Bab 113

1165 Words

Bab 113 -- "Tok ... tok ... tok ..." Ketukan itu terdengar begitu samar, beradu dengan suara derit pohon pinus yang digoyang angin gunung. Nara, yang sejak tadi hanya duduk bersandar di balik dinding papan, seketika menahan napas. Tangannya yang bebas refleks meraba ke bawah gulungan kain, mencengkeram erat gagang dingin pisau kecil pengupas buah miliknya. Jam dinding usang di ruang tengah menunjukkan pukul 02.15 pagi. Kabut tebal sedang berada di puncak kepekatannya. "Nduk Kirana ... ada apa? Siapa malam-malam begini?" bisik Mbok Darmi dari balik tirai, terbangun karena merasakan perubahan atmosfer di dalam rumah panggung itu. "Mbok, tetap di kamar. Jangan keluar. Kunci pintunya," jawab Nara, suaranya rendah namun penuh penekanan. Nara bangkit berdiri perlahan, menopang perutnya yan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD