Dua hari berlalu tanpa satu pun pesan dari Julian. Milea hampir saja mengira janji liburan itu hanyalah halusinasi akibat alkohol malam itu, atau mungkin Julian kembali dihukum karena kecerobohannya. Dengan perasaan dongkol, Milea melangkah keluar dari gerbang kampus, mencoba fokus pada tumpukan jurnal di tangannya. Namun, langkahnya terhenti ketika matanya yang samar-samar menangkap sosok pria yang bersandar dengan jaket bomber gelap dan kacamata hitam Kapten-nya. "Kau tidak punya ponsel, Kapten?" sindir Milea sambil mendekat, mencoba bersembunyi binar bahagia di matanya. Julian melepas kacamata hitamnya, sudut bibirnya terangkat tipis. "Aku bilang jam enam pagi, tapi Sersan Ardi menahan laporanku lebih lama. Jadi, aku menjemputmu di sini.” “Sedikit terlambat dan masih aku maklumi. A

