BAB 3

1002 Words
“Julien, apa kabar? Senang bertemu lagi,” sapa Arata gembira. Bahasa Prancis-nya lancar, tidak terdengar logat asing sedikit pun. Julien berdiri, merangkul dan menepuk-nepuk punggung temannya. “Aku juga senang bertemu denganmu lagi.” Aurelie menatap Arata Kurokawa tanpa mengalihkan pandangan. Ia mencoba mencatat setiap detail yang terlihat. Usianya tampak sebaya dengan Julien, sekitar akhir dua puluhan. Tubuhnya jangkung, hampir sama tinggi dengan Julien, hanya saja lebih kurus. Rambut hitamnya agak panjang, tetapi masih dalam batas yang menurut Aurelie bisa diterima. Potongan rambut itu terlihat rapi dan bergaya, mungkin mengikuti tren yang sedang populer di Jepang. Wajah Arata memiliki proporsi yang menarik. Matanya kecil, hidungnya mancung, dan dagunya kecil. Semua itu membentuk kesan yang menyenangkan. Aurelie menilai penampilannya cukup baik, bahkan langsung memberinya skor tujuh setengah dalam pikirannya. Namun penilaian itu tidak membuatnya tenang. Ada sesuatu yang terasa janggal. Aurelie mengerutkan kening. Ia yakin tidak pernah bertemu Arata sebelumnya, tetapi ada kesan yang membuatnya merasa seolah mengenalnya. Perasaan itu muncul begitu kuat, seakan ada bagian dari diri Arata yang sudah pernah ia lihat atau dengar. Ia mencoba mengingat, menelusuri wajah-wajah yang pernah ia temui. Tidak ada yang cocok. Namun rasa tidak asing itu tetap bertahan. Aurelie mulai bertanya-tanya apakah Arata memiliki hubungan dengan Julien atau seseorang dari lingkaran mereka. Perasaan itu membuatnya semakin ingin tahu siapa sebenarnya Arata Kurokawa. “Kenalkan, ini temanku, Aurelie Rousseau.” Aurelie mengalihkan pandangan dan mendapati Julien sedang menatapnya. “Aurelie, ini Arata Kurokawa,” Julien melanjutkan. “Teman baikku dari Jepang.” Aurelie memaksakan seulas senyum dan menyambut uluran tangan Arata. “Halo,” sapa Aurelie pendek. Seperti yang sudah dikatakannya tadi, ia tidak berniat berbasa-basi. “Panggil aku Arata saja,” kata Arata. Ia tersenyum lebar, sambil sedikit membungkuk, sama sekali tidak menyadari suasana hati Aurelie. “Senang berkenalan denganmu, Aurelie.” Alis Aurelie terangkat sedikit. Koreksi, nilai Arata Kurokawa baru saja naik menjadi delapan. Ia suka cara pria itu mengucapkan namanya. Aurelie memperhatikan cara Arata Kurokawa menyebut namanya. Tidak seperti orang Prancis yang selalu membuat bunyi ‘r’ terdengar aneh, kali ini ia merasa nyaman. Selama ini hanya keluarganya di Indonesia yang bisa mengucapkan namanya dengan tepat. Mendengar seorang pria Jepang melafalkannya dengan benar membuat Aurelie sedikit terkejut, sekaligus merasa dihargai. Julien tampak sibuk berbincang dengan Arata. Mereka bertukar sapa dengan ramah, seolah sudah saling mengenal. Aurelie berdiri di samping, tidak ikut campur, tetapi pikirannya terus berputar. Ia mencoba mencari tahu apa yang membuat Arata terasa tidak asing. Wajah itu jelas baru pertama kali ia lihat, namun ada sesuatu yang membuatnya seolah pernah berhadapan dengan sosok serupa. Aurelie tidak suka perasaan seperti ini. Ia tahu rasa penasaran bisa menjadi gangguan yang sulit diabaikan. Ia membandingkannya dengan rasa sakit yang muncul dari lubang gigi, kecil tetapi mampu memengaruhi seluruh tubuh. Pertemuan pertama dengan Arata sudah cukup untuk menimbulkan rasa ingin tahu yang kuat. Aurelie merasa seolah sedang menghadapi teka-teki yang belum memiliki jawaban. Ia menatap Arata lebih lama, berharap menemukan petunjuk kecil yang bisa menjelaskan mengapa pria itu terasa begitu familiar. Namun semakin ia mencoba, semakin besar rasa penasarannya. “Kuharap aku tidak mengganggu acara kalian,” kata Arata, membuyarkan lamunan Aurelie. “Tidak, tidak,” sahut Julien cepat, sebelum Aurelie sempat bereaksi. “Kau tidak tersesat kan? Bistro ini memang agak terpencil.” Arata menggeleng. “Sopir taksiku hebat,” katanya sambil tersenyum lebar. “Duduklah. Kau sudah makan?” lanjut Julien. “Kuharap kau tidak keberatan makan makanan Indonesia. Aurelie ini penggemar fanatik sate kambing.” “Oh ya?” tanya Arata sambil melepaskan jaket cokelatnya dan menyampirkannya ke sandaran kursi. “Aku bersedia mencoba makanan apa pun. Aku bukan orang yang pemilih soal makanan.” Aurelie tersenyum tipis, seolah tidak terlalu peduli. Namun di dalam hati ia mencatat sesuatu yang penting. Nilai Arata Kurokawa yang semula tujuh setengah kini ia koreksi menjadi delapan setengah. Penilaian itu muncul setelah mendengar Arata mengatakan bahwa ia tidak memilih-milih soal makanan. Bagi Aurelie, sikap sederhana seperti itu menyenangkan. Ia merasa lebih mudah bergaul dengan orang yang tidak ribet, dan Arata menunjukkan hal tersebut dengan jelas. “Dia juga penyiar radio,” Sebastian melanjutkan, seolah sedang membanggakan anak kesayangan. Tiba-tiba Julien menjentikkan jari dan menatap Aurelie. “Kalian punya acara yang membacakan surat-surat dari pendengar, kan?” tanyanya. Aurelie tidak menyahut, hanya mengerjapkan matanya dan mengangguk acuh tak acuh. Julien menoleh ke arah Arata dan menepuk bahu temannya. “Dengar, bukankah kau punya cerita bagus? Kau bisa menulis surat ke acara itu.” Arata tertawa kecil dan menggeleng-geleng. “Apa? Cerita apa?” tanya Aurelie. Oke, Julien berhasil membangkitkan rasa penasarannya. Ia menumpukan kedua tangan di meja dan mencondongkan tubuh ke depan. “Dia belum menjelaskan detail ceritanya, tapi tadi ketika dia meneleponku, katanya dia bertemu gadis Prancis yang membuatnya terpesona,” sahut Julien. “Begitu datang dari Jepang langsung tertarik dengan gadis Prancis. Hebat sekali.” Arata tersenyum malu. “Dia melebih-lebihkan,” katanya pada Aurelie. “Aku tidak bilang begitu.” “Jangan hiraukan Julien,” sahut Aurelie tanpa memandang Julien. “Kalau kau punya cerita menarik, silakan tulis surat ke acara kami. Siapa tahu kami akan membacakannya saat siaran.” “Akan kupikirkan,” kata Arata. Tiba-tiba Aurelie merogoh tas tangannya dan mengeluarkan ponsel. Ia menatap benda itu sejenak, lalu berkata kepada kedua laki-laki di hadapannya itu dengan nada menyesal, “Maaf, aku tidak bisa tinggal lebih lama. Ada urusan mendadak. Aku harus pulang sekarang.” “Kenapa buru-buru?” tanya Julien bingung. Untuk sesaat tadi ia pikir Aurelie sudah tidak kesal, tapi kenapa gadis itu harus berpura-pura mendapat pesan tentang urusan mendadak? Aurelie mengenakan kembali jaket dan syalnya sambil berkata, “Aku akan meneleponmu lagi nanti, Julien.” Ia menoleh ke arah Arata, mengulurkan tangan dan tersenyum singkat. “Senang berkenalan denganmu. Aku minta maaf karena tidak bisa mengobrol lebih lama. Mungkin lain kali.” Arata menyambut uluran tangannya dan tersenyum. “Tidak apa-apa. Sampai jumpa.” “Sampai jumpa.” Aurelie merangkul Julien dan menempelkan pipinya di pipi Julien dengan cepat, setelah itu ia melambai kepada Arata dan keluar dari restoran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD