Bab 8

818 Words
Bab 8: Perjamuan Para Serigala Malam semakin larut, namun Jakarta enggan memejamkan mata. Di sebuah rumah mewah di kawasan Menteng yang arsitekturnya bergaya kolonial, Arya Satya duduk menanti dengan sabar. Di depannya, sebuah meja kayu jati panjang telah dipenuhi oleh kudapan ringan dan dua cangkir teh yang masih mengepulkan uap. Ia tidak sendirian. Di sudut ruangan, seorang produser konten digital kenamaan—yang dikenal mampu membalikkan opini publik dalam hitungan jam—sedang memeriksa peralatan rekaman portabelnya. "Kamu yakin dia akan datang, Bos?" tanya si produser sambil menyesuaikan mikrofon. Arya tersenyum tipis, matanya melirik jam dinding. "Seorang wanita yang terpojok akan mencari dahan mana saja untuk berpegangan agar tidak jatuh ke jurang. Apalagi jika dahan itu menjanjikan keselamatan dan balas dendam. Aurora itu cerdas, dia tahu Raden sudah siap menjadikannya martir." Suara deru mesin mobil yang halus terdengar masuk ke halaman. Tak lama kemudian, pintu ruang tamu terbuka. Sosok wanita dengan jaket hoodie kebesaran dan topi yang ditarik rendah melangkah masuk. Ia tampak pucat, matanya sembab, namun ada kilatan keras di sana. Aurora telah sampai. Ia datang menggunakan mobil operasional milik tim Arya yang menjemputnya lewat pintu darurat di basement Senopati Suites, mengecoh kerumunan wartawan yang masih sibuk mengejar bayangan di atas sana. "Selamat malam, Mbak Aurora," sapa Arya dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, penuh empati palsu. "Silakan duduk. Anda aman di sini." Aurora melepas topinya, membiarkan rambutnya yang kusut tergerai. Ia tidak menyentuh teh yang disuguhkan. "Langsung saja, Pak Arya. Apa jaminan saya jika saya bicara? Raden punya orang di mana-mana. Dia bisa menghancurkan kontrak rekaman saya, dia bisa membuat saya tidak pernah menyanyi lagi di negara ini." Arya tertawa kecil, suara tawanya kering. "Mbak Aurora, saat ini Raden sedang berjuang untuk napas politiknya sendiri. Dia tidak akan punya waktu untuk mengurusi kontrak rekaman Anda. Jaminan saya sederhana: Perlindungan hukum penuh dari firma hukum terbaik, pembersihan nama baik dengan narasi bahwa Anda adalah korban manipulasi kekuasaan, dan... sebuah awal baru di luar negeri jika Anda menginginkannya." Aurora menatap kamera yang sudah siap di depannya. "Apa yang ingin Anda dengar?" "Semuanya," jawab Arya dingin. "Mulai dari bagaimana dia mendekati Anda dengan fasilitas negara, bagaimana dia menjanjikan perlindungan, hingga bukti-bukti chat atau rekaman suara yang membuktikan bahwa ini bukan sekadar suka sama suka, tapi penyalahgunaan wewenang. Kita ingin rakyat melihat Raden bukan sebagai pria yang selingkuh, tapi sebagai pemimpin yang korup secara moral dan administratif." Sementara itu, di rumah dinas, Raden Wijaya sedang mengamuk. Ruang kerjanya berantakan. Berkas-berkas berserakan di lantai, dan sebuah lampu meja pecah dihantam tinjunya. "Kenapa dia tidak ada di penthouse?!" teriak Raden pada Deni. Deni menunduk, wajahnya pucat pasi. "Laporan dari tim keamanan, Pak... Mbak Aurora terlihat masuk ke sebuah mobil SUV hitam yang terdaftar atas nama perusahaan konsultan milik Arya Satya. Kami terlambat sepuluh menit." Raden terhuyung, ia jatuh terduduk di kursi kebesarannya. Dunia yang ia bangun dengan presisi arsitektural yang tinggi kini benar-benar runtuh. Ia menyadari kesalahannya. Ia terlalu meremehkan Aurora. Ia mengira wanita itu hanyalah 'idola' pajangan yang bisa ia kontrol dengan uang dan kemewahan. Ia lupa bahwa Aurora adalah seorang penyintas di industri hiburan yang kejam; dia tahu cara bertahan hidup. "Siapkan konferensi pers subuh ini juga," kata Raden, suaranya kini terdengar parau dan kalah. "Tapi Pak, Ibu Nadia sudah mengeluarkan pernyataan cerai secara resmi. Sentimen publik sangat negatif," Deni mencoba mengingatkan. "Saya tidak peduli! Kita harus mendahului apa pun yang akan dikatakan Aurora! Bilang kalau... bilang kalau saya dijebak! Bilang kalau ada konspirasi politik untuk menjatuhkan saya melalui fitnah wanita!" Tiba-tiba, layar televisi di ruang kerja itu menampilkan notifikasi Breaking News. Sebuah cuplikan video pendek berdurasi sepuluh detik muncul. Di sana, Aurora duduk di depan mikrofon, matanya menatap tajam ke kamera. "Saya bukan hanya simpanan. Saya adalah saksi bagaimana kekuasaan disalahgunakan untuk memuaskan obsesi pribadi. Malam ini, saya akan menceritakan kebenarannya." Video itu berakhir dengan logo akun milik Arya Satya. Raden merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat. Itu adalah lonceng kematian bagi kariernya. Ia meraih ponselnya, mencoba menelepon Nadia untuk terakhir kalinya. Ia butuh bantuan istrinya. Ia butuh Nadia untuk berdiri di sampingnya di podium, memaafkannya secara publik, karena hanya itulah satu-satunya cara rakyat akan kembali bersimpati. Panggilan tersambung. "Nad... tolong aku," bisik Raden saat mendengar suara di ujung telepon. "Mas," suara Nadia terdengar sangat tenang, ketenangan yang jauh lebih menakutkan daripada kemarahan. "Sudah terlambat. Aku sedang bersama pengacaraku. Dan jangan coba-coba meneleponku lagi. Aku sudah memberikan semua bukti tambahan yang aku punya kepada tim Aurora." "Apa? Kamu bekerja sama dengan dia?!" Raden berteriak histeris. "Aku tidak bekerja sama dengan dia, Mas. Aku hanya bekerja sama dengan kebenaran. Kamu yang menghancurkan rumah ini, maka jangan salahkan aku jika aku tidak mau ikut terkubur di bawah reruntuhannya." Bip. Telepon terputus. Raden Wijaya kini benar-benar sendirian di dalam istana plastiknya. Di luar, suara sirine polisi dan teriakan demonstran yang mulai berkumpul di depan gerbang rumah dinas terdengar semakin nyata. Sang Idola kini telah berubah menjadi mangsa, dan para serigala sudah mulai berpesta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD