Dia Keponakanku, Lepaskan Dia!

1161 Words

"Dia akan datang sekarang," bisik Hanzel rendah, nyaris tak terdengar di balik kerah tinggi tuksedonya. Tangannya masih melingkar di pinggang Zee, memberikan kehangatan yang kontras dengan dinginnya niat di hati mereka, "Ingat apa yang aku ajarkan, Zee. Jadilah racun yang dia telan dengan sukarela." Zee mengangguk kecil. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena adrenalin yang membakar pembuluh darahnya. "Aku siap, Paman." Benar saja, Ridwan melangkah maju. Ia mengabaikan Amel yang masih sibuk mengelap gaunnya dengan wajah cemberut di kejauhan. Ridwan membungkuk sopan di hadapan Hanzel, meski matanya tetap tertuju pada Zee. "Tuan Hanzel, jika Anda tidak keberatan, bolehkah saya meminta satu tarian dengan rekan Anda yang mempesona ini?" tanya Ridwan. Suaranya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD