BAB 1 || Pemilik Mata Indah

1299 Words
“Harsa sungguh akan menyesal enggak ikut denganku...” Gumam Kheeva Arva Lais duduk dengan kancing kemeja atas yang sengaja dibuka, menampilkan aura maskulin yang matang dan memikat. Ia menyebut nama sepupunya yang paling dekat. Biasa bersamanya, saat seluruh sepupunya sudah sibuk dengan prioritas karier atau bahkan hubungan asmara. “Enggak ada Harsa, aku siap menemanimu. Bukannya lebih menyenangkan bersamaku hm?” Sesosok wanita bergaun ketat di sebelahnya tertawa manja, membiarkan jemari lentiknya yang dihiasi cat kuku merah menyala merayap nakal di atas perut kotak-kotak Kheeva yang keras. "Badanmu makin bagus saja, Khev." Merasakan sentuhan itu, Kheeva hanya terkekeh pelan. Dengan gerakan santai namun tegas, ia menangkap pergelangan tangan wanita itu, menyingkirkannya tanpa membuat suasana menjadi canggung. “Aku tahu aku seksi, cantik. Tapi simpan tenagamu untuk nanti, sesuatu yang lebih menyenangkan sayang... Aku enggak ingin milikku tegang di sini,” bisik Kheeva dengan suara beratnya yang serak, membuat wanita itu merona seketika. Dua perempuan lain di depannya ikut mendesah kecewa, merasa gemas dengan pesona pria Lais berusia tiga puluh tahunan tersebut. Kheeva adalah definisi nyata dari pemuda yang hidup bebas. Dekat dengannya artinya harus paham jika ia memikat, liar, namun tidak tersentuh oleh komitmen. “Kamu terlihat bosan? Mau pergi sekarang dan membuat privat party sendiri, Khev?” “Aku—“ Ia belum menjawab, kesenangan itu terinterupsi. Getaran kuat di saku celananya membuat Kheeva merengkuh ponselnya. Begitu layar menyala, nama ‘Mommy Vanya' tertera di sana. Sontak, binar liar di mata Kheeva meredup, digantikan oleh kepatuhannya sebagai seorang putra. Panggilan dari ibunya adalah satu-satunya hal yang tidak akan pernah ia abaikan, sebebas apa pun hidup yang ia jalani di luar rumah. “Tunggu di sini, aku harus mengangkat ini, Nona-nona,” ujar Kheeva setengah berteriak menembus bising musik. Ia terburu-buru melangkah membelah kerumunan manusia yang sedang bergoyang menikmati malam. Kheeva berjalan cepat menuju area yang cukup jauh, mencari sudut tenang agar suara lembut ibunya tidak tenggelam dalam riuh pesta. Namun, tepat saat sebuah hantaman keras mendera bahunya. Seseorang yang berjalan terburu-buru menabraknya dari depan. Ponsel di tangan Kheeva hampir saja meluncur bebas ke lantai jika refleksnya tidak cepat. “Hei, hati-hati—“ Kalimat bernada teguran itu menggantung begitu saja di udara. Kheeva terpaku. Amarah yang sempat meletup kecil di dadanya mendadak menguap tanpa bekas saat ia mendongak dan menatap sosok yang menabraknya. Di bawah temaram lampu sekitar, berdiri seorang wanita yang luar biasa cantik. Rambutnya tidak hitam pekat pun bukan yang pirang diwarnai, namun yang membuat napas Kheeva tertahan adalah sepasang netra matanya. Indah, begitu dalam, namun menyiratkan kilatan kepanikan dan rasa sakit yang ganjil. “Are you ok—“ Kheeva baru saja akan menarik sudut bibirnya untuk tersenyum, berniat menanyakan apakah wanita itu baik-baik saja, namun sebelum sepatah kata pun keluar, wanita itu sudah berbalik. Ia melangkah terburu-buru menjauh sembari memegangi kepalanya yang tampak pening, meninggalkan keharuman aroma manis yang samar di indra penciuman Kheeva. Kheeva mengerjap, memandangi punggung wanita itu, rambut panjang sepunggung yang bergerak-gerak halus, lalu sosoknya menghilang di antara keramaian malam, sebelum akhirnya teringat pada ponselnya yang masih bergetar. Ia berdeham, menekan tombol hijau, lalu menempelkan benda itu ke telinga. “Ya, Mommy? Maaf agak lama...” *** Setelah mendapat peringatan Mommy harus sudah di Jakarta lusa, untuk acara penting orang tuanya. Ia kembali ke meja bar. Namun, memutuskan untuk menyudahi malam yang perlahan menjenuhkan. Efek alkohol mulai membuat kepalanya sedikit berat. Ia memilih menuju Hotel Hutama tanpa ditemani salah satu wanita tadi, hotel bintang lima mewah yang masih berada dalam satu kawasan dengan beach club tersebut. Dibanding pulang ke resort keluarganya. Berjalan menyusuri lobi hotel yang megah, lalu ke meja resepsionis sambil menyebar senyum tampan yang memesona. “Mau check in... atas nama Kheeva Arva Lais.” Ucapnya, mengedipkan satu mata pada petugas yang cantik itu. Prosesnya mendapat prioritas cepat, “selamat beristirahat, silahkan.” Kheeva mengambil akses kartu kamarnya. Tepat di depan lorong lift, kejutan kedua malam itu terjadi. Seseorang kembali menabrak tubuh tegapnya dengan keras dari arah samping. Benturan itu membuat akses kartu di tangan Kheeva terlepas dan jatuh ke lantai marmer. “Kenapa orang-orang malam ini ceroboh sekali!” decaknya. “Ah, maaf! Maafkan saya,” ucap orang tersebut dengan suara gugup sambil terburu-buru memungut kartu itu dan menyerahkannya kembali ke tangan Kheeva. Kheeva, yang kepalanya sudah mulai dipengaruhi alkohol, hanya mengibaskan tangan acuh tak acuh. Ia menerima kartu itu tanpa menyadari bahwa nomor digital pada kartu tersebut telah ditukar dengan sangat rapi oleh orang asing tersebut. Tanpa rasa curiga sedikit pun, Kheeva melangkah masuk ke dalam lift yang terbuka, menempelkan kartu aksesnya dan otomatis membawanya menuju lantai empat belas. Begitu pintu lift berdenting terbuka di lantai tujuannya, ia berjalan menyusuri karpet tebal koridor yang sunyi. Langkah kakinya berhenti di depan kamar yang tertera pada kartu barunya. Kamar 814. Ia menempelkan kartu. Lampu indikator berkedip hijau, diikuti bunyi klik tanda kunci terbuka. Kheeva mendorong pintu kayu berat itu, melangkah masuk ke dalam ruangan yang sudah terang. “Hm, ganjil sekali.” Gumamnya. Ia baru saja mengambil satu langkah dan bersiap membungkuk untuk membuka sepatunya, saat matanya menangkap sesuatu yang tidak biasa di lantai marmer tepat depan pintu. Sepasang heels dengan sol merah menyala yang sangat seksi tergeletak begitu saja. Tidak tertata rapi, jelas terburu seseorang melepaskannya. Kheeva menegakkan tubuh, mengernyitkan alisnya yang tebal. Ia melangkah lebih dalam ke arah tempat tidur, dan matanya kembali menangkap jejak pakaian yang berserakan. Sehelai gaun malam yang mewah, disusul oleh sepotong celana dalam renda hitam yang sangat provokatif di atas karpet. Kheeva memungut potongan kain minim itu, lalu tawa ringannya pecah di keheningan kamar. “Ada penyusup nakal yang disiapkan untuk menyambutku hm?” gumamnya berbisik pada diri sendiri. Sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan senyum geli yang masih tersisa, Kheeva melempar kain renda itu kembali ke sofa. Namun, belum sempat ia melangkah menuju kamar mandi, sebuah pergerakan cepat muncul begitu saja. Sebelum rasionalnya yang lambat bisa mencerna situasi, sebuah tangan dengan cengkeraman yang tak terduga kuat menarik kerah kemejanya. Tubuh tegap Kheeva didorong ke belakang, “akh! Sialan!“ hingga punggungnya menghantam dinding wallpaper dengan keras. Kheeva terdiam seketika. Napasnya tertahan. Menelan kembali umpatannya. Di depannya, dalam jarak yang nyaris memangkas udara, berdiri wanita yang sama dengan yang menabraknya di beach club tadi. Namun kali ini, dengan penampilan yang membuat Kheeva melongo. Kulitnya terasa panas saat menyentuh d**a Kheeva, dan sepasang netra mata yang indah itu kini menatapnya lekat-lekat dengan tatapan gairah yang liar, dan perempuan itu tanpa sehelai kain pun. Kheeva terpaku, terkunci oleh ingatan akan mata indah itu. Sebelum bibirnya sempat terbuka untuk menanyakan bagaimana wanita itu bisa berada di kamarnya, atau siapa yang telah menjebaknya hingga seperti ini, wanita itu mendongak. Jemarinya mencengkeram rahang tegas Kheeva, dan dalam satu sentakan yang dipenuhi desakan insting murni, wanita itu membungkam bibir Kheeva dengan sebuah ciuman yang dalam dan menuntut. Sentuhan bibir yang panas, aroma tubuh yang memabukkan, serta... "Eugh, uhm..." erangan halus yang lolos dari tenggorokan wanita itu seketika menghancurkan seluruh sisa rasional seorang Kheeva. “Tenang, manisku... jangan terburu-buru. Katakan siapa yang mengirimkan dirimu sebagai hadiahku hm?” bisiknya ditelinga. Tangan Kheeva mencengkeram pinggangnya yang ramping tapi lekukannya sempurna. Dadanya membusung bulat dan padat. Saat tatapan gelisah sekaligus gairah itu berhadapan lagi dengannya. Kheeva berdecak, “persetan siapa pun yang mengirimmu, aku hanya ingin menikmati hadiahku malam ini!” Dalam hitungan detik, Kheeva langsung mengangkat tubuh wanita itu. Menciumnya, dan menidurkannya di tengah-tengah ranjang hotel yang dingin,terdiam terpaku menatap kecantikan dan kemolekan tubuhnya sambil melepas pakaiannya, "awesome, sangat cantik! Aku suka bentuk dadamu." "Please, berhenti hanya menatapku. Touch me right now!" Namun wanita itu terlihat gelisah, tidak sabar sekali hingga ia menarik Kheeva langsung untuk kembali menyentuhnya. Kheeva tertawa renyah, “Show me, Darl.. aku suka yang menantang sepertimu, nikmati malam yang panjang.” Kakinya bahkan langsung melingkari tubuh Kheeva dan segera ranjang mereka menghangat oleh kegiatan yang sangat intim.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD