Episode 10

2357 Words
"Umi, kenapa sih nama Gadis itu Gadis? Nanti kalau Gadis udah jadi nenek-nenek masak dipanggil Gadis juga. Kan nggak lucu, Umi?" "Umi dan Abi itu memberi kalian nama sesuai dengan jenis kelamin kalian, sayang. Karena kedua kakakmu laki-laki, maka Umi dan Abi memberikan mereka nama Putra Tirta Sanjaya dan Jaka Tirta Sanjaya. Nah, karena Gadis itu anak perempuan yang tiba-tiba saja dititipkan oleh Allah Subhanawaata'ala pada Umi dan Abi, maka kami menamakan kamu Gadis Putri Sanjaya. Yang artinya Gadis adalah putrinya Pak Sanjaya. Mengerti sayang? "Dengar, sayang. Apa pun kelak yang akan terjadi dikemudian hari, percayalah Umi dan Abi amat sangat menyayangi dan mencintai kehadiranmu di tengah-tengah kehidupan kami. "Umiii!... Abiiii!" Maya terbangun dengan tubuh basah kuyub dan dibanjiri oleh keringat. Dia bermimpi lagi tentang pembicaraan seorang anak perempuan dengan ibunya yang sayangnya wajahnya tidak dapat diingatnya. Semua hanya berupa bayangan samar-samar di benaknya. Setelah menyeka keringat yang membasahi sekujur tubuhnya, Maya teringat kalau sekarang ia sudah bekerja. Mungkin dengan menyibukkan diri dalam pekerjaan, dia bisa sedikit melupakan kekisruhan dalam hidupnya. Dengan cepat ia mandi dan berpakaian rapi. Siap untuk bekerja. Sebelum bekerja seperti biasa ia akan membantu Ceu Esih dulu di dapur. Biasanya jam-jam seperti ini Ceu Esih sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk keluarga Atmanegara. Istimewa hari ini Bu Rahma dan Giselle sudah kembali dari Solo. Pasti makin banyak lauk yang harus di siapkannya. "Apalagi yang harus Maya bantu, Ceu? Maaf ya Ceu, Maya kesiangan bangun." "Nggak apa-apa atuh, Neng. Lagian ini teh Eceuk udah selesai menyiapkan nasi goreng dan jus buahnya. Tinggal dihidangkan dimeja saja. Kalau Neng Maya bersedia, tolong susun aja semua hidangan ini di meja makan. Tapi piringnya lima ya, Neng. Soalnya kemarin Bu Rahma pulang dengan calon besan dan ehm calon istri yang mau dijodohkan dengan Den Lando." Ceu Esih terlihat agak sungkan saat menyebut dua orang tamu tambahan yang akan ikut sarapan bersama dengan majikannya. Maya seketika menjadi gamang ketika nama Orlando disebut-sebut. Saat seperti inilah ia benar-benar ingin menderita amnesia agar tidak mengingat kejadian itu selama-lamanya. Kejadian dahsyat bersama Orlando tadi malam masih menyisakan rasa takut saat ia harus memandang wajah Orlando. Maya benar-benar merasa trauma. Orlando telah mengubahnya dari seorang gadis menjadi seorang wanita. Semalaman Maya tidak bisa tidur. Benaknya terus saja berpikir, bagaimana ia bisa belum pernah tersentuh laki-laki sementara ia telah bersuami dan konon katanya menjual dirinya ke mana-mana? Tidak masuk di akal bukan? "Eceuk aja yang menghidangkannya ya? Ma—Maya takut sama Pak L—Lando." Bahkan menyebut namanya saja membuat Maya begitu tidak nyaman. "Iya, Neng. Nggak apa-apa. Eceuk aja yang atur semuanya. Eh Neng Maya kan sudah mulai bekerja ya? Sarapan dulu atuh Neng sebelum berangkat." Ceu Esih langsung mengubah topik pembicaraan saat melihat wajah Maya yang memucat. Ia kasihan melihat kejadian demi kejadian buruk yang terus saja menimpa gadis baik hati ini. Dia tidak mempercayai semua berita di televisi tentang betapa buruknya kelakuan Maya. Karena justru yang dilihatnya pada gadis ini adalah semua kebalikannya. "Maya mau minta tolong sebenarnya sama Eceuk. Begini, Ceu. Maya bisa minta tolong dipanggilin ojek online tidak? Seperti waktu kemarin Eceuk pergi ke pasar. Maya mau naik ojek online aja ke restaurant. Ini Maya punya uang dua puluh ribu. Dikasih tip oleh tamu restaurant kemarin. Cukup nggak ya kira-kira uangnya untuk ongkos?" Maya mengeluarkan uang dua puluh ribu rupiah dari saku celananya dengan hati-hati. Begitu miskinnya dirinya saat ini. Sampai uang dua puluh ribu saja rasanya amat sangat berharga baginya. "Ohhhh... bisa Neng, bisa. Sebentar Eceuk buka dulu aplikasinya supa bisa kita or—" "Tidak perlu! Anda berangkat kerja dengan saya saja, Bu Maya. Anda itu masih berada dalam perlindungan dan tanggung jawab saya." Pipi Orlando memerah saat mengucapkan kata perlindungan dan tanggung jawab. Karena sudah jelas bahwa sebenarnya dia sendiri lah yang sudah menjadi penjahatnya di sini. Kalau dia mau jujur, dia semalam telah melakukan tindak pidana pemerkosaan terhadap Maya. Ia bahkan bisa dikenakan dua pasal sekaligus karena yang diperkosanya adalah saksi yang wajib dilindunginya. Dan apabila Maya mengajukan tuntutan hukum padanya, sudah bisa dipastikan ia akan masuk penjara. "Nggak perlu Pak polisi. Saya bisa berangkat kerja sendiri." Maya menjawab cepat tanpa berani memandang kearah Orlando sama sekali. Dia tidak sanggup memandang wajah Orlando tanpa teringat apa yang sudah laki-laki ini lakukan pada dirinya semalam. "Pilihan Anda hanya ada dua. Berangkat bekerja bersama saya, atau Anda tidak usah bekerja di sana lagi. Tentukan pilihan Anda sekarang? Anda sudah sarapan atau belum?" Maya menggeleng. Tumben pak polisi ini menanyakan hal sepele seperti ini. Biasanya jangankan bertanya tentang sarapan. Belum makan hingga malam pun ia tidak akan pernah peduli. "Anda makan dulu sekarang. Masih banyak waktu sebelum jam masuk kerja. Ayo saya temani Anda makan. Ceu, saya makan di sini saja biar cepat." Maya bingung mendengar kata-kata Orlando. Tadi katanya mereka masih banyak waktu. Ini dia malah sengaja makan di belakang supaya cepat selesai dan tidak menghabiskan banyak waktu. Sebenarnya mereka ini masih memiliki banyak waktu atau sudah terlambat? Maya bingung. Orlando kemudian duduk di meja khusus yang diperuntukkan bagi para orang belakang untuk makan. Meja kecil sederhana ini memang biasa dipakai untuk makan para ART, supir dan tukang kebun. Maya juga selalu makan di meja ini. "Hah? Den Lando mau sarapan di sini? Oh ya sudah, Neng Maya juga kan?" Ceu Esih kembali mengulum senyum melihat tingkah laku dua anak muda di depannya ini. Maya yang terus menunduk dan tidak berani menatap Orlando. Sedangkan Orlando malah terus saja mencuri-curi pandang ke arah Maya. "Saya nggak usah disiapkan, Ceu. Saya masih kenyang dan ti—" "Duduk! Saya bilang duduk dan makan nasi gorengnya. Atau Anda lebih suka saya suapi? Mau begitu?" Maya semakin ketakutan saat mendengar nada suara Orlando yang mulai naik satu oktaf. Dengan cepat ia pun duduk dan menyuapkan nasi gorengnya cepat-cepat. "Lho kamu ternyata masih ada di sini? Masih punya muka kamu tinggal dan makan gratis di rumah saya?!" Uhukkk...Uhukkk... Maya tersedak nasi gorengnya saat melihat Bu Rahma berkacak pinggang sembari menunjuk-nunjuk wajahnya. Dengan cepat Maya segera berdiri. "Sa—saya akan segera pergi, Bu Rahma. Ini saya—saya akan pergi sekarang. Saya—" "Bu Maya, duduk. Lanjutkan sarapan Anda. Tidak ada yang akan pergi dari rumah ini. Bu, Lando kan sudah bilang kalau Maya ini adalah tanggung jawab Lando. Masalah semalam juga Lando yang salah. Jadi kenapa masalahnya jadi melebar seperti ini?" Orlando menahan bahu Maya dan kembali mendudukannya di kursi. Tetapi mana bisa lagi Maya melanjutkan sarapan paginya ditengah pelototan ibu Lando. Apalagi Maya melihat Giselle dan ada dua orang wanita berbeda generasi mulai ikut mendatangi tempat mereka bertengkar. "Kamu masih membelanya Lando? Membela perempuan b***t ini? Ibu tidak sudi kalau rumah ibu dihuni oleh mahluk tidak bermoral seperti perempuan ini!" bantah Bu Rahma kesal. "Ini juga rumah Lando, Bu. Bukan rumah ibu seorang. Ayah mewariskan rumah ini untuk kita bertiga. Jadi Lando juga berhak menentukan siapa yang akan Lando bawa untuk tinggal di sini!" Orlando membantah tak kalah keras. "Demi perempuan ini kamu sampai berani menentang ibu sekarang, Ndo? Hebat sekali pengaruh kamu ya Maya? Sampai bisa membuat anak kandung saya menentang ibunya sendiri. Hebat!" Bu Rahma bertepuk tangan dengan mata berkaca-kaca. Dia sedih karena hanya demi seorang perempuan murahan, putra kebanggaannya sampai hati menentang dan mempermalukannya di hadapan orang banyak seperti ini. "Mas Lando kok kasar gitu sih ngomongnya sama Ibu? Mas lupa sama semua nasehat terakhir almarhum Bapak yang meminta Mas untuk selalu menghormati dan menyayangi Ibu dan Giselle. Lupa Mas?" Adiknya kini mulai ikut-ikutan mengeroyoknya. Orlando mengepalkan kedua tangannya seerat-eratnya demi menahankan emosinya. Tetapi dia juga tidak mau menjawab pertanyaan ibu mau pun adiknya. Dia merasa bahwa mereka berdua itu sebenarnya tidak membutuhkan jawabannya. Tetapi kepatuhannyalah yang mereka inginkan. Dari sudut matanya Orlando melihat Maya juga hanya diam menunduk dengan kedua tangan yang saling terjalin di pangkuan. "Saya tadi menyuruh Anda untuk makan kan Bu Maya? Mengapa sekarang nasi gorengnya hanya dipandangi saja?" "Sa—saya sudah kenyang, Pak." Maya menjawab takut-takut. Bagaimana dia bisa makan kalau terus dipelototi oleh orang-orang yang seolah-olah ingin sekali menelannya bulat-bulat. Tanpa banyak bicara lagi Orlando meraih sendok dan menyuapkan sesendok penuh nasi goreng pada Maya. "Buka mulut Anda?" Refleks Maya pun membuka mulutnya karena Orlando memegangi rahangnya agar mulutnya terbuka dan nasi dapat masuk kedalam mulutnya. "Sekarang kunyah dan telan." Karena gugup Maya pun menuruti kata-kata Orlando. Sendok kedua dan ketiga pun akhirnya dihabiskan Maya di tengah pelototan mata orang-orang. "Kamu ini memang tidak ada sopan-sopannya sama orang tua ya, Ndo. Ibu itu capek-capek ke Solo bukan hanya bertujuan ingin menjenguk Pak De kamu yang sedang sakit, tapi juga sekalian mencarikan jodoh untuk kamu, Nak. Makanya Ibu membawa Bu Tati dan anaknya Sri Dewi ini untuk menggantikan posisi Ochi di hati kamu. Kamu pikir Ibu tidak tahu kalau kamu itu mencintai istri orang? Ochi itu sudah menikah dan sedang hamil besar lagi. Jangan mengharapkan hal yang tidak mungkin terjadi, Nak. Kamu nggak mau berumah tangga Ndo? Nggak pengen gitu punya anak-anak sendiri dan memberi ibu cucu?" Orlando menghela nafas panjang. Ini lah topik yang paling dia hindari. Masalah jodoh. Setiap ibunya pulang ke Solo, pasti pulang-pulang ia akan membawa kandidat calon istrinya yang bahkan sudah berulang kali ia tolak. Bagaimana mungkin dia bisa mencintai orang hanya dengan sekali berjumpa saja tanpa mengetahui kepribadiannya? "Soal jodoh Lando, Ibu tidak usah khawatir. Lando sudah ada calonnya. Hanya saja, ada beberapa hal yang belum bisa kami lalui. Ada beberapa masalah yang masih harus kami selesaikan terlebih dahulu. Lando janji, begitu semua masalah kami berdua selesai, Lando akan segera menikahinya dan membuat Ibu sibuk seharian dengan cucu-cucu lucu yang akan terus Lando produksi. Lando janji, Bu. Ibu tenang saja." "Jadi kamu mau bilang kalau kamu menolak Sri Dewi anak Bu Tati ini, begitu?" Mata ibunya seperti sudah hendak keluar dari rongganya saking marahnya. "Dengan segala hormat Orlando minta maaf, Bu. Orlando tidak bisa menerima wanita manapun lagi. Lando sudah punya calon." "Kamu... kamu..." Bu Rahma sempoyongan dan memegangi d**a kirinya yang rasanya mendadak begitu sesak dan membuatnya susah untuk bernafas. Sepertinya penyakit jantungnya kambuh lagi. Orlando dengan cepat mendudukkan ibunya ke sofa. Ibunya memang selalu seperti ini kalau dia sedang marah atau pun mengalami perubahan emosi yang cukup signifikan. "Bu! Ibu! Ini semua gara-gara Mas Lando! Ayo kita bawa Ibu ke rumah sakit, Mas?" Giselle segera meraih ibunya dan bersama-sama dengan Lando berlari ke garasi. Lando menggendong ibunya dan mendudukkan ibunya dikursi penumpang. Setelah itu ia kemudian kembali berlari ke dalam rumah menuju dapur. "Ceu, tolong antar Maya ke restaurant Nikmat Rasa. Naik Gra* saja. Pak Yanto tadi izin tidak masuk karena sakit. Nanti setelah mendapat driver, segera kirim nomor ponsel dan nomor polisinya mobil drivernya. Antar Maya sampai ke dalam restaurant ya, Ceu? Ingat, sampai ke dalam restaurant. Jangan me—" "Massss! Cepat dong. Ibu udah sesak nafas ini!" Dan Orlando pun segera berlari menuju garasi. Maya terdiam. Dia sama sekali tidak menyangka kalau kehadirannya di rumah ini akan memicu begitu banyak perselisihan. Ibu dengan anak dan juga adik dengan kakak. Memang tidak seharusnya ia tinggal di sini. Tetapi sekarang ia harus tinggal di mana? Maya bingung sekali. "Kamu tidak merasa berdosa telah membuat seorang anak menjadi durhaka hanya karena membela kamu yang menjual sensualitas tanpa ada kredibilitas? Apa kamu tidak merasa malu memanfaatkan sisi feminim kamu dalam menjerat mangsa yang kebetulan tidak tahan melihat deraian air mata? Itu manipulatif namanya!" Sri Dewi yang tadi sikapnya begitu tenang dan anggun langsung menyemburkan bisanya begitu melihat Orlando sekeluarga berlalu menuju ke rumah sakit. "Saya tidak malu mengakui kebodohan saya terhadap apa yang tidak saya ketahui di masa lalu dan hal yang tidak saya lakukan di masa sekarang. Saya sama sekali tidak pernah membujuk Pak Orlando untuk membawa saya tinggal di sini. Ini semua memang peraturan dari pihak yang berwajib, Mbak." "Halah! Kamu kira saya anak kecil apa?" Sri Dewi masih belum puas juga mencecar Maya. "Ayo, Neng. Itu drivernya udah nunggu di depan." Ceu Esih meraih pergelangan tangan Maya dan menyelamatkannya dari wanita penuh bisa seperti Sri Dewi. Bagaimana bisa seorang yang katanya putri keraton dengan babat, bibit, bebet, dan bobot yang sempurna bisa mengeluarkan kata-kata sefrontal itu? "Yang sabar ya, Neng, jangan didengerin omongannya Mbak Sri itu. Orang teh kalau sirik emang suka begitu. Nggak diatur ngomongnya. Pikasebeleun." Maya hanya tersenyum kecil menanggapi kata-kata Ceu Esih yang berusaha menghiburnya. =================== Maya membersihkan meja yang baru saja ditinggalkan oleh sepasang suami istri dengan tiga anaknya dengan cepat. Saat menjelang makan siang seperti ini, restaurant akan mulai ramai. Dan tepat pada pukul 12.00 WIB nanti adalah puncak ramainya pengunjung yang akan mengisi perutnya disini. "Mbak Maya, itu ada tamu di meja 16 belum dilayani. Salwa mau ke toilet dulu buat ganti pembalut. Mbak Maya tolong gantiin Salwa sebentar bisa nggak, Mbak?" "Ya udah sana ganti. Nggak baik lo kalau memakai pembalut terlalu lama. Pembalut itu harus diganti maksimal tiga atau empat jam sekali. Karena kalau dibiarkan terlalu lama akan menyebabkan munculnya bakteri, karena darah menstruasi kita akan terkontaminasi dengan mikroorganisme dari dalam tubuh. Selain itu, letak pembalut yang tepat dibawah vagin* akan cenderung lembap karena darah haid, cairan vagin*, dan keringat. Kondisi lembap ini akan menyebabkan terjadinya proliferasi mikroorganisme dan menimbulkan penyakit, seperti infeksi v****a atau infeksi saluran kemih." "Wuihhhh, ternyata selain jago bahasa inggris Mbak Maya juga pinter ih kayak dokter. I lope you pull deh Mbak Maya." Salwa memberi ciuman jauh kepada Maya seraya berlari kecil menuju toilet. Sambil membalas ciuman jauh Salwa, Maya segera menghampiri laki-laki yang tampak manly dengan rambut yang menutupi rahang perseginya. "Selamat siang, Pak. Mau pesan menu apa? Ini ada buku daftar menu restaurant kami. Kalau di menunya ada gambar bintang, itu artinya menu tersebut paling digemari oleh pengunjung dan yang paling sering di order, Pak. Silahkan lihat-lihat dulu menunya ya, Pak." Maya memberikan senyumnya yang paling manis pada pria tampan berbusana formal ini. Dia memang selalu berusaha bersikap ramah kepada para pengunjung restaurant. "Maya? Kamu bekerja sebagai waitress di sini? Tidak salah seorang Candramaya Daniswara menjadi seorang waitress?" "Maaf, anda mengenal saya? Saya memang sedang kurang baik ingatanny, Pak. Mohon maaf kalau sekiranya saya tidak mengenali, Bapak." Maya merangkapkan kedua tangannya di d**a. "Lo nggak usah manggil gue, Bapak. Gue ini Abang lo, Candragupta Daniswara!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD