam. Alika duduk di tepi ranjang, perlahan melepaskan pijatannya pada kaki mertuanya yang kini telah tertidur pulas akibat pengaruh obat penenang dosis rendah. Wajah Bu Nilam yang biasanya ceria dan penuh semangat, kini tampak pucat dan rentan. “Ingat, Mbak Alika. Ibu Nilam tidak boleh mendapatkan tekanan batin atau kejutan yang ekstrem untuk sementara waktu. Tekanan darahnya sempat melonjak ke angka 170 tadi, dan itu sangat berisiko bagi jantungnya,” bisik Dokter keluarga Adyatama sesaat sebelum berpamitan di depan pintu kamar. “Saya mengerti, Dok. Saya akan menjaga beliau,” ucap Alika. Setelah dokter pergi, rumah itu terasa begitu sunyi. Citra, kakak Rayyan, yang sempat di beritahu keadaan Bu Nilam oleh Alika langsung datang ke rumah di sela-sela kesibukannya, ia pun sempat kaget setelah tahu jika ada seorang wanita yang mengaku hamil oleh Rayyan, Citra tidak habis pikir dengan kelakuan adiknya, dinikahkan baik-baik malah mencari perempuan lain yang tidak jelas. Dan sekarang, Citra sudah pulang satu jam yang lalu setelah memastikan kondisi mamanya stabil. Citra sempat memeluk Alika erat dan membisikkan kata terima kasih. Bagi Citra, kehadiran Alika adalah anugerah, ia bisa kembali fokus pada bisnisnya tanpa harus merasa cemas meninggalkan Bu Nilam sendirian. Namun, di mana Rayyan? Pria itu menghilang setelah drama Sherly berakhir. Alika menarik napas panjang. Ia tidak ingin tahu ke mana suaminya pergi. Mungkin ke kantor, atau mungkin menenangkan diri. Itu bukan urusannya. Tiga bulan rasanya ia cukup bertahan dengan pernikahan ini, ia kembali teringat dengan ucapan Sherly dan kertas USG tadi, walaupun ia tahu kertas USG tadi itu palsu, namun tetap saja, suaminya bertemu dengan wanita lain disaat dirinya dan Rayyan baru saja terikat pernikahan. Ia terus mengingat-ingat waktu 2 bulan lalu, walaupun ia sama sekali tidak pernah mencampuri urusan pribadi suaminya, namun ia merasa tidak pernah kehilangan Rayyan satu malam pun, Rayyan selalu pulang ke rumah walaupun larut. Dan ia tidak pernah mendapati Rayyan pulang dalam keadaan mabuk. Otak nya terus berputar hingga teka-teki ini perlahan Alika ingat. Saat itu, baru beberapa minggu ia menikah, Rayyan harus pergi ke luar kota untuk kunjungan bisnis selama dua hari. “Ya.. mungkin saat itu kamu bertemu dengan Sherly Mas..” batin Alika. Ia memejamkan mata sejenak lalu menghembuskan napasnya perlahan sekadar untuk merileksasikan tubuh dan perasaannya. Jam menunjukkan pukul 20.15 WIB. Tubuh Alika terasa sangat lengket. Ia masuk ke kamar utama, kamar luas yang terasa dingin karena pemiliknya belum kembali. Alika segera membersihkan diri. Lima belas menit kemudian, ia keluar mengenakan gaun tidur satin berwarna biru gelap yang panjangnya mencapai mata kaki, dilapisi kimono tidur berbahan senada yang longgar. Rambut hitamnya ia ikat agak tinggi menampakkan leher nya yang putih bersih. Alika baru saja akan melangkah menuju meja rias saat pintu kamar terbuka. Rayyan berdiri di sana dengan penampilan berantakan. Langkah kaki pria itu terhenti seketika. Rayyan tertegun. Ia adalah pria dewasa yang normal. Melihat Alika dalam keadaan seperti ini dengan aroma sabun yang segar dan leher yang terbuka tanpa penghalang, membuat sesuatu berbeda pada tubuhnya. Biasanya ia pulang Alika sudah terlelap tidur. Rayyan segera membuang muka, mencoba menetralisir debaran jantungnya. “Kenapa kamu berpakaian seperti itu?” suara Rayyan terdengar sangat dingin. “Pakaian seperti apa? Ini baju tidur, hampir tiap malam aku menggunakan pakaian ini” protes Alika heran. Rayyan melangkah maju, meletakkan jasnya dengan kasar. “Ganti pakaianmu. Sekarang. Jangan berniat menggodaku, Alika. Aku tahu wanita sepertimu punya seribu cara untuk menjatuhkan pertahanan pria.” “Menggoda? Pikiranmu terlalu kotor, jangan samakan aku dengan wanita-wanita mu, coba kamu ingat apa hanya baru malam ini aku menggunakan pakaian seperti ini? Dan jika kamu merasa tergoda, kenapa tidak dari awal saat aku pertama kali tidur di kamar ini” balas Alika cukup berani kali ini. Rayyan terdiam, telak mengenai sasarannya, memang benar Alika bukan sekali dua kali menggunakan gaun tidur nya, lagi pula gaun itu cukup tertutup. “Cukup! Ganti dengan piyama katun yang longgar. Aku tidak ingin melihatmu dengan kain satin itu lagi.” Alika mendengus pelan, ia malas berdebat. Ia rasa tubuh dan pikirannya amat sangat lelah. Ia mengambil piyama katun berlengan panjang, lalu masuk kembali ke kamar mandi. Setelah berganti, ia langsung berjalan menuju sisi tempat tidur, menarik selimut, dan membelakangi Rayyan. Ia memilih untuk segera memejamkan mata, mengabaikan keberadaan pria itu. Melihat Alika yang sudah terlelap, Rayyan justru tidak bisa tidur. Ia duduk di sofa sudut kamar, menatap jendela yang menampilkan kerlap-kerlip lampu kota Ibu Kota. Pikirannya tidak tenang. Kejutan dari Sherly tadi pagi benar-benar mengusik pikirannya. Ia meraih ponselnya, mencari nama Arga di daftar kontak. Ia tidak bisa menunggu sampai besok pagi. “Halo, Arga,” ucap Rayyan setengah berbisik agar tidak membangunkan Alika. “Ya, Pak Rayyan? Ada yang bisa saya bantu?” suara Arga terdengar sigap meski ini sudah bukan jam kerjanya. “Cari tahu apa yang sebenarnya terjadi dua bulan lalu di Club malam itu. Setelah aku kunjungan bisnis dan bertemu Alex. Cari rekaman CCTV hotel tempat aku menginap malam itu. Aku ingin tahu siapa saja yang masuk ke kamarku, jam berapa mereka masuk, dan jam berapa mereka keluar.” “Baik, Pak. Tapi seingat saya, malam itu Bapak memang tidak mabuk, tapi Bapak memang bilang, Bapak sangat mengantuk dan ingin beristirahat di kamar hotel” Rayyan memijat pangkal hidungnya. “Itu masalahnya, Ga. Aku tidak mabuk, Aku ingat aku hanya tertidur di sofa karna kepalaku sangat berat. Aku merasa tidak melakukan hubungan apa pun dengan Sherly. Tubuhku tidak merasakan ada jejak itu saat bangun pagi. Aku yakin ada yang tidak beres.” “Saya mengerti, Pak. Saya akan segera menghubungi pihak keamanan hotel, Apa ada lagi yang harus saya cari tahu Pak?” “Satu lagi. Cari tahu latar belakang Sherly. Apa hubungannya dengan Alex, dan mengapa Alex tiba-tiba mengenalkan nya padaku, lalu.. dengan siapa dia sering bertemu akhir-akhir ini. Aku tidak ingin menjadi korban pemerasan murahan.” “Siap, Pak. Besok pagi saya akan memberikan laporan awal.” Rayyan menutup teleponnya. Ia menghela napas panjang. Matanya kembali tertuju pada sosok Alika yang tertidur tenang di atas ranjang. Wanita itu terlihat sangat damai, sangat kontras dengan permasalahan yang sedang ia hadapi. “Jangan pernah mau lagi tertipu oleh wajah manis dan polos seorang wanita. Rayyan!” gumamnya dalam hati. ❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD