Chapter 26 “Lo nembak gue?” Jantung Luna sudah menggila, tapi Ryuu malah terlihat sangat tenang. Wajah Luna sudah memerah dan pipinya terasa sangat panas. Astaga, Luna malu sekali. Benar-benar malu. Di mana letak otaknya? Luna menelan ludah. “Lun—” “Iya, gue nembak lo.” Ryuu hembuskan napas tenang. Ia kemudian beranjak dari tempat duduknya. Luna pikir Ryuu mau pergi meninggalkannya. Ya, lagipula dia siapa berani meminta Ryuu menjadi pacar. Bagaimana mungkin dia berharap Ryuu mau menerimanya. Luna langsung menahan napas saat tiba-tiba Ryuu berjongkok di depannya. Mata mereka bertemu di satu titik. Ryuu menghela napas tiba-tiba. “Gue malu, Lun, lo nembak gue gini.” Ryuu menjeda. “Harusnya gue yang minta lo jadi cewek gue.” “Hah?” Luna tak mengerti. Otaknya masih memprosess.

