Bab 7. Bukan barang bekas

1142 Words
Mungkin tidak menyadari kehadirannya atau memang sengaja mengabaikan, Kirana tidak sedikitpun menoleh ke arahnya. Tidak mungkin mengabaikan wanita itu begitu saja, apalagi setelah satu minggu ini keduanya tidak bertemu apalagi bertukar kabar. Sepertinya Erlangga harus menghampiri, menyadarkan Kirana bahwa di tempat itu ada dirinya. “Lo mengabaikan gue dan malah asyik ngobrol?” tanya Erlangga, setelah jarak diantara mereka semakin dekat. Pertanyaan itu ditujukan untuk Kevin, tapi tatapannya justru tertuju ada Kirana. “Sorry, ada tamu istimewa dulu. Lo mau pesan apa?” tanya Kevin. Lelaki itu tahu, Erlangga dan Kirana sudah menikah atau lebih tepatnya pernah menikah, tapi Erlangga tidak tahu jenis hubungan apa yang terjalin diantara keduanya. “Kalian saling kenal? Atau mungkin ada sesuatu yang nggak gue tahu selama ini?” Selidiknya dengan senyum samar. “Nggak mungkinlah gue nggak kenal Kirana, dia istri Lo. Ah,, ralat, mantan istri lebih tepatnya.” balas Kevin dengan senyum menyebalkan yang membuat Erlangga kesal. “Mantan istri? Gue nggak pernah bilang kami,” “Aku yang bilang ke dia, kita sudah bercerai.” Kirana akhirnya bicara, nada bicara dan ekspresinya masih sama. Tenang dan datar. Tidak seperti saat berbincang dengan Kevin tadi, yang terlihat begitu ramah. “Aku nggak merasa kita udah berpisah.” “Memang belum, tapi dalam tahap proses.” “Proses yang mana? Aku nggak ngerasa kita mau,” “Vin, aku duduk duluan ya? Pesanannya tolong diantarkan ke meja saja.” Kirana menyela ucapan Erlangga, bukan untuk menjawabnya, tapi untuk mengakhiri obrolan yang membuatnya merasa jengah. “Oke. Duluan aja ke sana, nanti aku nyusul setelah buatin makanan untuk tamu agung ini.” Kevin menunjuk dengan dagu ke arah Erlangga. Kirana segera berlalu, mengabaikan Erlangga yang masih berdiri dengan tatapan bingung ke arahnya, tapi bukan Erlangga namanya jika ia belum puas membuat seorang Kirana kesal. Lelaki itu mengejar Kirana, yang menuju ke arah sebuah meja di ruangan outdoor yang tersedia di tempat itu. Wanita itu duduk dengan elegan, kembali berpura-pura tidak melihat Erlangga yang sudah ada di dekatnya. Kirana menatap Erlangga dengan tatapan bertanya, yang membuat emosi dalam diri Erlangga melonjak tinggi. “Aku mau duduk disini,” ucapnya, bahkan langsung duduk tanpa dipersilahkan terlebih dahulu oleh Kirana. Erlangga sengaja duduk di depan Kirana, menatap penuh penilaian pada wanita itu. “Kamu nggak keberatan aku disini?” tanyanya, setelah beberapa saat Kirana tidak kunjung bicara ataupun mengusirnya. “Nggak. Silahkan lakukan apa yang kamu mau.” balasnya tenang. “Aku mau makan.” ucapnya lagi, tapi kali ini Kirana tidak merespon. Jika beberapa waktu lalu wanita itu akan segera bergegas menghidangkan makanan saat dirinya mengucapkan kata lapar, atau mau makan, tapi kali ini ekspresi Kirana justru terkesan seolah tidak mendengar ucapan Erlangga. Acuh, wanita itu benar-benar acuh. “Sejak kapan kamu kenal Kevin?” tanyanya lagi. Tidak apa diabaikan, tapi Erlangga benar-benar ingin tahu sejak kapan keduanya saling mengenal dan akrab. “Sejak kita menikah, satu tahun lalu.” “Jadi, selama ini diam-diam kalian sering bertemu?” “Menurutmu?” Kirana balik bertanya. “Menurutku, kalian sering bertemu di belakangku. Ternyata kamu nggak selugu yang kukira. Ah,, ralat, aku sudah menduga sejak lama bahwa sikap pendiam yang sering kamu tunjukkan selama ini hanya topeng untuk mengelabui Ibu.” Kirana mengangguk. “Benar.” jawabnya. “Atau kamu sengaja mendekati Kevin untuk balas dendam?” “Benar.” jawabnya sama. “Jawab yang benar Kirana!” Erlangga mendesis kesal, sebab ia tahu jawaban wanita itu bukan yang sebenarnya. “Memangnya kamu mau dengar jawaban seperti apa? Bukankah kamu selalu merasa benar dengan asumsimu sendiri?” Kirana tersenyum samar. “Jadi, terus saja lakukan itu. Aku tidak akan pernah bisa membela diri, sebab dimatamu aku tetap salah dan akan terus seperti itu selamanya, jadi untuk apa aku membela diriku di depanmu? Percuma saja, hanya buang-buang waktu.” Erlangga terkejut dengan jawaban Kirana, mungkin karena terlalu sering dituduh dan dianggap buruk, membuatnya enggan untuk membela diri. Tapi jawaban yang terlontar dari bibirnya semakin membuat Erlangga kesal dan merasa kalah. “Benar, kalian berselingkuh?” “Aku akan menjawab iya, untuk memuaskan rasa penasaranmu, tapi aku nggak terima kamu menyebutku selingkuh. Bukankah perbuatan rendah itu hanya dilakukan olehmu dan wanita-wanita di luar sana yang tidak terhitung jumlahnya?” balas Kirana, yang sukses membuat Erlangga meradang. “Kamu makan disini, bukannya tadi bilang lapar, kan?” Kirana beranjak dari tempat duduknya, dan di saat yang bersamaan Kevin datang membawa segelas minuman dingin untuk Kirana. “Vin, maaf banget kayaknya aku nggak jadi makan disini. Lain kali aja, ya?” “Loh, kok pergi? Padahal aku bawakan minuman kesukaan kamu.” “Lain kali aja, ya?” “Pasti gara-gara dia, kan?” Tunjuk Kevin ke arah Erlangga yang tengah menatap sebal ke arahnya dan Kirana. “Nggak. Tapi lagi buru-buru aja, sampai nanti ya?” Kirana melambaikan tangannya ke arah Kevin, tapi bersikap acuh pada Erlangga. Wanita itu pergi, sementara Erlangga menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan hingga sosok cantik itu menghilang. Erlangga mengakuinya sekarang, bahwa wanita itu memang cantik. Bahkan dibalik dress yang menutupi tubuhnya, terdapat sesuatu yang begitu menggairahkan. Sial! Ia kembali teringat malam itu. “Sini buat gue!” Untuk menghilangkan pikiran kotor dalam kepalanya, Erlangga mengambil gelas minuman di tangan Kevin, lantas meneguknya sampai habis. “Haus baget kayaknya.” Sindir Kevin. Erlangga merasa perutnya penuh, setelah menghabiskan satu gelas minuman dingin rasa coklat, ia juga menatap ke arah kursi di hadapannya. “Kalian saling kenal? Sejak kapan?” Erlangga kembali menoleh ke arah samping, dimana Kevin berada. “Sejak satu tahun lalu, saat kalian menikah.” jawaban yang sama, seperti yang diucapkan Kirana. Erlangga tersenyum, apakah keduanya memang sudah bersekongkol sebelum bertemu? Agar jawabannya sama dan terkesan kompak? Lucu sekali. “Kenapa? Lo cemburu?” Kevin tersenyum jahil. “Cemburu? Yang benar saja!” Sangkalnya. “Baguslah. Jadi, nggak apa-apa dong kalau gue deketin dia, secara kalian sudah berpisah.” “Silahkan, kalau Lo emang doyan barang bekas.” Kevin tidak tersinggung, ia justru tertawa penuh kemenangan, karena telah berhasil membuat Erlangga kesal. Lelaki itu tidak mengatakannya secara langsung, tapi sorot matanya tidak bisa berbohong. “Kalau barang bekasnya masih semulus Kirana, gue sih nggak keberatan. Seneng malah.” balasnya. “Tapi, awas aja kalau Lo nyesel dan deketin dia lagi, gue bunuh Lo!” Erlangga terkekeh, “Gue nggak akan memungut sampah yang udah gue buang.” “Bagus! Karena itu yang gue harap.” Kevin tertawa, lantas ia segera mengambil ponsel dari saku celananya. “Gue mau atur ulang jadwal ketemu,” ia menunjukkan layar ponselnya, dimana nama Kirana tertera di sana. Hanya selang beberapa detik saja pesan singkat yang dikirim Kevin terbalas. Erlangga penasaran, apa yang mereka bicarakan sebab Kevin terlihat begitu bersemangat setiap kali membalas. “Ambil saja, lagipula gue punya banyak cewek.” Kevin tidak menjawab, ia hanya mengacungkan ibu jarinya dan fokus pada layar ponselnya sendiri. “Sial!” Umpat Erlangga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD