Ruang 517 masih bergeming, hanya sesekali terdengar bunyi kipas yang menahan panas perangkat, dan dengung AC yang tak pernah cukup dingin. Jam di dinding menunjukkan angka yang biasanya membuat mahasiswa lain sudah pulang atau tidur, tapi bagi Artbeat, angka itu baru saja memasuki zona lembur.
Aruby, gadis cantik berusia 20 tahun itu menatap layar seperti orang menatap ujung jurang. Tata letak yang tadi dipertahankan berjam-jam tak kunjung mengeluarkan napas yang ia mau — ritme, mood, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan sekadar palet warna. Tangan kanannya mengusap pelipis sampai agak pegal. Kopi sachet yang sempat menghibur sudah jadi ampas dingin di mug plastik di samping laptop.
Rambut panjangnya yang tadi ia ikat, kini bahkan dia biarkan tergerai, bersandar di kemeja denimnya yang sudah tidak serapi tadi pagi. Androk abu selutut yang dipakainya pun terlihat kusut di beberapa sisi.
“Gue nggak ngerti kenapa lo ngotot dengan magenta itu,” gumamnya pada diri sendiri, setengah marah, setengah menyesal. Ia ingin membuktikan bahwa desainnya bisa berani. Tapi ketika hatinya sendiri berantakan, ide yang paling berani pun terasa hambar dan percuma.
Diantara semua kekacauan itu, langkah di ambang pintu memecah kesunyian. “Gue kira lo udah pulang,” ujar Kairav datar. Ia berjalan memasuki ruangan.
“Belum,” jawab Aruby tanpa menoleh lama-lama. “Masih revisi warna. Takut ‘visual-nya nggak selamat’.”
Nada sarkasmenya tipis tapi cukup untuk bikin Kairav melirik sekilas. Ada senyum kecil di ujung bibirnya — bukan mengejek, tapi seperti menahan geli.
“Gue nggak nyuruh lo ngerjain malam-malam juga.”
Kairav datang tanpa banyak basa-basi. Ia meletakkan tas, melipat lengan kemeja hingga ke sikut, lalu berdiri di belakang Aruby seperti bayangan yang tiba-tiba terasa hidup.
“Warnanya udah lo ubah?” tanyanya, matanya sudah tertuju pada layar.
Aruby menggeser kursinya, sedikit memberi ruang — agar kedekatan itu terasa sewajar mungkin — tapi jelas tidak terhindarkan. Bahu mereka nyaris bersentuhan. Aroma aftershave yang tipis, campuran citrus dan bau bersih, menyeruak. Aruby merasakan sesuatu yang bukan hanya gugup menggerayangi perutnya. Seperti getar lain yang membuatnya tidak nyaman.
Kairav menunduk, menatap layout, lalu terdiam sebentar seakan mengunci pikirannya.
“Lebih aman. Tapi lo jelas kehilangan nyawa,” ucapnya pelan, seperti memberi komentar pada sebuah lukisan yang kekurangan kontras.
“Nyawa?” Aruby menatap Kairav setengah menyindir, setengah kesal. “Gue cuma pengen beda, tapi lo selalu mau aman dari SMA.”
Kairav menghela napas, lalu tanpa peringatan menarik satu kursi dari samping meja dan menempatkannya bersisian dengan Aruby. Ia memutar kursi, membuat matanya bertatapan langsung dengan pemilik kursi tersebut. Gerakannya biasa—seorang koordinator yang mengatur ruang kerja—tapi efeknya jelas tak biasa. Ruang di antara mereka seolah tiba-tiba mengecil seperti lingkaran kecil yang terasa berbeda.
Apalagi di ruangan itu hanya ada mereka berdua.
“Lo kenapa, By?” Nada itu bukan suara yang ia dengar di ruang rapat, bukan juga nada yang biasanya dipakai untuk mengkritik desain. Itu nada yang menanyakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar tata letak panggung.
“Biasanya lo nggak begini. Lo kan rapi, detail. Sekarang layout lo berantakan. Jelas bukan Aruby yang gue kenal.”
Aruby menatap Kairav yang terlihat kecewa dengan hasil kerjanya. Selama bekerja dengan seniornya itu, ini memang kali pertama pekerjaannya terasa sangat fatal. Wajar jika Kairav kesal dan kecewa.
Karena Aruby sendiri mengakui, apa yang dikerjakan dalam keadaan tidak baik-baik saja, hasilnya pasti tidak akan sempurna.
Tapi, tunggu.
Mungkin, ini momen yang tepat untuk Aruby menyampaikan apa yang beberapa hari belakangan ini terus ia pikirkan dan pertimbangkan?
Ini bukan soal pekerjaan, dunia kampus, atau apa pun. Ini tentang Aruby yang terus memikirkan Kairav. Ia sudah mencoba mencari opsi lain, namun lagi-lagi bayangan Kairav selalu muncul seakan pria itu satu-satunya keyakinan di antara banyaknya pilihan.
Benar, tidak ada yang lebih pas daripada Kairav. Lihat bibir yang kemerahan itu—seksi, menggoda, dan sudah pasti berpengalaman.
Sangat cocok dengan kriteria yang Aruby inginkan.
Hingga...
“Kai?” panggilnya. Pria itu menaikkan satu alisnya.
“Ajarin gue ciuman dong.”
Perkataan itu lolos begitu saja dari bibir mungil Aruby. Sorot matanya yang serius menyiratkan kesadaran, sesuatu yang menggebu dan kegilaan.
Kairav speechless, sudah pasti. Tapi bukan Kairav Mahasagara namanya jika tidak bisa merasakan alarm berbahaya itu dan segera mengendalikan keadaan.
“Apasih, By? Ngaco lo, ah.” Ia dengan cepat mengambil keputusan. “Kita lanjut besok, deh. Lo kayaknya kecapean dan butuh—”
“Gue ngeliat Edo,” kata Aruby cepat, memotong perkataan Kairav. “Di parkiran. Dia lagi ciuman sama Imelda. Dan itu bukan sekali. Gue beberapa kali juga mergokin mereka kissing di kelas.”
Kata-kata itu jatuh seperti kertas yang mendarat di lantai. Tidak terlalu menimbulkan suara, tapi cukup untuk membuat Kairav mengerti. Untuk beberapa detik, keheningan begitu terasa. Hanya detik jarum jam di dinding yang menjadi satu-satunya suara.
Kairav menegang. Wajahnya berubah — bukan marah langsung, tapi ada garis amarah yang menunggu untuk meletup.
“Gue udah bilang berkali-kali kan kalau Edo itu b******k?” Suaranya menipis tapi tajam. Ada rasa kesal di situ, bukan karena ia membenci Edo, tetapi karena kekeraskepalaan Aruby yang terus bertahan dengan hubungannya di saat orang-orang di sekelilingnya sudah sangat sering memperingatkan.
Aruby menatap lurus. Matanya basah, tapi ia tahan supaya tidak pecah. “Gue sadar kok, Kai. Tapi ya gue nggak bisa mundur gitu aja dong. Gue pengen ngebuktiin sama dia biar pas gue mutusin dia nanti, dia sadar kalau gue nggak sepolos itu.”
Kairav memandangnya lama, membaca setiap kata seperti orang yang menilai risiko pada rundown acara. Ia tahu arti gengsi, tahu pula bagaimana seseorang bisa menggunakan kebanggaan sebagai perisai. Ia juga tahu luka berkepanjangan tampak sepele dari luar, tapi dalamnya, bagi yang merasakan, seperti jurang.
Diam beberapa detik, lalu Kairav menggeleng pelan. “By, lo bisa—”
“Nggak bisa!” potong Aruby lagi-lagi. Ia menatap Kairav putus asa. “Nih ya, kalau gue cuma mutusin dia karena ketahuan selingkuh sampe sering kissing sama si jalang murahan itu, udah pasti gue kalah total dong, Kai. Lo tuh?!” Ia mencebik kesal sambil menyenderkan tubuhnya pada kursi, melipat kedua tangannya di atas perut.
“Terus ya, kalau gue nekat cium dia nih tanpa punya pengalaman, gue pasti bakal dibilang amatir. Yakali. Yang paling parah, kalau ciuman gue nggak enak, gimana?” Aruby melotot.
Dan Kairav refleks tertawa. “By?” katanya.
“Lo serius? Maksud gue, cewek tuh emang sebegitunya banget, ya?”
Jelas Aruby memutar bola mata. “Menurut lo?”
“Menurut gue mending kita balik sekarang, deh.” Kairav bangkit dari kursinya. “Makin malem, obrolan lo makin absurd, By. Ngeri gue.”
Saat Kairav hendak melangkah, Aruby dengan sigap menahan lengannya. Ia memakai satu-satunya jurus terakhir yang dimilikinya. Memohon dengan wajah memelas.
“Kai, please. Cuma lo yang bisa bantu gue.”
“Gue udah nyiapin diri banget dan ngelawan rasa malu buat minta tolong sama lo, masa gue ditolak mentah-mentah gini, sih?”
“By, lo tahu permintaan lo tuh—”
“Gila. Gue tahu. Tapi please bantu gue. Cuma lo yang bisa nolongin gue, Kai...” rengeknya, benar-benar sangat putus asa.
Kairav menatapnya lekat, lalu menghela napas kasar. Ia kembali duduk, membuat genggaman Aruby di tangannya pun refleks terlepas.
“By, lo tahu gue, kan? Gimana reputasi gue?” Tatapannya masih lekat menatap Aruby. Namun, cewek itu hanya menyunggingkan senyum seolah tidak terpengaruh sama sekali.
“Tahu. Tau banget malah. Justru karena itu gue milih lo jadi satu-satunya kandidat yang bisa bantu gue.” Senyum Aruby semakin lebar.
Sekarang, gantian Kairav yang terlihat putus asa. Ia memajukan posisi duduknya, kedua lengannya bertumpu pada lutut. Kesepuluh jarinya saling bertaut.
“Kalau gue ajarin lo ciuman, untungnya buat gue apa? Dan kenapa gue? Kenapa bukan Baskara, Garvi, atau Sanjaya, misalnya?”
Aruby berdecak sebal. “Gini ya, Mas Kairav Mahasagara yang menyebalkan... Kalau gue minta tolong sama Baskara, baru cerita aja nih, dia pasti udah bisa nebak dan ujungnya bakal ngasih gue kuliah panjang kali lebar. Jadi no. He’s not a good option,” tuturnya.
“Terus Garvi? Ih, yang ada gue pasti bakal diketawain dan dijadiin bahan ejekan dia di mana-mana. Terus bakal selalu diungkit alih-alih bantuin gue. Selain itu gue yakin banget kalau dia belum pernah ciuman.”
Kairav refleks tertawa. “Tahu dari mana? Kedengeran sama orangnya, kesinggung tuh dia.”
“Loh? Bener. Gimana mau ciuman kalau dari SMA aja dia nggak punya pacar.” Aruby membela diri.
“Jadi, setelah gue pikirin ini berhari-hari, lo—lo orang yang paling cocok dan berpengalaman yang bisa nolong gue. Lo tahu teknik, strategi, dan yang paling utama, lo tahu timing. Lagipula, gue nggak mau cerita ini ke orang lain, ya. Malu-maluin tahu nggak, sih.”
“Oke... terus keuntungannya buat gue?”
Kini giliran Aruby yang mengubah posisi duduknya. Wajahnya terlihat sangat serius.
“Gue ... bakal kabulin satu permintaan lo, apa pun itu.”
Kairav sontak menaikkan satu alis. “Menarik,” komentarnya singkat.
“Ya udah, jadi gimana? Bisa, kan? Bantuin gue?”
Lekat, ia pandangi mata cokelat terang itu. Ia tahu gadis di hadapannya kini hanya sedang dilanda kekecewaan, dibalut amarah, dan diselimuti rasa ingin membalas. Ambisinya ini hanya sementara dan pasti secepatnya akan lupa, atau setidaknya menyadari betapa konyolnya ide tersebut. Maka, demi memenuhi egonya yang sedang terluka itu, Kairav mengabulkannya. Ia yakin, Aruby tidak akan serius dengan kegilaannya itu.
“Oke. Syaratnya tiga. Satu—semua latihan cuma di Ruang 517. Dua—kita sepakat, nggak boleh ada perasaan. Tiga—lo berhenti kalau lo udah ‘pro’. Gimana?”
“Deal!” Senyum Aruby mengembang. Ia bahkan mengulurkan tangan tanpa banyak berpikir ulang.
Sepersekian detik, Kairav membeku seolah terjebak dalam permainannya sendiri. Namun, ia masih berpikir positif, sehingga ikut mengulurkan lengan. Keduanya berjabat tangan sepersekian detik.
“Sekarang, lanjutin,” katanya melirik ke layar laptop. “Gue tunggu di sini sampai kerjaan lo kelar.”
Terdengar seperti kalimat lain dari ‘gue temenin sampe kerjaan lo kelar’, namun saking senangnya, Aruby tidak berpikir sampai ke sana.
Ia memutar kursinya kembali menghadap laptop, menyalakan layarnya yang sempat redup, lalu kembali bekerja. Membiarkan Kairav duduk tak jauh dari sisinya — memandorinya.
Atau menemaninya, mungkin?