Foto itu kembali diselipkan ke dalam dompet dengan cepat kemudian ia meraih ponsel, perasaannya tak enak karena Milea menghubunginya selarut ini. Wanita itu tidak akan mengirimkan pesan jika tidak membutuhkan sesuatu yang penting.
Julian membuka pesan yang terkirim, tetapi ia malah dibuat syok saat melihat foto istrinya mengobrol dengan pria dengan meja yang penuh dengan minuman. Raut wajah Julian berubah tak senang, memencet tombol telepon menghubungi istrinya itu.
“Hal—”
“Halo, suaminya Milea? Ini aku Sisi sahabatnya, Milea sepertinya sudah mabuk dan tidak mau aku ajak pulang!”
“Mabuk?" Julian semakin kaget, kakinya seketika turun dari ranjang dengan tangan yang menggenggam ponsel begitu kuat.
“Ya, disini banyak orang aku. Halo ... Halo ...” Panggilan itu tiba-tiba terputus, meninggalkan kekhwatiran yang mencuat dalam diri Julian.
“Halo, kalian dimana?" tanya Julian tetapi nihil hasilnya. “Oh s**t!” umpatnya emosi sendiri.
Tak berpikir panjang lagi Julian segera mengambil mantel panjang miliknya kemudian pergi meninggalkan kamar. Ia benar-benar cemas, Milea masih orang baru di sini. Wanita itu juga sangat polos, ia takut jika ada orang yang berniat jahat.
Julian mendesah pelan, iya Milea memang polos tetapi wanita itu sangat keras kepala. Ia yakin Milea pergi ke Night Festival sendiri karena ia tidak memenuhi permintaannya, tapi kenapa harus mabuk?
“Dia memang sangat ceroboh!” desisnya begitu jengkel.
*
Di seberang sana Milea juga terkaget-kaget dengan aksi yang dilakukan Sisi, antara setuju tapi juga takut dengan amukan Julian karena ia foto bersama pria asing.
“Sudah beres, tunggu setengah jam lagi. Aku yakin Julian-mu pasti datang," ucap Sisi menepuk dadanya bangga.
“Gimana nanti kalau dia marah?" Milea masih was-was, teringat omelan pria itu pagi tadi.
“Marah? Ya marahin balik, bukankah konsepnya harus seperti itu?” kata Sisi mengerlingkan sebelah mata menggoda. “Aku akan pergi sebentar lagi, ingat ya! Lakukan rencana kita dengan baik, kau berhak karena kau istrinya," lanjutnya menekankan agar Milea semangat menjalankan misinya.
Milea berdecak pelan tanpa membantah, ia memang ragu dengan bisikan-bisikan yang diberikan Sisi tetapi ia juga sudah bosan menjalani rumah tangga yang isinya hanya kecanggungan. Mungkin terdengar baru setahun, lalu ingin berapa lama lagi hidup dalam rumah tangga seperti ini?
“Mungkin tidak ada salahnya aku mencoba," lirih Milea menyemangati dirinya sendiri.
Setengah jam telah berlalu, udara semakin dingin seiring jam yang bergerak naik. Orang-orang masih berlalu lalang menikmati waktu melihat perayaan cahaya yang begitu spektakuler. Saat natal di sana benar-benar meriah, walaupun sekarang musim dingin namun tak menyurutkan semangat warga untuk menghabiskan waktu.
“Wah, itu bagus sekali!” Seruan itu terdengar saat atraksi drone dilakukan. Warga segera berkumpul dan menyalakan ponsel untuk merekam.
Milea melihat ke atas, ikut takjub dengan mahakarya yang dibuat oleh pemerintah di sana. Saat awal datang ke sana, ia begitu kagum dengan buatan manusia ini. Waktu itu ia masih berduka setelah kedua orang tuanya tiada, Julian yang mengajaknya ke sana sebagai penghiburan.
“Disini kalau musim dingin suhunya bisa turun sampai 5-10 derajat, kau harus memakai baju hangat.”
Sepintas kisah itu hadir, mengingatkan Milea dengan perhatian yang Julian berikan. Pria itu mengenggam tangannya serta menggosok-gosok karena begitu dingin.
Bukankah itu sangat manis? Sayang sekali Milea kadang salah mengartikan kebaikan Julian. Pria itu memang hangat, mungkin tidak ke dirinya saja besikap manis seperti itu.
“Memang b******k!" maki Milea kesal sendiri tiba-tiba, ia meraih bir yang masih tersisa hendak diminum.
Namun, sebelum bir itu sampai di bibirnya ada seseorang yang meraih tangannya dari belakang. Ia reflek mendongak hingga bersitatap dengan wajah hangat Julian. Bibir Milea tertarik sedikit, antara ingin tersenyum dan juga menahan tangis. Entah, kenapa ia terharu Julian datang? Artinya pria itu masih peduli 'kan?
“Kenapa minum di cuaca seperti ini?” Julian bertanya lembut, bahunya yang sejak tadi tegang seketika mengendur. Dalam perjalanan pun tidak tenang hingga mengendarai mobil pun ia begitu cepat.
Milea melengos cemberut berusaha mengambil bir itu lagi. “Bosan, suami tidak peduli juga," ucapnya kemudian menegak bir itu lagi.
Julian membasahi bibirnya merasa tersindir dengan ucapan wanita itu, ia segera duduk dan meraih bir yang dipegang Milea.
“Ah berikan minumannya, aku masih mau minum,” rengeknya meraih bir itu dari Julian.
“Tidak." Julian berkata tegas, pun tatapan matanya yang sangat tajam.
Wajah Milea semakin cemberut, mencoba merayu dengan memasang wajah sendu tetapi jelas tidak akan mempan. Ia mendesah jengkel, melipat tangan di depan d**a menunjukkan terang-terangan jika ia kesal.
Julian diam sesaat, tak tahu sedang memikirkan apa namun ia melihat orang-orang juga masih sibuk menikmati pertunjukan. Tetapi ia ingat, melirik ke arah Milea yang ikut diam. Ia menarik napas panjang, melepaskan mantel tebal yang dikenakan kemudian meletakan di bahu Milea.
“Udaranya semakin dingin, masih mau di sini?”
Milea melirik mantel yang diberikan Julian kemudian menatapnya, benar 'kan? Julian itu perhatian, siapa yang tidak baper diperlakukan seperti ini. Tetapi Milea juga tidak bisa menebak bagaimana sebenarnya perasaan pria ini.
“Aku sedang tidak mau berjalan, tali sepatuku lepas," kata Milea tiba-tiba.
Julian mengerutkan kening, menundukkan pandangannya melihat tali sepatu Milea yang memang lepas. Ia segera duduk berjongkok, meraih kaki wanita itu dengan lembut lalu mengikat talinya.
Milea menundukkan pandangan, memandang tak jemu pada garis wajah tegas Julian. Tiba-tiba ia benci sekali dengan perasaannya, lagi-lagi tumbuh harapan. Milea tak ingin menahan dirinya malam ini, ia menundukkan wajahnya lebih dalam hingga bibir itu nyaris menyentuh rambut Julian.
Di saat yang sama, Julian mengangkat wajah hingga bibir keduanya hampir bersentuhan. Hembusan napas mereka beradu, matanya bersitatap begitu dekat. Milea begitu kaget dengan kedekatan ini, ia refleks mengenggam rok yang dikenakan kuat-kuat sebagai pegangan agar tidak jatuh.
Julian juga begitu, ia baru sadar Milea memiliki bulu mata yang sangat lentik. Matanya bulat hitam dengan bibir yang kecil.
Sangat cantik.
Milea segera tersadar lalu menjauhkan wajahnya, ia merapikan rambut menutupi salah tingkah dan merapikan mantel yang berikan Julian.
“Sepertinya ... aku sudah mabuk,” katanya pelan sekali.
Julian menipiskan bibir seraya mengangguk, ia segera bangkit lalu meraih mantel miliknya. Bukan untuk diminta lagi, namun membantu agar Milea memakainya dengan benar. Milea hanya diam dengan mata yang terus terpaku, begitu usai ia segera mengulurkan tangan.
Julian paham maksudnya, tak tahu kenapa ia tiba-tiba tersenyum kemudian memutar tubuhnya membelakangi Milea.
“Naik, aku akan menggendongmu,” ucapnya, suaranya lembut tapi tegas.
Milea melompat dan langsung ditangkap oleh Julian, dieratkannya pelukan pada leher pria itu seraya menundukkan wajah di antara leher suaminya.
Julian merasakan jantungnya berdetak kencang, tubuh Milea yang ringan dan hangat membuat ia sedikit gantungan. Ia menggenggam Milea erat-erat, mencoba menahan perasaan yang tak bisa dijelaskan. Aku harus tenang, aku harus tenang, ia mengulang-ulang dalam hati.
Tapi, Milea yang nyaman di punggungnya membuat Julian lupa dengan niatnya untuk tenang. Ia membawa wanita itu membelah kerumunan, tanpa obrolan apa pun namun menciptakan sesuatu yang tidak terduga. Dia istriku, tapi kenapa aku merasa seperti ini?
“Bolehkah aku menciummu?”
Bersambung~