BAB 5

1741 Words
‘Bunyi apa itu?’ Aurelie mengerang pelan dan menarik selimut menutupi kepala, tapi samar-samar masih terdengar bunyi berisik seperti sirene yang meraung-raung. Awalnya ia memilih mengabaikan bunyi itu, tetapi lama-kelamaan ia merasa terganggu juga. Dengan mata yang masih terpejam ia mengulurkan tangan ke meja kecil di samping tempat tidur dan mulai meraba-raba. Pertama-tama ia meraih ponselnya. “Ahhh ... lo?” gumamnya dengan kening berkerut dan mata tetap terpejam. Bunyi itu masih terdengar. Oh, ia lupa.... “Allo?” gumamnya sekali lagi setelah menekan tombol ‘Jawab’. Bunyi itu masih tetap terdengar. Aurelie mendecakkan lidah dan menjatuhkan ponselnya ke lantai. Setelah itu ia mengulurkan tangan sekali lagi dan meraba-raba. Tangannya menemukan sebuah beker kecil. Ternyata benda itu yang berbunyi nyaring dan bergetar dengan hebatnya sampai hampir meloncat dari genggamannya. Ia mematikan alarm beker dan damailah dunia. Karena malas mengembalikan beker ke meja, ia melemparkan benda itu ke lantai. Semua itu dilakukannya tanpa sekali pun membuka mata. Sekarang ia kembali meringkuk dengan nyaman di balik selimut. *** ‘Bunyi apa lagi itu?’ Aurelie meraih bantal dan menutup kepalanya, berharap bunyi itu segera berhenti. Tapi ternyata bunyi itu sanggup menembus bantal dan sampai di telinganya. Ia melempar bantal ke samping, menendang selimut dan mengerang kesal. ‘Demi Tuhan! Hari ini hari Minggu! Kenapa tidak ada kedamaian sedikit pun?’ Ia mendecakkan lidah dan menjulurkan tangan ke meja di samping tempat tidur. Ia meraba-raba, tetapi tidak ada apa-apa di sana. Walaupun masih setengah sadar, ia teringat barang-barang yang tadinya ada di meja kini tergeletak di lantai. Ia bersusah payah membuka mata yang seakan direkat dengan lem super kuat dan mencondongkan tubuh ke tepi tempat tidur, berusaha meraih ponselnya yang berbunyi nyaring. Ia masih tidak sudi bangun dari tempat tidur, karenanya ia agak kesulitan menggapai ponselnya. Akhirnya setelah memanjang-manjangkan badan dan tangan, ia berhasil menggapai benda berisik itu. Masih dengan posisi setengah tergantung di ujung tempat tidur, Aurelie menempelkan ponsel ke telinga. “Ahhhlo?” katanya dengan suara serak. “Ma chérie*, kau masih tidur?” Suara ayahnya yang secerah matahari terdengar di ujung sana. “Papa?” tanya Aurelie sambil mengerutkan kening. “Kenapa Papa telepon pagi buta begini? Papa kan tahu kalau aku—Wuaaa!” “Apa itu? Kau jatuh, ma chérie?” tanya ayahnya kaget. Aurelie cepat-cepat meraih ponselnya yang terlepas dari tangannya ketika ia jatuh dari tempat tidur. “Tidak. Aku tidak apa-apa,” katanya pendek, lalu berdeham. Kantuknya langsung hilang begitu kepalanya membentur karpet di lantai. Ia duduk bersila di lantai dan bertanya sekali lagi, “Kenapa Papa menelepon pagi buta begini?” “Oh, sebenarnya Papa tahu kebiasaan burukmu yang tidak mau bangun dari tempat tidur sebelum jam dua belas siang di hari Minggu, tapi Papa butuh bantuanmu,” jelas ayahnya dengan nada resmi, seakan hendak mengatakan kalau Aurelie akan melakukan tugas mulia bagi negara. “Mobil Papa rusak, sedangkan Papa ada janji penting jam setengah sebelas nanti. Antarkan Papa, ya?” Aurelie tersentak dan mengerjap-ngerjapkan mata. Jam 10.30? Bukankah ia sendiri punya janji dengan Arata jam 10.00? Sekarang jam berapa? Aurelie mencari-cari beker yang tadi dilemparnya ke lantai. Ke mana jam itu sekarang? “Papa! Sekarang jam berapa?” serunya. “Tidak perlu teriak-teriak. Papa belum tuli,” gerutu ayahnya. “Sekarang jam ... setengah sepuluh.” “Astaga! Aku terlambat!” Aurelie meloncat berdiri dan berlari ke lemari pakaiannya. “All6?” Ayahnya agak heran mendengar bunyi gaduh ketika Aurelie tersandung karpet dan nyaris jatuh untuk kedua kalinya. “Papa, aku juga punya janji jam sepuluh,” potong Aurelie cepat sambil mengobrak-abrik isi lemari. “Papa naik Métro saja, ya?” Sebenarnya ia tahu ayahnya tidak pernah suka naik Métro, bus, kereta api, atau transportasi umum apa pun, kecuali pesawat terbang. Kata ayahnya, ia tidak suka berdesak-desakan dengan orang lain. “Kau mau ke mana?” ayahnya balas bertanya. Aurelie memberitahu ayahnya. “Tidak masalah. Papa memang mau ke daerah di dekat situ,” kata ayahnya setelah berpikir sejenak. “Jemput Papa di rumah, ya? Oh ya, ma chérie, jangan pernah menyarankan agar Papa naik Métro lagi.” *** Arata melirik jam tangannya, lalu memandang ke luar jendela, memerhatikan orang-orang yang berlalu lalang. Ia menempati meja di samping jendela sehingga bisa melihat jalanan di luar sana dengan jelas. Gadis itu sudah terlambat tujuh belas menit. Sayang sekali ia tidak meminta nomor telepon Aurelie kemarin. Kalau tidak, ia bisa menelepon gadis itu dan bertanya apakah ia akan datang. Mungkin saja gadis itu tiba-tiba berhalangan karena ada urusan penting tetapi tidak bisa menghubunginya. Kalau memang begitu, berarti sia-sia ia menunggu selama ini. Baiklah, ia akan menunggu sebentar lagi. Kalau sampai jam 10.30 Aurelie Rousseau belum datang, ia akan membatalkan semua rencana ini. Mengherankan sekali. Sebelum ini Arata sama sekali tidak berniat mengenal kota Paris lebih jauh. Ia cukup sering datang ke Paris untuk urusan kerja, tapi biasanya ia akan sibuk sepanjang hari dan tidak punya waktu luang untuk melihat-lihat. Apalagi sejak kematian ibunya dan ia jadi tahu rahasia itu. Baginya Paris seperti mimpi buruk. Ia benci Paris, namun ia juga tahu mimpi buruk itu harus dihadapi cepat atau lambat. Sudah cukup lama ia melarikan diri. Sekarang waktunya ia memberanikan diri dan menghadapi kenyataan. Dan ia bisa mulai dengan berkenalan dengan kota Paris. Arata menyesap kopinya dan kembali membaca buku panduan kota Paris yang baru dibelinya. Sesekali ia memandang ke luar jendela sambil melamun. Tiba-tiba matanya terpaku pada orang berjaket hitam yang berjalan lewat tepat di depan jendela brasserie. Ia terkesiap dan sekujur tubuhnya langsung menegang. Ia hampir tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Orang itu! Dia ... Tidak salah lagi ... Orang itu berhenti di pinggir jalan di antara sekelompok pejalan kaki, membelakangi Arata. Ia sedang menunggu lampu lalu lintas berubah warna sehingga bisa menyeberang jalan. Tak lama kemudian lampu tanda boleh menyeberang menyala. Orang itu pun menyeberang tanpa tergesa-gesa. Pandangan Arata tak pernah lepas dari orang itu sampai sosoknya hilang ditelan kerumunan orang dis eberang jalan. Setelah orang itu lenyap dari pandangan, Arata baru menyadari sejak tadi ia menahan napas. Tangannya terkepal di atas meja. Jantungnya berdebar kencang. Selama ini ia terus mencari orang itu dan akhirnya hari ini ia melihatnya. Seharusnya tadi ia langsung mengejar orang itu dan ... Dan apa? Memangnya apa yang akan dilakukannya kalau berhasil mengejarnya? Memangnya apa yang bisa ia katakan pada orang itu? Ia tidak tahu. Belum tahu. “Maaf, aku terlambat.” Arata mengangkat wajah dan melihat Aurelie berdiri di samping meja dengan wajah memerah dan napas terengah-engah. Ikal-ikal pendek rambutnya agak berantakan akibat angin, namun sama sekali tidak mengacaukan penampilannya. “Sudah lama?” tanya gadis itu lagi sambil tersenyum lebar. Ia cepat-cepat merapikan rambutnya dan menjatuhkan diri di kursi di depan Arata. Arata memaksakan seulas senyum. Kejadian tadi membuatnya agak terguncang dan ia masih belum pulih. “Lumayan lama,” sahutnya, berusaha keras bersikap tenang. “Maafkan aku,” kata gadis itu sekali lagi. Raut wajahnya sungguh-sungguh. “Sebenarnya aku sudah memasang beker, tapi ternyata tidak berguna. Akhirnya aku bangun kesiangan dan harus pergi menjemput ayahku dulu karena mobilnya rusak, lalu ...” Aurelie terus berbicara, tapi Arata nyaris tidak mendengarkan apa yang dikatakannya karena bayangan orang tadi masih memenuhi otaknya. Orang itulah yang membuat Paris menjadi kota yang begitu menyakitkan baginya. Orang itulah penyebab utamanya membenci Paris. Tidak bisa, ia tidak bisa begitu terus. Melihat orang itu saja sudah membuatnya kebingungan. Bagaimana kalau nantinya ia harus berhadapan langsung dengan orang itu dan bicara dengannya? “Arata?” Arata menoleh ke arah Aurelie. Gadis itu sedang mengamatinya dengan tatapan heran. “Kau sakit? Wajahmu kelihatan pucat,” kata Aurelie prihatin. “Aku tidak apa-apa,” sahut Arata, lalu beranjak dari kursi. “Aku ke belakang sebentar.” “Oh, oke,” gumam Aurelie, masih agak bingung. Bagaimana tidak bingung kalau dari tadi ia terus berceloteh tetapi tidak ditanggapi? Di toilet, Arata segera menghampiri wastafel dan membasuh wajahnya. ‘Kendalikan dirimu,’ katanya pada bayangan di cermin. Ia menundukkan kepala dengan kedua tangan bertumpu pada pinggiran wastafel. Ia menarik napas dan mengembuskannya dengan perlahan. ‘Kendalikan dirimu’ Setelah debar jantungnya kembali normal, ia mengangkat wajah dan menatap bayangannya sekali lagi. Ia mengangguk samar, lalu meraih serbet untuk mengeringkan wajah. Ia keluar dari toilet dan berjalan kembali ke mejanya, namun langkahnya tiba-tiba terhenti. Matanya terarah pada Aurelie yang duduk menunggu di sana. Gadis itu tidak menyadari kedatangannya karena posisi duduk yang sedikit miring dan memunggunginya. Gadis itu sedang duduk bersandar dengan kaki disilangkan dan memandang ke luar jendela. Gadis itu ... posisi duduknya ... kaca jendela besar ... sinar matahari menyinarinya ... Benar-benar aneh—tapi menyenangkan—melihat gadis ini duduk di sana dan melihat ke luar jendela. Posisi duduknya sekarang mengingatkan Arata pada saat pertama kali ia bertemu dengan gadis itu di bandara Charles de Gaulle. Gadis yang membuatnya merasa tertarik.... *** Aurelie menoleh ketika merasakan kedatangan Arata. “Maaf, perutku sedang bermasalah,” kata laki-laki itu sambil memegangi perut dengan sebelah tangan. “Sekarang sudah baikan?” tanya Aurelie. Kalau Arata sakit perut, berarti mereka tidak jadi jalan-jalan, dan itu artinya sia-sia saja ia bangun pagi. Arata mengangguk. Aurelie menumpukan kedua siku di atas meja. “Jadi, sekarang kita mau ke mana?” Arata berpikir sejenak. “Sudah lama aku ingin melihat-lihat museum yang ada di sini. Museum apa yang menarik?” “Museum?” Aurelie mengerjap-ngerjapkan mata. Sudah berapa kali laki-laki ini memberikan jawaban yang sama sekali tidak diduganya? Arata Kurokawa benar-benar orang yang sulit ditebak. Aurelie jarang sekali ke museum. Boleh dibilang hampir tidak pernah. Selama ia tinggal di Jakarta juga ia tidak pernah menginjakkan kakinya di Museum Nasional. Selama di Paris satu-satunya museum yang pernah dikunjunginya cuma Louvre. Itu juga cuma satu kali dan itu karena paksaan teman-temannya. Tapi ayahnya yang senang mengunjungi museum dan menikmati seni. Ia berusaha mengingat-ingat, “Ada Louvre, Musée Rodin, Musée d’Orsay ... eh, dan lain-lain. Mau ke mana dulu?” Arata membuka-buka buku panduannya, lalu berkata, “Hari ini aku ingin mulai dengan Musée Rodin.” “Tapi yang paling terkenal itu Louvre,” kata Aurelie. Ia heran Arata tidak memilih museum yang jelas-jelas merupakan pilihan nomor satu bagi kebanyakan orang. “Kau yakin tidak mau memulai dari sana? Ada lukisan Mona Lisa dan ... eh, sebagainya.” Sebaiknya ia tidak bicara banyak kalau tidak tahu apa-apa soal seni. Arata menutup buku panduannya dan tersenyum lebar. “Aku punya banyak waktu. Kita punya banyak waktu. Memang banyak tempat yang ingin kukunjungi dan hari ini aku ingin melihat karya Rodin. Ayo.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD