Marco menatap kosong ke arah kegelapan malam di luar tenda. Sudah empat puluh hari dia di sini. Empat puluh kali matahari terbit dan tenggelam. Empat puluh hari ia menyibukkan diri menjahit luka hingga tangannya kram dan kakinya bengkak karena terlalu lama berdiri. Di sela jari telunjuk dan tengahnya, sebatang rokok kretek terbakar sia-sia. Abunya memanjang, siap jatuh kapan saja, persis seperti pertahanan dirinya saat ini. Tiap kali menjelang tidur, tiap kali dia menyendiri di saat hening menyergap seperti ini, nama itu kembali merayap naik dari dasar hatinya dan menari-nari di otaknya. Raras. Hanya dengan memikirkan satu kata itu, d**a Marco terasa sesak. Ia meremas d**a kirinya, membuat kemeja hijaunya kusut dalam cengkeraman. Rasa nyeri itu nyata adanya. Jantungnya berdetak dengan

