"Ini merk baru?" Erika mengajukan pertanyaan kepada asistennya. Wanita itu tengah memegang sebuah makeup pallet yang berbentuk buku.
"Iya, merk baru."
"Bedanya sama yang merk luar apa?" Ia membuka lembaran-lembaran tersebut satu persatu. Seingatnya, di fyp salah satu aplikasi hiburan yang sering ia gunakan, pernah lewat bentuk makeup seperti ini. Namun, ia sama sekali tak tertarik untuk membeli karena produk tersebut bukan buatan lokal. Sedangkan dirinya sejak awal menjadi seleb, memiliki branding pencinta merk lokal.
"Udah BPOM. Eyeshadow-nya juga warna-warni. Lihat, ada biru, hijau, sama warna lain yang nggak monoton. Cocok buat yang mau makeup karakter. Nilai plusnya ya, terjamin halal."
Erika mengangguk. Ia memperhatikan warna-warna yang ada di sana, memang bervariasi.
Sebagai seorang publik figur, ia tak mau menggunakan sesuatu dan mempromosikannya hanya karena lucu atau menarik saja. Ia tentu harus berhati-hati memilih. Tak sekali dua kali wajahnya kena imbas saat mencoba produk yang ternyata abal-abal dan meneriakkan jargon berisi kebohongan semata. Karenanya, selain dikenal sebagai seleb penggemar produk lokal, ia juga dikenal sebagai tukang review jujur.
"Ini termasuk produk spesial. Mereka minta kamu tes dulu, dan minta pendapatmu sebelum hari peluncuran."
Ucapan dari asistennya membuat Erika menautkan alis. "Maksudnya ini belum keluar?"
Asistennya mengangguk.
Ya, begitulah kehidupan seorang Erika Tanubrata. Kejadian bertahun-tahun lalu tak membuat sinar dari wanita itu redup. Justru ia malah semakin terang semenjak perceraian yang bahkan sama sekali tak diketahui publik. Wajar saja, pernikahannya dulu hanya diketahui oleh beberapa orang. Lagipula, dulu dia belum terlalu terkenal. Hanya sekadar konten kreator naik daun yang hanya dikenal di beberapa kelompok saja. Jadi kehidupannya tak terlalu dikulik, apalagi dia memang tak mempublikasikan kehidupan aslinya ke media.
"Mereka sepercaya itu?"
Lagi, asisten Erika yang bernama Gina itu menganggukkan kepala.
"Merek ini sudah dari dulu gencar ngajak kerja sama, kan? Tapi kamu nolak karena menurutmu nggak sreg."
Erika tidak terlalu ingat, tapi mungkin benar yang dikatakan Gina. Ia memang memasang kriteria sesuatu yang akan ia review. Unik, aman, jujur, dan apapun hasil dari Erika pihak barang akan menerima dengan lapang d**a.
"Ya sudah. Buatkan jadwal untuk take video review barang ini!" ujarnya memutuskan.
Erika menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. Menjadi konten kreator hasilnya memang menjanjikan. Di luar tampak enak, tapi jujur saja, menjalaninya teramat melelahkan. Belum lagi ia harus berselisih paham dengan brand-brand yang hasil review-nya berbeda dengan klaim yang mereka gembar-gemborkan. Padahal sudah ada perjanjian di awal, ia tak akan mempublikasikan sesuatu yang hasilnya tak sama dengan iklan.
"Besok waktumu lumayan kosong, kok. Hanya ada jadwal live satu jam sama produk Nad's Colection di jam 10 pagi, selanjutnya free."
"Oke, besok."
***
"Apa? Rencana peluncuran produk ditunda?" Kara menghela napas tak habis pikir. Padahal sudah terjadwal sejak lama, kenapa tiba-tiba kabar ini baru sampai kepadanya?
"Iya, Pak."
"Siapa yang seenaknya memutuskan hal itu tanpa konfirmasi ke saya? Hah?" Produk tak bermasalah, BPOM sudah selesai diurus, label halal pun sudah didapatkan. Jadi, kenapa harus ditunda?
"Bu Eva, Pak. Waktu itu Bapak lagi ke Bali, Bu Eva tiba-tiba minta rapat dadakan sama tim iklan dan pemasaran."
Mendengar nama ibunya disebut, Kara hanya bisa menghela napas kasar. Meskipun perusahaan ini dia yang mengurus, tetapi kekuasaan tertinggi ada pada wanita itu. Belum lagi ibunyalah yang menangani produk ini, mulai dari komposisi sampai detail bentuknya.
"Alasan Bu Eva apa?"
"Model iklan yang diincar belum konfirmasi sampai sekarang."
Lagi, mata Kara melotot. "Kalian nggak bisa pakai model lain?"
"Maaf, Pak. Kan sejak awal Bu Eva sudah bilang kalau modelnya dia sendiri yang tentukan."
Entah model mana yang tak tahu aturan itu. Bisa-bisanya ia membuat sebuah perusahaan sampai menunda waktu peluncuran. Sepertinya Kara harus menemui mamanya untuk bertanya langsung masalah ini, sekalian minta ganti model saja.
"Buatkan daftar rekomendasi seleb atau artis, yang biasa kita ajak kerja sama, kirim ke email saya. Saya tunggu satu jam dari sekarang!" Kara tak ingin menunda lebih lama.
Rani, si menejer pemasaran itu segera mengangguk. "Baik, Pak!"
Ia berbalik, langkahnya dipercepat menuju divisi iklan. Sepanjang jalan ia mengelus dadanya yang berdetak lebih kencang karena takut kena semprot atasannya.
Di sisi lain, Kara mengambil ponselnya. Ia mencari nomor sang mama, lalu menekan panggilan. Di deringan ketiga, barulah wanita itu menjawab.
"Ada apa, Kara?"
"Ma, kok peluncuran produk make-up book ditunda?" Kara langsung menembak sasaran.
"Oh, itu. Modelnya baru tadi pagi ngirim email balasan. Video review-nya baru ready lusa. Jadi kita tunggu review dia dulu sebelum peluncuran."
Kara ternganga. "Review?" Bukannya mereka butuh model buat photo shoot dan live di hari pertama peluncuran? Kenapa malah review?
"Iya. Kamu tenang aja. Meskipun ditunda beberapa hari, mama jamin kita nggak bakal rugi."
"Terus untuk photo shoot dan saat peluncuran nanti gimana?"
"Makanya doain mama, semoga bisa sekalian gaet dia. Kalau perlu jadi BA produk kita, deh!"
Kara memijat pelipisnya. "Ma, ini terlalu jauh. Maksud aku untuk satu produk ini dulu kita fokusin."
"Issh, kamu diam aja. Mama kan sudah selesai rapat juga sama tim. Pokoknya kamu tinggal duduk diam, biarin kali ini mama yang tangani. Kamu cukup berdoa aja semoga rencana mama bisa di-ACC."
Entah artis atau seleb seperti apa yang diincar mamanya kali ini. Bahkan sampai kepikiran buat jadiin BA.
"Aku tunggu kepastiannya, Ma. Kita nggak mungkin nunda terlalu lama." Masalahnya produk tersebut sudah banyak ditanyakan oleh buyer sejak dispill beberapa bulan kemarin kalau perusahaan mereka akan mengeluarkan sesuatu yang berbeda. Jadi, Kara yakin tanpa model yang dirahasiakan mamanya itu, penjualan mereka bakal tetap meledak di hari pertama.
"Iya. Tenang aja."
Bagaimana bisa ia tenang, sedangkan email saja baru dibalas pagi tadi. Namun, Kara tak mampu untuk angkat bicara lagi. Sang mama sudah punya keputusan final. Salah Kara juga yang dari awal menyerahkan tanggung jawab produk ini ke mamanya sampai disalahgunakan wanita paruh baya itu. Buktinya, Kara bahkan tak diajak rapat final dalam hal peluncuran. Bahkan kalau tadi tak bertanya kepada Rani, ia tetap berpikir peluncuran produk akan dilakukan Minggu depan.
Selesai menghubungi mamanya, Kara duduk di kursi kebesarannya. Pria itu menyandarkan tubuh, lalu memijit pelipis entah yang ke berapa kali. Tangannya kembali mengambil ponsel, mencari nomor sang asisten. "Danu, saya butuh teh matcha. Dalam 10 menit harus sudah berada di depan saya!" Kara bahkan tak peduli jika pria itu di depan sana tengah memakinya dalam hati.