Anjani si Pemilik Hati

1548 Words
Anjani terus berjalan kaki menuju tempat pemberhentian bus menuju jakarta, dari kontrakannya harusnya dia bisa naik angkot yang warna hijau, tapi demi menghemat uang beberapa ribu rupiah saja dia memutuskan untuk jalan kaki, toh cuma delapan ratus meter. Tas bawaannya hanya sebuah tote bag hitam yang berisi cake pisang untuk tante Ismi, dompet, ponsel dan sedikit peralatan make up dasar yang terdiri dari pelembab, alas bedak, bedak tabur, lipstik dan pensil alis. Sementara itu tangan kiri Jani membawa tas kecil berisi sepatu dan baju ganti yang akan dipakainya saat wawancara dengan pihak HRD dan direktur perusahaan penerbangan yang memanggilnya besok. Ya , Jani melamar menjadi pramugari lagi setelah vakum dua setengah tahun karena menikah dan melahirkan. "Kampung Rambutan .... Lebak Bulus ... Bekasi ... Cawang .." begitu panggilan dari kondektur bis yang sedang berhenti di tempat ini. Jani yang sudah tiba di tempat pemberhentian bis, langsung memilih bis berwarna putih tujuan lebak bulus, karena rencananya dia akan ke Bintaro menumpang menginap di rumah tante Ismi, adik mamanya yang hanya tinggal sendirian karena suaminya sudah meninggal dan anak-anaknya bersekolah di luar negri. Ada beberapa kursi kosong di dalam bis ini tapi hanya ada satu tempat duduk yang kosong dekat jendela, walau terkena matahari tapi Jani tetap memilih kursi itu karena dia memang paling suka melihat ke arah luar, dia bisa melihat pemandangan dan mobil lalu lalang di sebelah bisnya nanti. Setelah menempati kursi pilihannya, tidak lama kemudian bis pun bergerak dan memulai perjalanannya. Rasanya masih sulit buat Jani untuk sampai di titik ini, dia tidak menyangka sudah bisa melewati hari-hari berat kemarin dan bertemu hari ini. Dulu sekali dia memulai segalanya dari bekerja, dan ketika menikah dengan Erwin, dia pun punya cita-cita baru yang sangat mulia, yaitu menjadi ibu rumah tangga karena memang semuanya sudah dicukupi oleh suaminya itu, tapi ternyata hanya sebentar saja karena semua berubah seratus delapan puluh derajat dan Jani sempat berada di fase di mana rasanya dunia ini sangat menakutkan ... hanya bayi dalam kandungannya saat itu yang mampu menguatkannya. Bahunya memang tidak sekokoh itu untuk menanggung beban hidup, dia juga sempat tidak tahu apa yang harus dia lakukan, tapi untung saja ada ibunya yang selalu menemani, Jani pelan-pelan mulai menata hati dan dirinya, dia harus berjuang. Bulan lalu, ketiga sahabatnya Mitri, Dewi dan Kokom alias Komariyah memberi kabar bahwa perusahaan penerbangan tempat mereka merintis karir sebagai Pramugari dulu sedang ada penerimaan untuk initial dan ex pri, istilah untuk bekas pramugari. Awalnya tentu saja Jani langsung menolak, selain tidak percaya diri dengan tubuhnya yang dulu memakai perawatan mahal dan sekarang cuma perawatan merek seadanya, lagi pula dia juga memiliki anak bayi yang sangat membutuhkannya. Sampai-sampai ketiga sahabatnya itu mengambil hari libur yang sama untuk mendatanginya ke Bandung. Akhirnya Jani luluh juga karena mamanya ikut mendukung dan mau membantu menjaga bayinya. "Nanti dari gaji lo, kan bisa buat bayar pengasuh juga, jadi tante Isti hanya mengawasi aja Jan..." begitu kata Mitri. "Bener Jan ... hidup juga harus realistis, lo butuh biaya buat hidup, kasihan kalo tante Isti ikut banting tulang buat membantu hidup lo," Dewi ikut memberi masukan. "Mamah sih nggak keberatan bikin kue dari rumah begini, walau orderan lancar tapi tetap tidak akan mencukupi juga Jan, hanya bisa buat hidup kita saja ... sementara kamu harus menabung buat anakmu, keluarga papanya sudah tidak mau peduli dengan anak Erwin. Kamu harus menabung buat biaya pendidikannya, menyiapkan rumah yang layak untuknya dan juga buat masa tua kamu. Biar nggak apa-apa ibu di sini masih terus berjualan untuk hidup kita, kamu bekerja untuk menabung saja ... siapa tahu nanti bisa beli rumah atau setidaknya apartemen kecil buat hidup kamu sama anakmu kelak," ucap mama Isti ke putri tunggalnya. Jani melihat ke arah bayinya yang berusia sembilan bulan yang sedang asyik bercerita bahasa planet antah berantah dengan tante Kokomnya. Pikiran Jani galau, rasanya berat sekali meninggalkan kesayangannya ini. "Mamah ikut kan pindah ke Jakarta?" tanya Jani. "Kontrakan di sana pasti mahal Jan, sementara di sini kita sudah cukup nyaman dengan harga yang murah, lagi pula mamah sudah punya pelanggan kue. Kamu kan dapat libur sekali seminggu, jadi bisa pulang ke Bandung menemui kami." "Tapi jangan pada ge er dulu ya, kan belum tentu aku di terima juga, tesnya aja panjang," Jani masih tidak yakin. "Bismillah nak, mamah doa kan kamu berhasil ... rezeki anakmu." "Ya udah, aku coba." "Nah nanti setelah kirim lamaran, kan banyak tes tuh ... kamu di kos-kosan kami aja Jan, supaya enak mondar mandirnya, kalau kami sedang terbang nanti, kamu bisa pake mobil kami." "Sim ku aja sudah mati nggak diperpanjang," jawab Jani. Mana mau Jani mengeluarkan uang untuk memperpanjang sim, itu bisa untuk belanja bahan makanan tiga hari, lagi pula mobil siapa yang mau dibawanya, sepeda saja dia tidak mampu membeli. "Gampang lah, trans jakarta juga haltenya kan cuma jalan seratus meter, mau medex ke kemayoran juga gampang Jan." Ya Jani tahu itu, dulu dia tiga tahun kan tinggal di tempat kos yang sama dan mereka belum punya mobil juga, jadi kalau mau medical examination rutin setiap tahun di Kemayoran, mereka akan naik kendaraan umum juga. "Kalau kamu sepi di sana karena temen - temen mu ini pada terbang, kamu bisa di tante Ismi aja Jan. Dia pasti senang kalo kamu ke sana." "Iya mah." "Ongkos Teh," tegur kondektur bis membuyarkan lamunan Anjani. "Eh iya," jawab Jani lalu merogoh uang seratus ribu dari saku celana jeans-nya karena memang sudah disiapkannya tadi supaya tidak buka tutup tas. Jani menerima uang kembalian dan memasukan lagi ke dalam saku celananya, soalnya nanti dia masih naik dua kali angkot ke rumah tantenya. Dua setengah jam perjalanan yang di tempuh Jani hingga akhirnya tiba di Lebak Bulus. Turun dari bis tidak jauh dari stasiun mrt, kini dia sedang menunggu jaklingko menuju petukangan, tapi nanti Jani turun di pertigaan pintu masuk perumahan Bintaro Jaya dekat pertigaan Deplu. Total perjalanan hampir empat jam dari Bandung tadi, akhirnya Jani tiba di rumah tante Ismi yang apik dan teduh di Bintaro sektor dua tepatnya di jalan Kepodang. Lina, asisten rumah tangga tante Ismi membukakan pintu dan mempersilahkan Jani untuk masuk. Selama rangkaian tes calon pramugari ini, sudah dua kali Jani menginap di sini, pertama waktu wawancara dengan tim recruitment, lalu waktu medex dia menginap di kos - kosan sahabatnya, dan sekarang wawancara terakhir ini dia memilih di rumah tantenya lagi karena sekalian membawakan kue buatan mamanya yang sangat disukai tante Ismi. "Halo tante," sapa Jani menghampiri tantenya yang sudah tampak rapi seperti hendak pergi. "Haii sayangku," tante Ismi memeluk Jani dan mencium pipinya. "Ini aku bawakan cake kesukaan tante." "Hmm ... Teh Isti selalu tahu cara bikin timbanganku hancur." "Hancur juga tetap cantik kok, makanya om David nggak bisa pindah ke lain hati." "Kecantikan keluarga kang Ardi Yusuf itu turun menurun shaayyy ... kamu juga mendapatkan warisan wajah cantik ini dari Aki kamu," ucap tante Ismi membanggakan ayahnya sendiri yang biasa dipanggil 'kang Ardi' dan itu membuat Jani tertawa. Tantenya itu memang narsis sekali, merasa cantik terus. Memang sih keluarga besar Jani dari pihak mamanya banyak yang jadi model, tante Ismi juga pernah jadi model iklan, hanya saja Jani tidak pernah tertarik ... dia tidak suka jadi orang yang terkenal. "Harus berterima kasih sama Aki ya tan ... nanti dikirimin al fatihah." "Iya harus dong. Eh Jan, kalo kamu lulus pramugari, ajak atuh mamah kamu tuh ke sini." "Nggak mau tan, udah senang kayaknya di sana, nanti biar aku aja yang bolak balik ke Bandung, atau nggak tante aja yang bilang sama mamah." "Huh ... mana mau si teteh tuh, keras kepala banget. Kayaknya dia cuma nurut sama almarhum papah kamu aja," ucap tante Ismi sambil menarik sebelah bibirnya ke atas, julid sekali. Jani tertawa melihat respon tante Ismi, mamanya memang sekeras itu, bahkan adik-adiknya sampai menyerah kalau berurusan dengan mamanya Jani. Adik mamanya Jani ada dua orang, tante Ismi dan Om Doni yang kini tinggal di Belanda. Dulu waktu belum menikah, tante Ismi dan Om Doni tinggal dengan keluarga Jani, jarak umur yang jauh dengan adik-adiknya membuat mamanya Jani menanggung hidup adik-adiknya setelah dulu warisan bagian kakeknya Jani dijual oleh om kakeknya yang disebut sebagai pembayar hutang. Dulu keluarga besar kakeknya Jani dari pihak mamanya memiliki rumah sakit di Bandung, tapi saat kakeknya Jani meninggal, om dari kakeknya Jani yang bernama dokter Imam meminta hak saham kakeknya Jani untuk di jual demi membayar hutang-hutang kakeknya Jani, entah hutang apa. Sejak itu hidup keluarga mamanya Jani semakin terpuruk, mereka bisa bertahan hidup dengan menjual perhiasan neneknya Jani dan juga warisan keluarga nenek Anjani, hingga akhirnya mamanya Anjani lulus sekolah keperawatan dan mulai bekerja, sejak itu dia bisa menghidupi adik - adiknya. Ketika mama Anjani menikah dengan papanya yang seorang perwira polisi, hidupnya semakin membaik hingga bisa menyekolahkan adik-adiknya hingga lulus kuliah dan bekerja.Tante Ismi bekerja di bank swasta bagian legal sedangkan om Doni lulusan NHI Bandung sekarang sudah menjadi chef di hotel berbintang di Belanda. Seperti kata peribahasa, untung tidak dapat diraih, malang tidak dapat di tolak. Kehidupan tidak selalu sesuai rencana. Sejak papa Anjani di vonis kanker usus, kondisinya semakin menurun dan akhirnya meninggal di saat Jani masih duduk di semester dua fakultas kedokteran. Jani banting stir, dia tinggalkan kuliah kedokteran dan ikut mendaftar dengan Dewi teman sma-nya yang masih gap year saat itu, ke perusahaan penerbangan nasional untuk menjadi pramugari, dan karena pekerjaan itu pulalah dia bertemu Erwin, ayah anaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD