bc

Naura, Rindu Terlarang Untuk Kakak

book_age18+
15
FOLLOW
1K
READ
family
HE
kickass heroine
drama
sweet
like
intro-logo
Blurb

Cinta itu tumbuh dengan sendirinya tanpa Naura inginkan, semakin lama semakin liar dan sulit dikendalikan.Naura memutuskan untuk pergi, dengan tujuan ingin melupakan cintanya pada sang Kakak, Bastian. namun setelah lima taun berlalu ia kembali, saat sang kakak hendak bertunangan. Apakah cinta itu akan kembali bersemi?Atau ada sosok lain yang akan menggantikan posisi Bastian di hati Naura?

chap-preview
Free preview
Bab 1. Cinta pertama
"Pokoknya kamu harus datang, ya. Bunda sudah janji sama dia." Naura mengembuskan nafas panjang sambil menyelipkan ponsel di antara bahu dan telinganya. Sejak mendarat di Jakarta dua hari lalu, sang bunda seolah tak berhenti memberinya kejutan. "Siapa sih, Bun? Dari tadi cuma bilang nanti juga tahu." "Banyak tanya. Sudah, cepat berangkat. Kasihan dia nungguin." Naura mendecak pelan. "Iya... iya." Panggilan berakhir. Ia menatap alamat yang dikirim melalui aplikasi pesan, lalu meraih kunci mobil. Jakarta benar-benar berubah. Gedung-gedung baru berdiri di mana-mana. Jalan layang bertambah, beberapa ruas bahkan tak lagi dikenalnya. Lima tahun tinggal di Swiss membuat ingatannya tentang ibu kota perlahan memudar. Belum lagi kemacetan yang seolah menjadi tradisi yang tak pernah hilang. "Aduh... ini belok kanan atau lurus, sih?" gumamnya sambil memperlambat laju mobil. GPS beberapa kali mengubah rute karena jalan yang ditutup. Naura bahkan sempat salah masuk jalur hingga harus memutar hampir dua puluh menit. Kesabarannya mulai menipis. Ponselnya kembali berdering. "Bun?" "Udah sampai?" "Belum. Ini jalannya bikin pusing. Aku tadi salah belok." "Bukan salah alamat, kan?" "Entahlah." Sang bunda terkekeh di seberang. "Makanya fokus. Dia sudah nunggu dari tadi." Naura menghela napas panjang. "Iya... iya." Beberapa menit kemudian, mobilnya akhirnya memasuki area sebuah kafe bergaya modern yang berdiri di sudut jalan. Dari luar, bangunannya didominasi kaca dengan taman kecil yang tertata rapi. Naura memarkir kendaraan, lalu turun sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan akibat embusan AC mobil. Ia kembali menatap layar ponsel. "Dream Cafe, semoga benar kali ini." Dengan langkah cepat ia memasuki kafe yang dipenuhi aroma kopi dan alunan musik jazz pelan. Seorang resepsionis langsung menyambutnya dengan ramah. "Selamat siang, Kak. Ada yang bisa dibantu?" "Saya mencari seseorang. Katanya sudah reservasi ruangan." "Atas nama?" Naura menyebut nama Raka Rahadian. Senyum resepsionis langsung mengembang. "Oh, benar. Silakan ikut saya." Naura mengangguk lalu mengikuti langkah pelayan melewati deretan meja hingga menuju koridor yang lebih tenang. Di ujung lorong terdapat beberapa ruang privat dengan pintu kayu berwarna coklat gelap. "Mas Raka sedang di dalam, Kak. Mohon tunggu sebentar, saya akan memberi tahu beliau." Pelayan itu baru saja hendak mengetuk pintu ketika Naura menggeleng. "Nggak usah. Aku masuk sendiri." Tanpa menunggu izin, Naura langsung memutar gagang pintu dan mendorongnya hingga terbuka. Pemandangan di dalam ruangan membuat langkahnya membeku. Langkah Naura terhenti tepat di ambang pintu. Ruang privat itu mendadak sunyi. Seorang wanita yang duduk dipangkuan Raka sontak berdiri begitu menyadari kehadiran orang lain. Wajahnya memerah karena malu, buru-buru merapikan penampilannya sebelum menghindari tatapan Naura. Sementara Raka hanya bersandar santai di sofa, seolah tidak terjadi apa-apa. Bahkan sudut bibirnya terangkat membentuk senyum jahil. Naura melipat kedua tangannya di depan d**a. Tatapannya tajam menusuk lelaki itu. "Jadi, kamu nyuruh aku datang buat lihat pemandangan begini, Kak?" Raka mengangkat sebelah alis. "Pemandangan apa?" "Jangan pura-pura nggak ngerti." Naura mengembuskan nafas kasar, berusaha menahan emosinya. "Ya ampun... kalau memang lagi ada urusan pribadi, cari hotel atau tempat lain. Jangan malah bikin orang datang sia-sia." Wanita itu menundukkan kepala. "Maaf..." Tanpa menunggu respons, ia segera mengambil tasnya dan berjalan cepat melewati Naura. Pintu kembali tertutup, menyisakan keheningan yang terasa canggung. Naura memijat pelipisnya. "Ya ampun..." Bukannya merasa bersalah, Raka justru tertawa pelan. "Kamu masih sama." Naura memelototinya. "Apa yang lucu?" "Ekspresimu." "Aku serius." "Justru itu yang lucu." Naura mendengkus kesal. Ia berbalik hendak keluar, tetapi suara Raka menghentikan langkahnya. "Hei." Naura tidak menoleh. "Bunda yang nyuruh kamu datang, kan?" "Iya." "Berarti duduk dulu." "Nggak sudi." Raka bangkit dari sofa lalu menghampirinya. "Sayang,, kamu nggak bilang kalau mau datang." Naura langsung menatap tajam. "Aku bilang, Kak. Kamu aja yang nggak baca pesanku." Ia menunjuk ke arah sofa yang baru saja ditinggalkan wanita itu. "Bunda nyuruh aku ke sini, taunya malah disuguhi pemandangan kayak tadi." Raka hanya menyeringai. "Salah timing aja." "Yang salah itu kelakuanmu." Tanpa izin, Raka merangkul bahu Naura seperti kebiasaannya sejak mereka kecil. "Gimana? Cemburu?" Naura spontan menepis lengannya hingga terlepas. "Dih, amit-amit." Ia mundur selangkah sambil memasang wajah jijik. "Jangan dekat-dekat, Kak. Kamu baru aja kontak sama cewek tadi. Sana, jaga jarak." Raka tertawa makin keras. "Kamu ini, mulutnya tetap pedas." "Soalnya kamu memang nyebelin." Senyum Raka perlahan memudar. Ia mengembuskan napas pendek, lalu menunjuk kursi di depannya. "Udah marahnya? Sekarang duduk. Kita benar-benar ada urusan penting." Raka justru tertawa pelan. Bukannya menjauh, ia malah semakin mengeratkan rangkulannya di bahu Naura. "Mulutmu tetap pedas, ya. Lima tahun di Swiss nggak bikin kamu jadi lebih ramah." "Ramah sama orang kayak kamu? Mimpi!" Naura menepis tangan Raka hingga terlepas. "Bisa minggir nggak? Aku masih bisa cium parfum cewek tadi." Raka mengangkat kedua tangannya menyerah. "Oke, oke. Santai." "Jangan suruh aku santai. Bunda nyuruh aku datang karena katanya ada urusan penting. Yang aku lihat malah kamu lagi bikin drama." "Drama?" Raka mengangkat sebelah alis. "Itu bukan drama." "Terserah mau kamu sebut apa. Pokoknya aku jijik." Raka terkekeh pelan. "Jijik? Padahal waktu kecil kamu paling lengket sama aku." "Itu waktu aku masih kecil dan belum tahu kelakuanmu." Ucapan Naura membuat Raka kembali tertawa. Ia berjalan menuju meja, mengambil segelas air mineral lalu meneguknya sebelum menatap Naura lagi. "Kamu berubah." "Kamu juga. Bedanya, aku berubah jadi lebih baik. Kamu..." Naura menggeleng pelan. "Malah makin berantakan." "Bunda yang nyuruh kamu ketemu aku?" Naura mengangguk singkat. "Iya. Katanya mulai besok kamu yang bakal nemenin aku selama di Jakarta." "Temenin?" Raka menyeringai. "Wah, bagus juga." "Nggak ada bagus-bagusnya." "Kamu belum dengar alasannya." "Alasan apa pun nggak akan bikin aku senang." Raka menghela napas, lalu ekspresinya berubah sedikit lebih serius. "Om Ardan minta aku ngajarin kamu soal perusahaan. Selama lima tahun kamu tinggal di Swiss. Banyak yang berubah di sini, termasuk bisnis keluarga. Katanya aku yang paling tahu operasional di lapangan.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
755.1K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.8M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
987.6K
bc

A Warrior's Second Chance

read
364.5K
bc

Not just, the Beta

read
350.8K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook