“Bagaimana bisa kamu berlagak seperti ini?!” Karena langkah kakinya yang panjang, Erlangga berhasil mengejar Kirana. Menarik tangannya, yang nyaris saja masuk kedalam rumah.
“Kamu benar-benar jago akting!”
Kirana nampak mencoba berusaha melepaskan cengkraman tangan Erlangga di tangannya, tapi tenaga lelaki itu terlalu kuat. Kirana tidak bisa melepaskannya dengan mudah.
“Bukankah pada akhirnya kita akan menjadi orang asing? Itu yang kamu mau kan?” Berusaha pun percuma, Erlangga justru semakin kuat mencengkram tangannya.
“Kenapa kamu terkesan keberatan? Bukankah selama ini kamu yang memintaku seperti itu? Berlagak tidak saling mengenal saat kamu bersama wanita lain. Aku sudah melakukannya.” Tatapan Kirana berubah tajam.
“Aku melakukan semua keinginanmu.” L
lanjutnya.
Kirana meringis pelan, merasakan cengkraman itu semakin kuat di tangannya.
“Sebaiknya kamu pergi, jangan ganggu aku lagi.”
“Begitu ya?” Erlangga menyeringai. “Kamu yakin kita sudah berpisah? Apa kamu sudah mendapatkan informasi lanjutan dari si Burhan?”
Kening Kirana mengerut. Ia tersadar akan satu hal, selama satu minggu ini Kirana belum mendapatkan informasi apapun dari Pak Burhan, selalu kuasa hukum mereka berdua yang akan mengurus segala sesuatu tentang perceraian. Tapi sampai detik ini Kirana belum mendapatkannya.
“Belum, kan?” Senyum licik di wajah Erlangga semakin terlihat jelas. “Yah,, artinya kamu dan aku masih berstatus sebagai sepasang suami istri.”
“Jangan bilang kamu belum memberikan berkas tersebut ada Pak Burhan?!” Selidik Kirana, tapi
lelaki itu sudah terlebih dulu menarik Kirana masuk kedalam rumahnya, meski wanita itu berontak dan mencoba berusaha melepaskan pegangan tangannya, tapi nyatanya sia-sia saja. Erlangga berhasil membawa Kirana masuk kedalam rumahnya.
Rumah huni yang ditempati Kirana termasuk dalam kategori menengah, semua perabotan yang ada di dalamnya pun terkesan minimalis dan pas untuk ditinggali oleh dua atau tiga orang.
“Aku nggak tahu kamu punya uang sebanyak itu, sampai bisa beli apartemen seperti ini.” Akhirnya Erlangga melepaskan pegangan tangannya. Ia melangkah menuju ke ruang televisi, duduk di salah satu sofa empuk berwarna cream.
“Sejak kapan kamu punya apartemen ini?”
Kirana menoleh dengan tatapan kesal
“Sejak kamu sering mengunjungi Fani di unit sebelah.” Balas Kirana dingin.
“Oh,, sudah cukup lama juga.” Erlangga menganggukkan kepalanya. “Kenapa nggak bilang, kalau kamu dan Fani bertetangga.”
“Sebaiknya kamu pergi,” Kirana mengalihkan pembicaraan. “Aku sedang nunggu orang, dan dia sedang dalam perjalanan menuju kesini.” Pengusiran yang diucapkan dengan nada begitu tenang. “Aku nggak mau dia lihat di rumah ini.” Lanjutnya.
“Nunggu siapa? Kevin? Atau lelaki lain, yang pernah aku lihat di Mall beberapa waktu lalu?”
“Iya, jadi sebaiknya kamu pulang atau aku antar ke rumah Fani lagi sebelum dia datang.”
Erlangga terkekeh, dengan posisi menyandarkan tubuhnya ada sandaran sofa dengan kedua tangannya direntangkan.
“Jadi, selingkuhan kamu itu jauh lebih berhak dibandingkan aku, yang masih berstatus sebagai suamimu?”
Kirana enggan menanggapi, tidak mau menyanggah karena paham sindiran Erlangga ada benarnya.
“Aku akan tetap disini, karena aku lebih berhak ada di tempat ini, di rumah istriku.” Erlangga memperjelas.
“Atau suruh saja dia kesini, mungkin kita bisa ngobrol-ngobrol.” Erlangga tersenyum sinis ke arah Kirana.
“Mau kamu sebenarnya apa sih?” Kesal Kirana, masih berdiri dan menatap Erlangga sambil melipat kedua tangannya di d**a.
“Aku mau kenalan sama dia,” jawab Erlangga santai.
“Buat apa?”
Meski terlihat kesal, tapi Kirana masih bisa menahan raut wajahnya yang terlihat masih tenang. Hal tersebut membuat Erlangga kesal sebab ia tidak pernah berhasil memancing amarah Kirana, wanita itu tetap menunjukkan sikap tenang seolah tidak terjadi apapun.
“Aku ingin tahu sejauh apa hubungan kalian dan seperti apa lelaki yang berhasil membuatmu jatuh cinta.”
Kirana menghela lemah. “Aku rasa itu bukan urusan kamu lagi,”
“Jadi sudah cukup jauh? Kalian akan menikah setelah kita berpisah?”
Hening.
Tatapan keduanya bertemu, dimana Erlangga merasa tidak yakin apakah perceraian ini akan menjadi akhir dari segalanya. Keinginan yang begitu menggebu itu seolah hilang secara perlahan, bergantian dengan rasa ingin tahu, apa yang membuat Kirana tetap tenang selama satu tahun ini, walau ia kerap memergoki Erlangga bersama wanita lain.
Kirana tahu lelaki itu menunggu tanggapannya, hanya saja suara dering ponsel membuat keduanya kompak menoleh ke arah nakas, dimana Kirana menyimpannya. Kirana segera mengambil ponselnya, dan nama seseorang tertera di sana.
“Hallo,” Kirana segera menerima panggilan, menjauh sedikit dari Erlangga.
“Kamu dimana? Masih di rumah?” tanya Kirana.
Erlangga yang berada di sofa dengan jarak cukup jauh hanya bisa menajamkan pendengarannya, mencari tahu apa yang dibicarakan mereka.
“Jangan hari ini, aku ada tamu dadakan. Nggak bisa di usir juga.” Keluh Kirana, sambil menoleh ke arah Erlangga.
“Oke, sampai ketemu nanti ya.” Kirana segera menutup sambungan, menaruh kembali ponsel tersebut di atas nakas.
“Ada pertanyaan lain?” tanya Kirana kemudian, yakin Erlangga sudah mendengarkan obrolannya.
“Sejak kapan kamu ada hubungan sama dia?” Kirana belum sempat menjawab saat Erlangga sudah kembali bertanya.
“Apa sebelum menikah sama aku?”
“Iya.” Jawab Kirana singkat.
“Apa pekerjaannya?”
“Apa kamu ingin membandingkan diri dengannya?” Selidik Kirana.
“Apa dia lebih kaya dari aku?”
Kirana terkekeh pelan, berjalan menghampiri Erlangga. “Kamu lebih kaya, lebih tampan dan lebih segalanya. Nggak perlu merasa tersaingi, sebab dia hanya lelaki biasa yang nggak punya apa-apa.” Kirana duduk di seberang Erlangga.
“Aku jalan sama dia bukan berarti dia lebih dari kamu, tapi karena hanya dia yang mau menerimaku apa adanya.”
Erlangga menatap lurus ke arahnya.
“Pertanyaan terakhir,” lelaki itu mengacungkan satu tangannya.
“Apa dia lajang, atau sudah punya istri?”
“Aku bukan perebut suami orang,” balasnya. “Dan akan aku pastikan setiap lelaki yang mendekatiku statusnya lajang, entah itu bujangan atau duda. Aku tidak akan menjalin hubungan dengan seseorang yang sudah memiliki pasangan.” Tegasnya.
Erlangga berdecak, seolah jawaban Kirana adalah kebohongan yang tidak akan ia percayai.
“Intinya dia lelaki setia.”
Senyum arogan Erlangga hilang seketika.
“Aku rasa sesi tanya jawabnya sudah selesai, kamu bisa pulang atau kembali ke rumah Fani.”
Erlangga tertawa pelan dan bangkit berdiri. “Jadi, itu alasan yang membuat kamu nggak pernah peduli dengan apa yang aku lakukan di luar sana?”
Keduanya beradu pandang beberapa saat, tapi Kirana memilih memalingkan wajahnya, enggan menanggapi.
“Aku akan mengakui semua kesalahanku tapi aku nggak bisa bayangkan gimana sayangnya ibu selama ini sama kamu. Selalu banggain kamu dan bilang kamu wanita baik-baik, ternyata sama saja.” Erlangga terkekeh.
“Padahal kamu hanya berlindung di balik kebaikan ibu dan memanfaatkannya. Aku harus segera menyadarkannya, anak yang selama ini begitu dibanggakan nggak lebih dari sekedar penipu.”
“Jaga bicara kamu.” Geram Kirana. “Apa yang kamu tuduhan itu nggak bener.”
Erlangga tertawa pelan, menyadari ia sudah membuat istrinya marah walau masih terlihat tenang.
“Sejak awal aku sudah tahu posisiku,” kata Kirana. “Kamu nggak mau di jodohkan sama aku, dan aku sangat tahu itu.” Jelasnya.
“Aku hanya menjalani peranku sebagai seorang istri, saat kamu memintaku diam, aku menurutinya. Bahkan karena ibu juga, yang akhirnya membuatku diam. Karena aku tahu, Ibu menggantung banyak harapan pada anak tunggalnya, tidak hanya sukses di karir, tapi juga dengan rumah tangganya.”
Kirana menatap tajam. “Selama ini kamu nggak pernah kasih aku hak atas diri kamu, aku melakukannya karena kamu yang minta, tapi sekarang kamu bersikap seolah tidak terima?”