BAB 43

1521 Words

“Itu, asam banget lho,” Bu Wira bergidik melihat Luna memakan irisan buah asam dan pedas kesukaannya dengan lahap. Luna sedang di rumah. Sendiri. Tanpa Alaric. Sudah lama ia tak mengajak Alaric ke rumah orang tuanya. Sama seperti Alaric juga sudah lama tidak mengajak Luna ke rumah orang tuanya, meski acap kali mertuanya mengirim pesan atau menelepon memintanya datang. Tidak sekarang. Tidak saat hubungannya dengan Alaric dalam kondisi begini. Luna tak bakal sanggup bersandiwara di hadapan mertua. Ia dan Alaric sudah sebulan lebih tak bertegur sapa. Komunikasi mereka benar-benar buruk. Alaric selalu tampak sedih melihat Luna, sorot matanya bersalah dan terluka. Lalu Luna sendiri lebih suka menghindari Alaric untuk sementara. Sampai kapan? Entah. Mungkin sampai Alaric akhirnya melepaskannya.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD