Singa

1113 Words
“Tunggu! Ini kerjaan Om, kan?” Aluna mengejar seorang pria yang sedikit lebih muda dari ayahnya setelah mereka selesai dengan rapat panas di ruangan. “Kalau kamu memang tidak bisa mengatasi ini, setidaknya jangan menyalahkan orang lain.”jawab pria yang Aluna panggil Om Tedi itu dengan nada bicara santai sambil terus berjalan seolah tidak begitu memperdulikan Aluna. “Ya bagaimana mungkin aku tidak menyalahkan orang lain setelah semua yang terjadi?” “Kamu bilang tadi di ruangan kamu bisa selesaikan ini, bukan?” Aluna semakin menggeram kesal, kalau saja ia dibolehkan memukul, ia pasti sudah memukul pria yang merupakan saudara ayahnya ini sejak tadi di ruangan. “Ini sudah pasti kerjaan Om! Ga ada yang tahu mengenai data yang bocor ini selain aku, ayah dan Om! Om sengaja mau hancurin perusahaan ini ya?” Aluna terus mencecar Om Tedi sambil terus berusaha mengatur emosinya tetap terkendali. Om Tedi menghentikan langkahnya dan menatap Aluna dengan senyum meremehkan, “menghancurkan perusahaan? Untuk apa? Hancur atau berjayanya perusahaan ini sepertinya tidak berpengaruh pada Om. Hanya untuk kamu dan ayah kamu, kan? Orang yang paling dekat dengan Bapak Teguh Wijaya, pendiri perusahaan ini.” “Jika dari awal memang om mau kuasai perusahaan, kenapa tidak bilang saat kakek masih hidup? Cara Om ini enggak banget!” Aluna menatap Om Tedi tidak percaya dan penuh kekecewaan. “Sudahlah Aluna, anak kecil dan perempuan seperti kamu tidak tahu apa-apa. Kalau memang kamu bisa melakukan sesuatu, setidaknya urus perusahaan ini dengan baik, seperti yang kakek kamu pernah bilang ke kamu.” Om Tedi kemudian pergi begitu saja meninggalkan Aluna yang mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. * Jam dinding terus bergerak menunjukkan hari yang sudah semakin malam. Aluna masih duduk diam di kursi meja kerjanya dengan pikiran yang semakin berantakan. Rasanya ia sudah berada di titik paling jenuh dan buntu. Rahasia perusahannya sudah bocor ke perusahaan kompetitor. Baru saja Aluna hendak membuat pergerakan setelah sebelumnya keadaan perusahaan tidak stabil karena masalah internal, kini ia sudah dibuat seolah harus menyerah dan bertekuk lutut pada orang-orang yang selama ini ingin membuatnya jatuh. Air mata Aluna tahan sambil menarik napas dalam, ini bukan saatnya menangis walaupun rasanya sangat ingin. Ia harus bisa segera memutuskan langkah selanjutnya yang paling tepat. “Tapi ini benar-benar sudah tidak ada jalan…,” Aluna menyerah setelah terus memaksa otaknya yang lelah untuk terus berpikir memikirkan jalan keluar. “Apa aku memang sudah harus menyerah? Apa memang ini waktunya aku dan ayah mundur agar mereka berhenti berusaha menghancurkan perusahaan kakek?” lanjut Aluna getir. Aluna memejamkan matanya sambil menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jarinya secara kasar, “tapi itu sama saja, mereka tidak akan menjalankan perusahaan sesuai keinginan kakek, mereka benar-benar hanya ingin keuntungan. Mereka tidak peduli dengan tujuan dan keinginan kakek.” Di dalam kepusingan itu, Aluna melirik handphonenya yang tiba-tiba berdering. Dahi Aluna mengerut melihat nama yang tertera di layarnya. Sudah lama dari terakhir kali ia menerima pesan atau kiriman bunga dari Revan. Aluna pikir pria itu sudah bosan. Namun sekarang tiba-tiba dia menelfon, bahkan sebelumnya ia hanya berani mengirim pesan. Aluna tidak langsung mengangkat panggilan tersebut dan membiarkannya begitu saja, “dia pasti sedang salah menelpon.” Namun tebakan Aluna sepertinya salah, setelah panggilan pertama berakhir, Revan kembali menelpon yang artinya ia benar-benar sedang ingin menghubungi Aluna. Walaupun ragu, Aluna mengangkat panggilan tersebut, “halo?” “Ayo pulang, ini udah terlalu malam untuk tetap diam sendirian di kantor.” Aluna langsung disambut suara Revan. Mata Aluna langsung membelalak kaget sambil melihat sekitar dengan waspada, “hah?” “Lama tidak bertemu, ayo setidaknya mengobrol denganku kalau memang tidak mau pulang. Ngapain sendirian?” “Kamu dimana? Kenapa kamu tahu aku masih di kantor?” Terdengar tawa dari seberang, “tebakan beruntung! Aku sedang menunggumu di depan. Aku tunggu atau kamu mau aku jemput ke dalam?” Aluna semakin dibuat kaget dan tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Revan, “Revan, jangan bercanda denganku.” “Hey, siapa yang bercanda? Ayo temui aku dulu, sejak pertemuan terakhir kita benar-benar belum bertemu lagi untuk menghabiskan waktu bersama. Kamu selalu menolak dan menghindar.” “Maaf, aku tidak bisa. Aku mau pulang.” “Aku antar.” “Aku bisa sendiri.” “Setidaknya bicara denganku, aku bisa mendengarkan kekesalanmu tentang Om Tedi.” Aluna semakin dibuat terkejut oleh Revan yang entah kenapa bisa tahu banyak hal secara tiba-tiba, “apa yang kamu lakukan? Memata-mataiku? Ini tidak lucu!” “Makanya, kita ketemu dulu. Kalau mau marah kamu bisa memarahiku secara langsung nona Aluna.” “Tunggu aku!” * “Selamat malam cantik!” sapa Revan melihat Aluna benar-benar menghampiri mobilnya dan kini sudah duduk di kursi sebelahnya. “Apa maumu?” ketus Aluna tanpa basa-basi pada Revan setelah menutup pintu mobil dengan cara dibanting. “Hey? Ingin langsung marah?” Revan menunjukkan wajah kaget namun tetap tertawa. “Berhenti bermain-main denganku! Aku sudah punya banyak masalah dan kamu tidak perlu menambah-nambahnya lagi! Apa aku ini terlihat seperti lelucon untukmu? Kenapa semua orang senang sekali membuatku hidup dengan tidak tenang!?” Aluna benar-benar bicara dengan nada marah. Bukan terkait Revan saja sebenarnya, namun karena dia sedang sangat sensitif dan terlalu banyak beban di kepalanya sehingga Revan sekarang lah yang menjadi sasarannya. “Woah.., aku tidak menyangka kamu semarah ini. Sabar, aku disini datang untuk membantumu.” Aluna tidak tahu harus menjawab apa, dia hanya bisa menghembuskan napas keras sambil membuang tatapannya ke luar jendela mobil yang ada di sampingnya. Energinya habis, rasanya sangat lelah. “Kamu butuh menenangkan diri sepertinya. Mau aku temani ke suatu tempat? Sebut saja, aku akan temani.” “Aku mau pulang,”jawab Aluna pelan nyaris tidak terdengar dengan wajah yang masih tidak melihat ke arah Revan. “Mau makan dulu? Kamu sudah makan malam?” “Aku tidak lapar.” Jawab Aluna masih bersikukuh tidak ingin menyetujui apapun yang Revan katakan. Namun perut tidak bisa berbohong, karena suasana yang benar-benar hening suara perut Aluna yang memang belum diisi dari siang berbunyi yang membuat Aluna semakin kesal sekaligus malu. Revan ingin sekali tertawa namun berusaha keras ditahan agar tidak semakin memperburuk mood Aluna. “Aku tahu sebuah tempat makan enak disekitar sini, aku sudah lama tidak kesana dan aku juga belum makan malam. Mau ikut? Setidaknya saat pulang, sesampainya di rumah kamu bisa langsung istirahat.” Revan coba menawarkan dengan cara yang lebih halus sekarang. “Hm, baiklah.”Aluna menjawab sekenanya. Revan langsung tertawa lega dan langsung melajukan mobilnya menuju sebuah tempat yang mungkin bisa menjadi tempat ia mulai bisa bernegosiasi dengan Aluna. Sepertinya perempuan ini menjadi semakin sangat pemarah hanya karena lapar, harapannya setelah makan Aluna bisa diajak bicara baik-baik layaknya manusia, bukan seekor singa lapar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD