Terbuka

1199 Words
Setelah bersih-bersih dan berganti pakaian, Aluna dan Revan kini memutuskan untuk mampir ke sebuah tempat makan dengan view outdoor yang cukup nyaman untuk sekedar mengobrol atau mungkin hanya bersantai. Tentunya ini atas ide Revan yang tidak disepakati oleh Aluna namun tetap berakhir bersama disini. “Seru banget komentarnya,” ujar Revan terkekeh melihat handphonenya. Seperti yang tadi ia katakan bahwa ia akan memposting sebuah story di media sosialnya berupa foto pohon yang ia tanam dengan latar Aluna di belakangnya, namun sebagai bentuk masih menghargai Aluna, dia memposting dengan wajah Aluna yang tidak terlihat jelas. Ia belum ingin melihat Aluna yang benar-benar marah karena sudah memperingatkan secara berulang. Aluna tidak menjawab, ia hanya memperhatikan Revan sekilas dan kembali memperhatikan aktivitas orang-orang di luar yang bisa terlihat jelas dari posisi duduk mereka. Kebetulan ada sebuah taman kecil untuk binatang peliharaan yang bagi Aluna lebih menarik untuk dilihat. “Kok ga ada yang bisa nebak kalau perempuan ini kamu ya?” “Lagian siapa yang berpikir aku dan kamu akan barengan gini?” Aluna memberikan respon walaupun matanya masih tidak melihat pada Revan. “Kalau kamu juga posting kegiatan tadi, aku yakin bakalan ada yang bisa jawab sih. Eh, by the way kamu belum folback aku ya?” “Iya nanti.” “Sekarang!” “Aku hitung-hitung seharian ini kamu udah cukup banyak nyuruh aku ya Mr Revan, cukup.” Aluna menjawab dengan wajah malas. “Sebenarnya aku ga masalah, jadi aku bisa bebas upload foto yang mana saja tanpa kamu perlu tahu. Tadi aku foto kamu bagus loh, sayang ga sih kalau dunia ini ga tahu seberapa cantiknya Aluna saat menanam pohon,” dengan santai Revan bersandar dan mulai memilih banyak foto dari galerinya. “Berisik banget, iya ini aku folback, ngancem mulu.” Aluna segera mengeluarkan handphonenya dan tidak lama memperlihatkan layar handphonenya yang sudah menunjukkan bahwa ia sudah mengikuti akun media sosial milik Revan. “Lagian kenapa panik sih? Upload foto kamu doang ga akan kenapa-napa.” “Ya kan ga sesuai time line kita.” Revan hanya mengangguk-angguk cuek sambil tangannya menggulir media sosial milik Aluna, kini ia ingin tahu lebih banyak isi media sosial Aluna, “kalau dilihat-lihat akun Argio ini rajin banget like dan komen postingan kamu, dia siapa sih?” “Sepupu.” Jawab Aluna pendek. “Sepupu? Deket?” “Ya selayaknya sepupu aja.” “Sepupu kok cara ngelihat kamunya bukan kaya sepupu? Aneh tahu nggak.” “Aneh apanya?” Aluna tampak kurang nyaman dengan Revan yang sebenarnya sengaja mengarahkan obrolan pada Argio. “Aluna, aku ini cowok, jadi bisa tahu lah arti gerak-gerik cowok lain. Kelihatan jelas kalau Argio itu suka sama kamu. Kaget aja sih ternyata dia sepupu kamu.” Aluna angkat bahu, “ga tahu.” “Tapi dia di pihak kamu?” “Maksudnya?” “Dia bukan di pihak yang ingin jatuhin kamu dan papa kamu kan? Tentu aku harus tahu hal ini karena sepertinya dia akan ikut andil dalam kerja sama kita.” Aluna diam sejenak untuk berpikir, bahkan jarinya yang memegang gelas diam-diam bergerak seolah mempertimbangkan sesuatu, “aku bingung harus mulai ceritanya bagaimana ke kamu.” Revan memperbaiki posisi duduknya dengan lebih baik karena sepertinya Aluna ingin menyampaikan informasi yang penting, ia menunjukkan fokus menunggu Aluna berbicara, “cerita dari mana saja.” “Argio itu anak Om Tedi.” “Wow, menarik.” Revan berusaha terlihat kaget walau sebenarnya ia sudah tahu sebelumnya. Aluna yang hendak bicara seperti menahan kembali lidahnya, ia terlihat sangat banyak pertimbangan, matanya juga terlihat gelisah. “Aluna, aku ga tahu harus ngelakuin atau bantu apa kalau kamu ga cerita apapun, kamu ingat bahwa kesepakatan ini harus menguntungkan kedua belah pihak kan? Jika aku ga punya petunjuk, aku ga bisa kasih keuntungan apapun utnuk kamu.” Revan bicara mencoba meyakinkan Aluna. Aluna melihat Revan dan kembali berpikir apa yang harus ia ceritakan. Ia tidak pernah berbagi masalah dengan orang lain sehingga baginya sekarang sulit untuk menceritakan, di kepalanya segalanya terasa sangat rumit untuk disampaikan. Aluna terbiasa sendiri dan menyelesaikan semuanya tanpa perlu berbagi dengan orang lain, karena ia tidak bisa percaya pada sembarang orang. “Kalau kamu bingung, kamu bebas mau ceritain dari mana aja, aku akan dengarkan.” Seolah bisa membaca kesulitan Aluna, Revan kembali membujuk. “Kita sudah buat kesepakatan, kamu sudah janji akan selalu ada di pihakku kan?” “Apa perlu ada janji jari kelingking?” Revan langsung menunjukkan jari kelingkingnya dengan wajah berusaha membuat Aluna tertawa agar dia lebih santai. Usaha Revan berhasil, Aluna tertawa kecil sambil mengaitkan jari kelingkingnya dengan milik Revan, “aku akan nekat percaya padamu.” “Nekat yang tepat,” Revan tersenyum dan kembali memposisikan dirinya bersiap mendengarkan Aluna. “Semuanya sebenarnya baik-baik saja saat ayah dipilih menjadi pimpinan utama oleh kakek. Namun saat kakek meninggal semua orang mulai memperlihatkan sifat asli mereka. Mereka ingin merebut posisi ayah dengan cara yang tidak seharusnya. Dan puncaknya adalah ketika ibuku tiba-tiba meninggal. Ayah seperti hilang arah dan hilang kekuatan, aku tahu karena selama ini ibu selalu menjadi support system ayah, bahkan aku bisa bilang kalau ibu adalah penggerak ayah. Momen ini benar-benar digunakan orang-orang untuk menunjukkan jika ayahku tidak seharusnya berada di posisi pimpinan utama. Yang aku tidak sangkanya adalah itu berasal dari Om Tedi, adik kandung ayah sendiri yang padahal sebelumnya selalu ada di pihak ayah.” Perlahan Aluna coba menjelaskan pada Revan sejak awal agar Revan bisa memperkirakan masalah apa yang sebenarnya Aluna hadapi dan bagaimana cara Revan nanti membantu. Aluna menarik napas pendek sebelum ia lanjut menjelaskan, “itulah awal kenapa aku memutuskan untuk lebih banyak andil di kantor. Aku ingin menguatkan ayah lagi dan tidak ingin ayah menghadapi semuanya sendiri. Karena entah kenapa semua orang banyak berpihak pada Om Tedi karena ia memberikan banyak janji manis dan yang membuat aku semakin kaget bagaimana bisa orang-orang hanya memikirkan perkara keuntungan tanpa berpegang pada prinsip dasar kenapa perusahaan ini susah payah didirikan oleh kakek. Ini bukan hanya terkait untung, tapi bagaimana perusahaan memberikan manfaat untuk lingkungan dan orang sekitar. Semua orang menjadi buta sehingga ayah berubah menjadi musuh karena tidak satu tujuan dengan mereka.” Revan terdiam mendengar cerita Aluna, dia bisa melihat kemarahan sekaligus kesedihan yang Aluna rasakan. Aluna dan ayahnya terjebak dengan prinsip kuat ditengah orang-orang yang tidak sepemahaman lagi dengan mereka. “Om Tedi melakukannya tidak dengan cara terang-terangan namun terselubung. Beberapa orang mengingatkanku bahwa Om Tedi ingin segera menggulingkan ayah dan menaikkan anaknya, Argio sebagai penggantinya.” “Seharusnya itu adalah kamu?” Revan bertanya karena Aluna terdiam tidak melanjutkan ceritanya. Aluna menarik napas dalam sambil menggeleng, “aku tidak peduli dan memikirkan itu, aku hanya ingin fokus menjaga kedudukan ayahku sampai akhir dengan terhormat. Lagipula perempuan bisa apa? Itu yang semua orang pikirkan.” “Lalu bagaimana Argio bersikap padamu?” “Aku tidak mengerti dia.” “Maksudnya?” Revan memiringkan kepalanya ingin tahu. “Seperti yang kamu pikirkan di awal. Salah satu hal yang membuatku bingung dan tidak nyaman. Salah satu alasan aku menyetujui tawaranmu terkait membuat hubungan palsu, aku harap juga agar menghindari hal tidak penting ini.” Mata Revan agak membelalak mendengar ucapan Aluna yang berakhir dirinya geleng-geleng kepala, “aku akan menjalankan tugasku dengan baik, tenang saja.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD