“Kamu pacaran sama pak Reno?” Radit bertanya ketika Lita sudah berada di ruang tengah. Putrinya memegang remote control mobil-mobilan yang dinaiki Tirta dan menjalankannya. Akhirnya, ia punya kesempatan untuk bertanya setelah didera rasa penasaran beberapa waktu. “Cuma deket.” Ingin rasanya Lita mencibir, karena Radit pasti bahagia jika Lita benar-benar berhubungan dengan Reno. Memangnya, orang tua mana yang tidak setuju jika putrinya berhubungan dengan pria seperti Reno. “Nggak pacaran?” “Deket aja, Pak,” jawab Lita malas memberi jawaban yang sebenarnya. “Dia suka sama kamu,” ucap Radit penuh keyakinan. Jika tidak, mana mungkin Reno selalu datang ke rumah mencari Lita setelah pulang kerja. “Kenapa nggak dijadikan aja. Kamu bisa nikah—” “Kalau jodoh, nggak lari ke mana.” Lita meleta

